Menuju konten utama

TokenKu.ai Hadir Satukan 145 Model AI dalam Satu Gateway

TokenKu.ai diluncurkan sebagai gateway AI untuk perusahaan yang menawarkan 145 model, pengelolaan biaya, keamanan data, dan satu dashboard.

TokenKu.ai Hadir Satukan 145 Model AI dalam Satu Gateway
Peluncuran TokenKu.ai oleh Hypernet Technologies di Jakarta, Kamis (10/9/2026). (FOTO/Dok. Hypernet Technologies)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Hypernet Technologies meluncurkan TokenKu.ai dengan tagline "Satu Gateway untuk Semua Model AI" di Jakarta, Kamis (10/9/2026). Platform tersebut dirancang untuk membantu perusahaan mengelola penggunaan berbagai model kecerdasan buatan (AI) secara lebih efektif, aman, dan efisien dari sisi biaya.

Chief Executive Officer (CEO) Hypernet Technologies, Sudianto Oei, mengatakan perkembangan adopsi AI di industri dan dunia kerja berlangsung sangat pesat. Namun, peningkatan penggunaan AI juga menghadirkan tantangan baru bagi perusahaan, mulai dari pengendalian biaya, keamanan data, hingga pengelolaan berbagai model kecerdasan buatan.

"Jadi, hari ini kami launching Tokenku.ai, satu gateway untuk semua model," kata Sudianto.

Menurut Sudianto, sebanyak 40 persen perusahaan di Indonesia telah mengadopsi AI. Data yang dirilis RWS pada Agustus 2026 itu menunjukkan bahwa adopsi AI telah memberikan sejumlah dampak terhadap aktivitas bisnis.

Dari perusahaan yang telah menggunakan AI, sebanyak 75 persen menilai teknologi ini bisa meningkatkan produktivitas, terutama dari sisi kecepatan kerja. Sementara itu, 70 persen perusahaan mengakui AI membantu inovasi karena mampu menghasilkan sesuatu yang sebelumnya membutuhkan perangkat lunak dengan biaya mahal.

Sebanyak 62 persen perusahaan lainnya juga menyatakan omzetnya meningkat setelah menerapkan penggunaan AI. Namun, Sudianto mengingatkan kenaikan omzet belum tentu diikuti peningkatan keuntungan perusahaan.

"Nah, jadi terkadang bisnis bukan cuma dilihat dari top line growth, tapi bottom line-nya berapa semuanya," ujarnya.

Tantangan Adopsi AI di Perusahaan

Sudianto membagi tantangan adopsi AI berdasarkan skala perusahaan. Bagi perusahaan kelas kecil dan menengah, salah satu persoalan utama adalah keterbatasan sumber daya manusia.

Sebanyak 56 persen perusahaan dalam kelompok tersebut mengatakan ingin mengadopsi AI tetapi tidak memiliki orang yang mampu memanfaatkan teknologi tersebut. Selain itu, perusahaan juga menghadapi persoalan dalam menentukan titik awal implementasi, mengintegrasikan AI dengan sistem yang sudah tersedia, hingga mendigitalisasi data yang masih berbentuk offline.

Sementara itu, perusahaan besar memiliki sumber daya, anggaran, dan tim teknologi informasi yang lebih memadai. Namun, persoalannya bergeser pada proses bisnis, kepatuhan, serta keterampilan pengelolaan data.

Salah satu kekhawatiran yang muncul adalah keamanan data ketika informasi perusahaan dimasukkan ke dalam platform AI. Data yang bersifat rahasia dikhawatirkan digunakan untuk kepentingan lain apabila tidak dikelola dengan sistem yang tepat.

Menurut Sudianto, sedikitnya terdapat tiga persoalan utama dalam penggunaan AI di perusahaan, yaitu payment, security, dan management.

Dari sisi pembayaran, penggunaan akun AI pribadi untuk kebutuhan kantor membuat biaya pengeluaran perusahaan sulit dikendalikan. Karyawan dapat berlangganan berbagai layanan menggunakan kartu kredit pribadi, lalu mengajukan reimbursement kepada perusahaan.

"47 persen bilang pengendalian AI di kantor itu tidak bisa terkontrol karena pakai pribadi. Tiba-tiba akhir bulan dapat reimbursement," ujar Sudianto.

Persoalan pembayaran juga berkaitan dengan penggunaan mata uang asing. Layanan AI umumnya menganakan tarif dalam dolar AS, sedangkan transaksi melalui kartu kredit dapat menghasilkan nilai tukar yang lebih tinggi dibandingkan kurs bank.

Dari sisi keamanan, perusahaan menghadapi risiko ketika karyawan menggunakan akun pribadi untuk memasukkan data perusahaan ke layanan AI. Menurut Sudianto, makin banyak data yang dimasukkan memang dapat meningkatkan kemampuan AI dalam memahami konteks. Namun, penggunaan data secara sembarangan dapat menimbulkan risiko keamanan.

Sementara dari sisi manajemen, perusahaan harus berhadapan dengan jumlah model AI yang bertambah banyak. Sudianto menyebut saat ini terdapat hampir 1.000 model AI di dunia sehingga perusahaan perlu menentukan model yang sesuai untuk kebutuhan masing-masing divisi.

Ia menilai perusahaan membutuhkan pengaturan mengenai model AI yang dapat digunakan oleh tim teknologi informasi, pemasaran, operasional, maupun layanan pelanggan. Namun, baru 38 persen perusahaan yang memiliki roadmap AI. Sebagian masih menerapkan AI dengan pendekatan "yang penting jalan dulu".

Risiko Fenomena AI Tax

Entrepreneur digital sekaligus founder NalarX, Raymond Chin, mengatakan perusahaan perlu mewaspadai fenomena yang disebut sebagai AI tax. Istilah tersebut merujuk pada biaya yang muncul akibat investasi AI yang tidak terkelola dan terfragmentasi.

Raymond menyebut perusahaan di dunia telah menginvestasikan sekitar US$2,5 triliun untuk belanja AI. Investasi tersebut memang mendorong peningkatan pendapatan dan produktivitas di banyak perusahaan, tetapi tidak semuanya berhasil meningkatkan profit.

Menurutnya, persoalan tersebut muncul karena perusahaan tidak mengetahui secara menyeluruh departemen mana yang menggunakan AI, model apa yang digunakan, serta proyek AI apa saja yang sedang berjalan.

"AI tax ini menyeramkan," ujar Raymond saat menghadiri peluncuran TokenKu.ai.

Ia menilai akar persoalan tersebut adalah fragmentation. Penggunaan AI yang terpisah-pisah membuat berbagai tools, proyek, dan data berada di tempat yang berbeda.

"Fragmentation artinya semua penggunaan AI itu terpisah-pisah. Semua tools terpisah-pisah. Semua proyek terpisah-pisah. Semua data terpisah-pisah di mana-mana," kata Raymond.

Fragmentasi, lanjut Raymond, bukan hanya menimbulkan persoalan biaya, tetapi juga keamanan. Ia mencontohkan kasus karyawan yang menggunakan AI pribadi di luar kantor dan memasukkan data nasabah ke dalam layanan tersebut.

Raymond menilai perusahaan di Indonesia perlu menyelesaikan persoalan fragmentasi tersebut agar tidak mengulangi masalah yang telah dialami perusahaan di negara lain.

Ia juga mengatakan Indonesia memiliki peluang besar untuk mengejar perkembangan AI global. Raymond bahkan menilai Indonesia menjadi negara dengan tingkat AI awareness tertinggi di dunia saat ini.

Menurutnya, AI dapat memberikan dampak ekonomi yang besar hingga 2030 apabila penggunaannya mampu menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas. Ia juga menekankan bahwa AI seharusnya membantu sumber daya manusia, bukan sekadar menggantikan pekerja.

"Di Indonesia, kita harus dengan mindset AI membantu sumber daya manusia yang ada di Indonesia," ujarnya.

TokenKu.ai Jawab Payment, Security, & Management

Melalui TokenKu.ai, Hypernet Technologies menawarkan pendekatan yang berfokus pada tiga persoalan utama tersebut, yakni pembayaran, keamanan, dan manajemen.

Dari sisi pembayaran, TokenKu.ai menggunakan mata uang rupiah. Pengguna dapat melakukan top-up terlebih dahulu ke dalam platform sebelum memilih model AI yang ingin digunakan.

Sistem tersebut dianalogikan seperti pengisian token listrik. Setelah saldo tersedia, pengguna dapat menentukan model AI yang sesuai dengan kebutuhannya.

Platform juga menyediakan rekomendasi AI berdasarkan kebutuhan penggunaan. Dengan begitu, pengguna tidak harus menggunakan model premium untuk pekerjaan yang dapat diselesaikan menggunakan model dengan biaya lebih rendah.

Setelah model dipilih, pengguna dapat memperoleh API dan menghubungkannya dengan perangkat lunak maupun aplikasi AI yang telah digunakan perusahaan.

Sistem tersebut juga memungkinkan pengelolaan berdasarkan pengguna. Sudianto mengatakan kebutuhan tim IT, finance, dan legal dapat dipisahkan sehingga perusahaan tidak harus menggunakan satu akun secara bersama-sama.

Dari sisi keamanan, Sudianto mengatakan API TokenKu.ai dapat dibuat berdasarkan pengguna. Hal tersebut memungkinkan penggunaan layanan secara individual tanpa harus berbagi akun.

"Kita 100 persen compliant. Jadi aman. Security sudah pasti, karena API-nya bisa kita bikin per user basis," kata Sudianto.

Ia menekankan keamanan data menjadi salah satu aspek penting bagi perusahaan yang menggunakan AI. "Data security is the most important compared to the budget," ujarnya.

Sementara dari sisi manajemen, berbagai layanan AI dapat dikelola melalui satu dashboard. Pengguna tidak perlu berpindah-pindah platform untuk mengelola layanan yang digunakan.

TokenKu.ai Sediakan 145 Model AI

Dalam demonstrasi langsung saat peluncuran, TokenKu.ai menunjukkan kemampuan pengaturan workspace berdasarkan departemen atau tim perusahaan.

Salah satu contoh yang ditampilkan adalah pembuatan workspace untuk tim operasional. Di dalamnya perusahaan dapat membuat tim tertentu, menetapkan anggaran, serta menentukan model AI yang dapat digunakan.

Dalam demo tersebut, anggaran untuk satu tim dicontohkan sebesar US$100. Fitur tersebut ditujukan untuk membantu perusahaan mengendalikan penggunaan sehingga pengeluaran tidak melebihi anggaran yang telah ditentukan.

Perusahaan juga dapat membatasi model AI yang dapat digunakan oleh suatu tim. Pengaturan tersebut memungkinkan pemilihan model berdasarkan kebutuhan sekaligus mempertimbangkan regulasi.

TokenKu.ai juga memiliki fitur Playground yang memungkinkan pengguna menguji model AI tanpa harus berpindah dashboard. Pengguna dapat memasukkan prompt dan melihat apakah model yang telah dikonfigurasi memberikan respons sesuai kebutuhan.

Dalam demo, salah satu model yang digunakan adalah Cloudy SONET 4.6. Model tersebut ditunjukkan mampu memberikan respons dengan cepat setelah dikonfigurasikan melalui API.

Sudianto mengatakan TokenKu.ai saat ini menyediakan 145 model AI. Model tersebut mencakup berbagai model dari Amerika Serikat dan China serta model untuk kebutuhan multimedia.

"Jadi, kita bisa lihat berbagai macam model di sini. Mulai dari US brand, China brand, dan mulai dari sifatnya untuk multimedia, itu kita semua ada modelnya," kata Sudianto.

Selain pengelolaan, TokenKu.ai juga menawarkan efisiensi biaya. Dalam demonstrasi ditampilkan sejumlah diskon, termasuk potongan hingga 76 persen.

Sudianto mengatakan penggunaan TokenKu.ai ditujukan untuk membuat biaya penggunaan AI lebih cost-effective, selain memberikan kemudahan dari sisi manajemen dan keamanan.

Ia menambahkan harga pada platform akan diperbarui secara real-time.

Kolaborasi dengan NalarX

Pada kesempatan yang sama, Raymond mengumumkan kolaborasi dan integrasi NalarX dengan TokenKu.ai untuk membantu bisnis di Indonesia dalam penggunaan AI.

Raymond mengatakan NalarX dikembangkan sebagai AI agent yang memahami informasi perusahaan dan dirancang dengan pendekatan keamanan untuk kebutuhan perusahaan.

NalarX juga dilengkapi dengan pengaturan permission, governance, dan audit bagi perusahaan.

"Secara singkat, NALARA adalah AI agent super pintar yang mengerti seluruh informasi perusahaan dan didesain secara secure. Permission, govern, auditori lengkap untuk enterprise-enterprise di Indonesia," kata Raymond.

Namun, Raymond mengatakan pembahasan mengenai NalarX secara lebih jauh akan dilakukan pada kesempatan lain. Dalam peluncuran tersebut, ia menekankan kolaborasi dengan TokenKu.ai sebagai salah satu upaya untuk membantu perusahaan mengatasi fragmentasi penggunaan AI.

Menurutnya, penyatuan berbagai penggunaan AI di perusahaan penting dilakukan. Namun, tata kelola AI juga menjadi aspek yang tidak kalah penting agar teknologi tersebut dapat memberikan manfaat tanpa menimbulkan persoalan baru.

Dengan TokenKu.ai, perusahaan dapat mengelola pembayaran, keamanan, dan penggunaan berbagai model AI melalui satu gateway. Platform tersebut juga telah dapat digunakan secara langsung, bukan sekadar konsep atau program percobaan.

Sudianto menegaskan layanan TokenKu.ai telah live dan dapat digunakan pengguna untuk melakukan login, top-up, memilih paket, serta mulai menggunakan berbagai model AI yang tersedia.

"Ini bukan wacana, bukan planning, bukan program percobaan. It's live today," kata dia.

Baca juga artikel terkait AI atau tulisan lainnya dari Tim Media Service

tirto.id - Aktual dan Tren
Penulis: Tim Media Service