Ucapan Natal & Upaya Ma'ruf Amin Naikkan Elektabilitas, Efektifkah?

Oleh: Felix Nathaniel - 27 Desember 2018
Dibaca Normal 2 menit
Ucapan Natal Ma'ruf Amin dinilai sebagai bagian dari upaya menaikkan elektabilitas jelang pilpres.
tirto.id - Ucapan selamat “Hari Raya Natal” cawapres nomor urut 01 Ma'ruf Amin melalui video singkat yang diunggah di media sosial mendapat sorotan. Apalagi pada tahun-tahun sebelumnya, Ma’ruf tidak pernah mengucapkannya secara terbuka.

Pada 2017, Ma’ruf sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahkan pernah mengeluarkan pernyataan yang menguatkan fatwa MUI yang menyebut jangan sampai perusahaan memaksa karyawannya memakai atribut Natal atau yang tidak sesuai dengan agama yang dianutnya.

Sontak, perubahan sikap Ma'ruf itu ditafsirkan beragam. Dosen Ilmu Politik di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Adi Prayitno menilai tindakan Ma’ruf sebagai bentuk dari metamorfosa politik untuk merangkul mereka yang kecewa terhadap dirinya.

Sebab, kata Adi, sebelum menjadi pendamping Jokowi, Ma’ruf dikenal sebagai tokoh yang dinilai kurang moderat. Saat awal-awal digandeng sebagai cawapres Jokowi, kata Adi, bahkan banyak kelompok moderat yang tidak menerimanya.

“Selama ini, kan, Kiai Ma’ruf dianggap agak sedikit eksklusif, bahkan mengukuhkan kelompok Islam kanan. Dan dengan mengucapkan selamat Natal, maka Ma’ruf sudah merubah dirinya untuk lebih terbuka bahwa sebagai wakil kepala negara, Ma’ruf harus membuka diri dan mengayomi dari kalangan manapun,” kata Adi kepada reporter Tirto, Kamis (27/12/2018).

Adi menilai tindakan itu merupakan langkah penting dari Ma’ruf, karena citranya yang tak bisa lepas dari aksi 212 yang dianggap sengaja menyudutkan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Tujuan kedua dari Ma’ruf, kata Adi, adalah untuk menarik kekuatan dari kelompok Kristiani dan minoritas. Adi menganggap Ma’ruf sengaja menampilkan diri sebagai sosok terbuka agar bisa diterima oleh semua kalangan menjelang Pilpres 2019.

“Artinya publik tidak melihat Ma’ruf ini sebagai representasi dari 212 lagi,” kata Adi.



Hal senada diungkapkan Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komarudin. Ia menilai langkah Ma’ruf memang sebagai upaya memperbaiki citra di kelompok moderat.

Namun sebaliknya, tindakan Ma'ruf menanggung risiko kehilangan suara dari kelompok Islam garis kanan.

“Memang ucapan Ma’ruf itu bisa sebagai bentuk toleransi saja, tetapi tidak bisa meraih suara dari kelompok Islam non-moderat,” kata Ujang kepada reporter Tirto.

Padahal, kata Ujang, kelompok moderat, seperti Nandlatul Ulama (NU) dan MUI memang sudah satu suara dengan Ma’ruf. Artinya, kata Ujang, tanpa Ma'ruf mengucap selamat Natal pun, mereka tetap akan mendukung Jokowi-Ma'ruf.


Dibela TKN dan MUI


Sementara itu, Sekretaris Jenderal PPP sekaligus Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Arsul Sani mengatakan ucapan Ma’ruf hanya sekadar toleransi dan tidak melanggar ajaran agama.

“Saya kebetulan termasuk yang dari dulu memang membolehkan diri sebatas menyampaikan ucapan selamat atau selamat merayakan Natal,” kata Arsul di kawasan Menteng, Jakarta, Rabu (26/12/2018).

“Saya tentu tak ikut ketika lagi kebaktian, tapi setelah makan-makan, cipika-cipiki, ya itulah kebersamaan kita. Saya kira Pak Kiai Ma’ruf harus dipahami seperti itu,” kata Arsul.

Pembelaan yang sama juga diungkapkan Sekretaris Jenderal MUI Anwar Abbas. Menurutnya sejauh ini belum ada fatwa MUI tentang larangan mengucap selamat Natal oleh umat Islam.

Salama ini, kata Anwar, fatwa MUI soal Natal hanya dua macam. Pertama, fatwa yang mengatur soal tidak mengikuti upacara Natal bagi umat Islam. Kedua fatwa MUI yang mengatur soal menggunakan atribut keagamaan non-muslim.

“MUI belum pernah mengeluarkan fatwa tentang boleh dan atau tidak bolehnya umat Islam menyampaikan ucapan selamat Natal kepada yang merayakannya,” kata Anwar kepada reporter Tirto.

Namun, Anwar menegaskan, MUI tidak anti kepada umat Kristiani atau umat beragama lainnya.

Cara yang direkomendasikan adalah dengan tidak melarang umat non-muslim menjalankan ibadahnya. Tentang penyisiran yang sempat dilakukan FPI dan ormas Islam lain beberapa waktu lalu pun, kata Anwar, tak disetujui Ma’ruf dan MUI.

“MUI tahu dan menyadari bahwa dalam masalah tersebut [selamat Natal] ada perbedaan dan pertentangan pendapat di antara para ulama. […] Jadi fatwa khusus tentang mengucapkan selamat Natal kepada yang merayakannya belum ada,” tegasnya.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Politik)

Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Abdul Aziz
DarkLight