tirto.id - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memperkirakan, tarif resiprokal sebesar 19 persen yang dikenakan Amerika Serikat (AS) akan membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia terkoreksi 0,0031 persen. Dengan koreksi tersebut, ekonomi Indonesia yang seharusnya dapat tumbuh 5 persen hanya menjadi 4,99 persen.
“Jadi, nggak genap 5 persen, karena dikurangi ini minus 0,0031 persen. Jadi, kira-kira dampaknya ya kecil, ya. Tapi, ya tetap menggerus pertumbuhan ekonomi kita,” ujar Peneliti Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Indef, Ahmad Heri Firdaus, dalam Diskusi Publik, di Pejaten Timur, Jakarta Selatan, Senin (21/7/2025).
Selain Indonesia, kebijakan tarif resiprokal juga dinilai bakal menggerus pertumbuhan ekonomi berbagai negara lainnya, seperti Vietnam (-0,07 persen), Thailand (-0,0036 persen), Kamboja (-0,052 persen), dan sebagainya. Bahkan, Amerika Serikat juga tak luput dari pukulan dampak kebijakan tarif yang ditetapkan Presiden Donald Trump.
Dari hitungan Indef, kebijakan tarif resiprokal akan menggerus pertumbuhan ekonomi hingga 0,0025 persen.
“Amerika Serikat sendiri juga turun tuh minus 0,02 persen. Kenapa? Karena dengan dia menerapkan tarif, kan masyarakatnya harus membayar lebih mahal, terjadi potensi inflasi yang lebih tinggi gitu, ya. Kemudian juga, industri mereka juga belum tentu bisa … apa namanya, (menanggung) penurunan impor yang kemungkinan akan terjadi dari negara-negara mitranya,” jelas Heri.
Namun, di balik penurunan pertumbuhan ekonomi yang harus dialami banyak negara di dunia, Indef masih melihat peluang pertumbuhan ekonomi pada Singapura, Taiwan dan Hongkong, yang masing-masing masih berpotensi tumbuh sebesar 0,0001 persen.
Pada kesempatan terpisah, Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF), Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, menilai tarif impor 0 persen yang diberikan Indonesia untuk AS tak akan berdampak signifikan terhadap penerimaan negara. Pasalnya, kontribusi perdagangan AS hanya sekitar 2-3 persen terhadap total impor nasional.
“Itu nggak signifikan. Kita biasanya efektifnya dari Amerika itu sekitar 2-3 persen totalnya untuk tarifnya, jadi itu nggak terlalu besar (dampak terhadap penerimaan),” ujar Febrio, kepada awak media, di Kantor Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin (21/7/2025).
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id





































