tirto.id - Kalau melongok berbagai forum internasional terkait energi, kita semua tahu bahwa target net zero emission pada 2050 dan Indonesia pada 2060 adalah sesuatu yang dikejar secara serius sekaligus ambisius. Banyak negara, termasuk Indonesia, sudah menerapkan target ini ke dalam berbagai kebijakan. Ada yang bergerak cepat karena segala infrastruktur dan suprastruktur penunjang sudah tersedia. Ada pula yang perlahan karena begitu banyak hal baru yang harus diadaptasikan.
Di tengah gerakan menuju net zero emission ini, Indonesia sebagai salah satu penghasil nikel terbesar di dunia berada di simpang jalan krusial. Di satu sisi, nikel sebuah mineral vital bagi tujuan nol emisi global sekaligus sumber daya energi terbarukan adalah bahan baku utama baterai energi terbarukan.
Di sisi lain, proses ekstraksi dan pengolahannya menghadirkan tantangan tersendiri, terutama dalam upaya menekan intensitas energi dan emisi dari kegiatan produksi.
Dinamika itu kini menjadi tantangan nyata bagi industri nikel nasional, termasuk bagi Harita Nickel. Perusahaan nikel terintegrasi ini menempatkan dekarbonisasi bukan sebagai proyek tambahan, melainkan bagian dari transformasi operasional jangka panjang.
Dalam konteks ini, pendekatan yang ditempuh Harita Nickel bertumpu pada prinsip continuous improvement: meningkatkan efisiensi proses, mengoptimalkan konsumsi energi, serta memperluas pemanfaatan sumber energi yang lebih rendah karbon.
Hal ini menjadi penting, baik bagi Harita Nickel maupun bagi standar tata kelola industri nikel Indonesia. Ini dikarenakan pasar global, investor, hingga standar keberlanjutan internasional kini tidak hanya menilai volume produksi, melainkan juga intensitas emisi per ton produk.
Artinya, industri nikel tidak cukup hanya menjadi enabler transisi energi. Industri ini juga dituntut berbenah dari dalam, yang berarti penambangan untuk energi bersih harus dilakukan dengan metode dan sistem yang bersih pula.
Metode Agar Lebih Bersih
Salah satu langkah paling konkret yang dilakukan Harita Nickel adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Proyek ini menjadi bagian dari peta jalan dekarbonisasi perusahaan.

Saat ini, PLTS sudah beroperasi di fasilitas PT Halmahera Persada Lygend (HPL), PT Obi Nickel Cobalt (ONC), dan di pabrik Nikel Sulfat. Selain itu, terdapat PLTS berkapasitas 20,96 MWp di area HJF (dalam tahap pembangunan, kapasitas terbesar fase pertama), serta 5,26 MWp di mess karyawan (tahap uji coba dan segera beroperasi).
Tonny Gultom, Direktur Health, Safety & Environment (HSE) Harita Nickel, menjelaskan skala tantangan investasi energi terbarukan di industri ekstraktif. Menurutnya, pembangunan PLTS memerlukan investasi sekitar USD1–1,5 juta per 1 MWp.
Apa yang digambarkan oleh Tonny mencerminkan realitas industri: bahwa peralihan dari energi fosil ke energi bersih demi menuju net zero emission membutuhkan biaya besar dan waktu. Namun, menurutnya, langkah ini merupakan sebuah keharusan.
Selain PLTS, perusahaan juga mengembangkan sistem waste heat recovery. Sistem ini memanfaatkan panas buangan dari proses produksi untuk diubah kembali menjadi energi, sehingga meningkatkan efisiensi termal dan menekan kebutuhan energi primer.
Pemanfaatan gasifikasi batubara juga menjadi bagian dari strategi optimasi energi. Meski tetap berbasis batubara, pendekatan ini dinilai lebih efisien dan mampu menekan intensitas emisi dibandingkan pembakaran konvensional. Dalam jangka pendek, langkah ini menjadi jembatan menuju sistem energi yang lebih bersih.
Di sisi bahan bakar, penggunaan biosolar dan bahan bakar nabati mulai diperluas. Armada kendaraan listrik di area operasional pun diperkenalkan untuk menekan konsumsi solar dalam aktivitas logistik internal.
Seluruh inisiatif tersebut diarahkan pada satu tujuan: menurunkan intensitas emisi secara bertahap tanpa mengorbankan stabilitas produksi.
Namun, upaya dekarbonisasi tidak selalu datang dari teknologi berskala besar. Di kawasan operasional Harita Nickel, sekitar 20.000 karyawan menerima konsumsi setiap hari. Aktivitas dapur skala besar ini menghasilkan minyak jelantah dalam jumlah signifikan.
Alih-alih dibuang, minyak jelantah tersebut disuling kembali dan dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif untuk Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF).
RKEF merupakan teknologi pengolahan bijih nikel berkadar tinggi yang umum digunakan untuk memproduksi bahan baku baja nirkarat. Prosesnya berlangsung dalam dua tahapan utama, yakni pemanasan awal di rotary kiln dan peleburan di electric furnace.
Metode ini tergolong intensif energi, yang selama ini sebagian besar bergantung pada batubara atau bahan bakar fosil lainnya. Karena itu, substitusi sebagian energi dengan minyak jelantah menjadi langkah penting dalam menekan intensitas emisi karbon.
“Substitusi ini menggantikan 21 persen kalori batubara dan memangkas konsumsi batubara sekitar 10 ton per hari. Program ini akan dioptimalkan ke lini operasional lainnya di masa mendatang,” ujar Tonny.
Berkat inisiatif tersebut, Harita Nickel meraih Katadata Green Initiatives Awards (KGIA) 2025 dalam ajang Katadata Sustainability Action for the Future Economy (SAFE) yang digelar pada September 2025.
Menjaga Keseimbangan Pertumbuhan dan Emisi
Jika dilihat secara menyeluruh, tantangan terbesar industri nikel Indonesia terletak pada keseimbangan antara menjaga laju hilirisasi dan daya saing global, sekaligus memenuhi ekspektasi pasar terhadap produk rendah karbon.
Dekarbonisasi di sektor ini bersifat struktural, mencakup desain pabrik, sumber energi regional, hingga kebijakan energi nasional. Karena itu, transformasi tidak dapat dilakukan secara instan. Tonny menegaskan bahwa orientasi keberlanjutan perusahaan tidak berhenti pada aspek teknis.
“Pertambangan yang bertanggung jawab harus membawa manfaat jangka panjang, tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga sosial dan ekologis.”
Pernyataan ini mencerminkan pergeseran paradigma industri, dari model ekstraktif yang berfokus pada volume dan margin menuju model yang semakin selaras dengan prinsip keberlanjutan global.
Di tengah sorotan terhadap industri nikel baik karena perannya dalam baterai kendaraan listrik maupun dampak lingkungannya langkah dekarbonisasi menjadi penentu legitimasi perusahaan dalam jangka panjang. Transisi energi pada akhirnya mengubah cara industri beroperasi.
Bagi Indonesia, yang menempatkan nikel sebagai komoditas strategis, keberhasilan menekan jejak karbon produksi akan menentukan apakah mineral ini benar-benar menjadi jembatan menuju masa depan energi bersih, atau justru menyisakan paradoks baru dalam perjalanan menuju net zero emission.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id





























