Menuju konten utama

Tiga Pesan Presiden Prabowo di KTT BRICS 2026 India

Presiden Prabowo Subianto membawakan tiga pesan utama dalam KTT BRICS 2026 di India. Ia juga menyampaikan perlunya pembaruan sistem multiteralisme di PBB.

Tiga Pesan Presiden Prabowo di KTT BRICS 2026 India
Presiden RI Prabowo Subianto tiba di Pangkalan Udara Angkatan Udara India (AFS) Palam, New Delhi, India, untuk menghadiri KTT ke-18 BRICS pada Jumat (11/9/2026). ANTARA/HO-Ministry of External Affairs India.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya, mengungkapkan, ada tiga pesan utama yang dibawa Presiden Prabowo Subianto dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 di New Delhi, Republik India, Sabtu (12/9/2026). Pesan tersebut mencakup kemandirian dan ketahanan nasional, penguatan persatuan negara-negara Global South, serta tata kelola global yang lebih adil.

Teddy menyampaikan, pokok-pokok pikiran pesan ini ditegaskan Presiden Prabowo saat menghadiri sesi terbatas bertajuk “Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism”. Indonesia disebut mengusung komitmen untuk memperkuat tata kelola dunia yang inklusif sekaligus menyatukan kekuatan negara-negara berkembang.

Pada pesan pertama, Prabowo menyoroti pentingnya kemandirian bangsa sebagai modal utama agar tidak mudah diintervensi oleh kekuatan asing. Ketangguhan itu dibangun dari pemenuhan kebutuhan dasar domestik secara berdaulat.

“Kekuatan sebuah negara bermula dari kemampuannya memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya—pangan, energi, dan pendidikan. Dengan fondasi yang kuat, Indonesia tidak akan bergantung atau mudah didikte oleh kekuatan tertentu,” ujar Teddy dalam keterangan tertulis, Senin (14/9/2026).

Pesan kedua Kepala Negara, menitikberatkan pada pentingnya soliditas negara-negara berkembang (Global South). Menghadapi tantangan dunia saat ini, Prabowo kembali menyalakan semangat historis solidaritas antarbangsa.

“Mengutip pepatah ‘bersatu kita teguh, terpecah kita runtuh’, Presiden mengingatkan kembali pentingnya spirit Konferensi Asia-Afrika. Negara-negara Global South kini berdiri setara untuk memperjuangkan kepentingan dan masa depannya sendiri,” ungkap Teddy.

Persatuan tersebut dinilai esensial agar posisi tawar serta aspirasi negara-negara berkembang mendapat tempat yang setara dalam merumuskan arsitektur dunia ke depan.

Adapun pesan terakhir, Prabowo menggarisbawahi posisi strategis BRICS yang merepresentasikan separuh populasi bumi. Presiden mendorong agar besarnya potensi tersebut dieksekusi menjadi kerja sama nyata yang berdampak langsung bagi pembangunan negara berkembang.

“BRICS mewakili separuh populasi dunia. Kekuatan ini harus diubah menjadi kerja sama yang nyata: memperkuat ketahanan pangan dan energi, menghubungkan pasar, modal, teknologi, sumber daya, dan pengetahuan, serta membuka peluang pembangunan yang lebih besar bagi negara-negara berkembang,” tutur Teddy.

Selain penguatan kerja sama ekonomi, Prabowo turut menekankan perlunya pembaruan sistem multilateralisme dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai episentrum yang lebih responsif dan adil.

“PBB harus tetap menjadi pusat sistem multilateral, namun perlu diperkuat agar lebih representatif, responsif, dan mampu menghadirkan hasil konkret bagi masyarakat dunia,” terang Teddy.

Baca juga artikel terkait KTT BRICS atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar