Menuju konten utama

Tol Bogor-Serpong via Parung Jadi Dinamo Pertumbuhan Wilayah

Kehadiran tol ini lebih dari sekadar infrastruktur transportasi. Menurutnya, proyek tol ini dinamo pertumbuhan ekonomi sekitar.

Tol Bogor-Serpong via Parung Jadi Dinamo Pertumbuhan Wilayah
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menjawab pertanyaan wartawan usai melakukan peninjauan Jalan Layang (Flyover) Arteri Madukoro, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (11/12/2024). Menteri PU dalam kunjungan itu menyatakan progres keseluruhan pekerjaan proyek Jalan Tol Semarang-Demak yang dibangun sebagai upaya mengurai kemacetan kendaraan akibat luapan banjir rob tahunan di wilayah itu telah mencapai 20 persen dan ditargetkan selesai pada tahun 2027. ANTARA FOTO/Makna Zaezar/YU

tirto.id - Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, menyatakan bahwa pembangunan Jalan Tol Bogor-Serpong via Parung akan membawa dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat sekitar.

Dalam sambutannya, Dody menekankan bahwa kehadiran tol ini lebih dari sekadar infrastruktur transportasi. Menurutnya, proyek tol ini dinamo pertumbuhan ekonomi sekitar.

"Lebih dari sekedar jalan transportasi, jalan tol adalah dinamo pertumbuhan wilayah. Proyek ini jelas insyaallah akan membuka ruang padat karya, memberdayakan masyarakat sekitar, dan menciptakan lapangan kerja baru," katanya usai penandatanganan Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) proyek tersebut di kantor Kementerian PU, Jakarta, Jumat (3/10/2025).

Ia memproyeksikan dampak ekonominya akan menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Dampak proyek ini menurutnya akan sangat terasa hingga ke warung-warung kecil, layanan transportasi dan lingkungan tempat tinggal warga sekitar.

“Dengan demikian, satu ruas jalan tol berkontribusi dalam menurunkan kemiskinan, memperluas kesempatan kerja, dan memperkuat kelas menengah Indonesia," tambah Hanggodo.

Tol Bogor-Serpong via Parung yang merupakan bagian dari jaringan Jakarta Outer Ring Road (JORR) III ini, disebutkan Dody, akan memperlancar mobilitas, mengurangi beban jalan arteri, dan memperpendek jarak tempuh.

"Lebih dari itu, ruas ini membuka pertumbuhan ekonomi baru di kawasan Jabodetabek pada khususnya," tegasnya.

Proyek yang seluruh biaya pembangunannya ditanggung oleh badan usaha tanpa menggunakan APBN ini juga dinilai sebagai sinyal positif kepercayaan investor. Hanggodo berharap proyek ini dapat memperkuat arus masuk Foreign Direct Investment (FDI).

"Karena bagaimanapun kehadiran FDI bukan hanya menambah modal, melainkan juga membawa teknologi baru, tata kelola yang lebih modern, dan menumbuhkan percayaan global terhadap masa depan Indonesia," paparnya.

Dari perspektif makro, Hanggodo menjelaskan bahwa pembangunan tol berfungsi sebagai instrumen untuk menurunkan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia.

"Semakin lancar distribusi barang dan jasa, semakin tinggi efisiensi, investasi, dan semakin besar hasil pembangunan yang dirasakan oleh masyarakat luas," jelasnya.

Ia menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah pusat, daerah, lembaga keuangan, dan konsorsium perusahaan adalah kunci utama keberhasilan pembangunan proyek yang sudah diancang-ancang sejak 10 tahun lalu ini.

"Pembangunan tidak berhenti di atas kertas, tapi bergerak menjadi kenyataan yang dirasakan seluruh masyarakat Indonesia," tuturnya.

Dengan panjang 32,03 kilometer dan nilai investasi Rp12,35 triliun, Tol Bogor-Serpong via Parung ditargetkan mulai dibangun Oktober 2026 dan beroperasi pada Agustus 2028. Kehadirannya diharapkan menjadi bagian dari strategi besar menuju pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Baca juga artikel terkait TOL atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dwi Aditya Putra