Tante Ito, Penyintas '65 yang Gigih, Meninggal Saat Gempa Sulteng

Oleh: Haris Prabowo - 14 Oktober 2018
Dibaca Normal 2 menit
Ito pejuang kemanusiaan yang gigih. Ia tak mempan dibenamkan penguasa. Ia meninggal setelah gempa-tsunami menerjang Sigi.
tirto.id - Ito, perempuan 67 tahun, menempuh perjalanan tiga jam dengan kendaraan roda empat dari Parigi Moutong ke Perumahan Petobo di Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng). Dia menengok anak perempuannya, Sarna, 32 tahun, menantunya, Sanian, 35 tahun, dan kedua cucunya.

Keluarga besar itu menjadikan akhir pekan untuk menebus rindu, Jumat (28/9/2018) sore. Mereka tak menyadari saat itu adalah momentum terakhir bercengkerama dengan Ito.

Suara adzan magrib berkumandang. Sanian, Sarna, dan Ito bergegas mengambil air wudu di belakang rumah. Seketika gempa berkekuatan 7,4 skala Richer mengguncang Donggala, Sulteng, petang itu pukul 17.02 WIB (18.02 WITA). Getarannya merambat, membuat rumah yang mereka singgahi bergemeretak.

Gempa itu datang bersama suara dentuman, seperti ada benda berat yang dijatuhkan dari langit. Mereka terjungkat, lalu berlari menjauh dari rumah. Begitu juga para tetangga mereka, lari berhamburan tak keruan.


Permukaan tanah dan aspal terkupas. Semburan lumpur muncul dari sela-selanya. Cairan itu membentuk ombak, menyapu-rontokkan segala jenis bangunan. Kejadian itu dikenal dengan istilah likuifaksi.

"Saat kami sedang mencari jalan, ternyata goyang hebat lagi akibat gempa. Ibu [Ito] jatuh ke salah satu lubang yang terbuka dari jalanan, entah bagaimana ceritanya mungkin karena keletihan jadi tertinggal," cerita Sarna kepada saya melalui sambungan telepon, Rabu (10/10/2018).

Itu terperosok ke dalam lubang dengan kedalaman sekitar dua meter. Dia terjebak bersama dua tetangga Sarna. Sanian berusaha membantu ibu mertuanya itu keluar dari lubang itu. Dia mengulurkan tangan.

Sarna mengungkapkan, saat itu Ito justru mementingkan keluarganya dengan berkata, "Sudah saya di sini saja. Kamu lari sana, cari selamat."

Penyintas yang Gigih

Jenazah Ito baru ditemukan tiga malam setelahnya, Minggu (30/9/2018). Perempuan itu dikalahkan ganasnya alam. Sudah puluhan tahun ketangguhannya diuji lewat penanaman stigma dan tindakan diskriminatif yang ia rasakan, sejak Orde Baru (Orba) membangun imperiumnya di tanah Indonesia.


Ito adalah anak dari sepasang suami-istri yang dituduh berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Cerita itu saya dapat dari Koordinator Solidaritas Korban Pelanggaran HAM (SKP-HAM) Nurlaela Lamasitudju. Organisasi tersebut berbasis kerja sosial, kerap mengadvokasi korban pelanggaran HAM di Sulawesi Tengah. Orang-orang SKP-HAM lebih akrab memanggil Ito dengan sebutan "Tante Ito".

"Dulu, saat masih remaja, Tante Ito melihat sendiri bagaimana orangtuanya disiksa. Dia kemudian berhadap-hadapan dengan aparat untuk membela kedua orangtuanya," cerita Nurlaela kepada saya.


Jika umur Ito tahun ini menginjak 67 tahun, itu artinya saat peristiwa Gerakan 30 September (G30S) pada 1965, umurnya masih 14 tahun.

Karena orangtuanya menjadi korban yang dituding menjadi bagian PKI, sebagai keturunannya, Ito harus menggantikan orangtuanya untuk wajib lapor, kerja paksa, dan mengurus segala persyaratan administratif yang dibebankan pemerintahan Orba.

Itu tumbuh menjadi perempuan yang memikul berat beban, dicap sebagai ‘keturunan komunis’.

"Dengan demikian, Tante Ito menjadi korban juga," lanjut Nurlaela.

Petani yang Melawan Pelanggaran HAM

Ito bukan perempuan yang menghabiskan masa tuanya dengan bersantai ria. Di sela pekerjaan sehari-harinya sebagai petani, ia aktif berkegiatan di SKP-HAM. Dia kekeuh memerangi ketidakadilan.

"Kami sangat kehilangan Tante Ito. Meski sudah berumur, ia orang yang mau belajar. Dia mahir berliterasi, ia paham UU dan peraturan, kebijakan yang harus dikritisi, hingga akhirnya ia bisa mengadvokasi dirinya sendiri," kata Nurlaela.

Satu hari sebelum kejadian nahas itu menimpa Ito, ia baru saja bertemu dengan beberapa perwakilan Komnas HAM di rumahnya, daerah Parigi Moutong. Saat itu salah satu yang diutus untuk menemui Ito ialah Beka Ulung Hapsara, komisioner Komnas HAM.

"Kami ketemu dalam rangka ingin mengetahui apa yang dibutuhkan oleh korban pelanggaran HAM di Sulawesi Tengah," kata Beka ketika saya hubungi, Rabu (10/10/2018).

"Ibu Ito ini salah satu korban dan juga sangat aktif mengadvokasi korban pelanggaran HAM lainnya. Ia memberi semangat dan pemahaman lebih kepada sesama korban. Ia melek hukum," lanjut Beka.

Salah satu anggota SKP-HAM lainnya, Syafari Firdaus juga mengatakan, kegigihan Ito dalam memperjuangkan keadilan bagi korban pelanggaran HAM, tak bisa dianggap remeh. Ito terus menyemangati dan mendorong para korban bisa mengadvokasi diri mereka sendiri.

"Kalau SKP-HAM datang memanggil dan membutuhkan saya, saya pasti akan tinggalkan semua pekerjaan," kata Ito, sepenuturan Syafari. Kata-kata itu yang selalu diingat Syafari dan membuatnya kagum kepada Ito.

Syafari menuturkan, Ito minta diingatkan jauh sebelum peringatan pendirian SKP-HAM. Sebab penyintas perempuan itu berjanji memberikan kejutan. Tapi, Ito pergi terlalu cepat, sebelum perayaan ulang tahun SKP-HAM pada, 14 Oktober mendatang.

Ito mewariskan ikatan para penyintas yang telah solid. Itu hadiah terindah bagi pada pejuang HAM. Cita-citanya telah tuntas.

Baca juga artikel terkait KORBAN 1965 atau tulisan menarik lainnya Haris Prabowo
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Haris Prabowo
Penulis: Haris Prabowo
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
DarkLight