Tak Semua Sugar Daddy Semanis yang Dibayangkan

Oleh: M Faisal - 20 Maret 2018
Dibaca Normal 4 menit
Banyak yang tergiur dengan uang melimpah dan barang mewah. Namun, fenomena sugar daddy menyimpan potensi kekerasan terhadap perempuan.
tirto.id - Sebuah mobil terparkir di pelataran Universitas Sorbonne, Paris. Sepintas tak ada yang istimewa dari mobil tersebut sampai Anda melihat gambar yang menempel di bagian samping: pria dan wanita berpelukan dengan pesan bertuliskan “asmara, gairah, tanpa pinjaman mahasiswa: pergilah bersama sugar daddy atau sugar mama.”

Seperti yang diwartakan BBC pada Oktober silam, mobil iklan itu diketahui milik situs bernama RichMeetBeautiful. Keberadaannya langsung disingkirkan oleh otoritas Paris karena dianggap tidak pantas dan mengganggu kenyamanan publik.

“Kami mengecam keras iklan yang memalukan tersebut dan akan bekerjasama dengan polisi untuk membuatnya hilang dari jalanan,” tulis akun Twitter pemerintah kota Paris.

Sementara itu, wakil walikota Paris Helene Bidard menyebutkan bahwa iklan RichMeetBeautiful merupakan “bentuk prostitusi” dan “pelanggaran hukum terhadap perempuan.”

Pendiri situs RichMeetBeautiful, Sigurd Vedal, menegaskan RichMeetBeautiful dibuat untuk menghubungkan satu orang dengan orang yang lain, mirip situs kencan. Pria asal Norwegia ini menolak anggapan RichMeetBeautiful adalah ladang prostitusi.

“Ini adalah kesalahpahaman klasik. Kami seperti situs kencan biasa, yang memiliki catatan tentang kondisi keuangan peserta,” jelasnya.

Gula-Gula di Hong Kong dan AS

Menurut kamus Merriam-Webster, istilah sugar daddy merujuk pada pria usia tua yang menghabiskan uang secara berlebihan (boros) bersama pacar. Dari sini bisa disederhanakan bahwa sugar daddy tak lepas dari beberapa hal: laki-laki tajir, tua, perempuan muda, dan foya-foya.

Berbeda dengan Paris yang menganggap situs sugar daddy adalah pelanggaran hukum, kehadiran situs sugar daddy di Hong Kong justru mendapatkan sambutan terbuka. Hal ini dapat dilihat dengan munculnya situs bernama The SugarBook yang diklaim punya banyak pengguna.

South China Morning Post dalam laporannya menyebutkan bahwa hingga Maret ini, SugarBook telah memiliki anggota sebanyak 120 ribu—naik dari angka 75 ribu di awal tahun. Anggotanya tersebar dari Malaysia, Singapura, Filipina, sampai Indonesia. Diperkirakan sampai Juni 2018, jumlah anggota SugarBook diperkirakan menyentuh 200 ribu.


“Ide untuk membuat SugarBook muncul saat saya membaca tentang bagaimana pentingnya kondisi keuangan dalam suatu hubungan,” ungkap pendiri SugarBook, Darren Chan. “Saya lalu menggali lebih dalam dan menarik kesimpulan bahwa pria mencari kecantikan, sementara perempuan mencari uang ketika mereka memikirkan pasangan hidup.”

SugarBook sendiri diluncurkan pada 2016. Sebanyak 70% anggota SugarBook adalah sugar baby, sebuah istilah yang mengacu pada perempuan berusia 21 sampai 32. Sisanya adalah kategori sugar daddy atau mummy yang berumur 30 hingga 55.

Guna meningkatkan jumlah keanggotaan, SugarBook menempuh dua langkah. Pertama, menawarkan akun premium gratis kepada sugar baby asal mereka mendaftar dengan alamat email universitas yang dimiliki dengan harapan platform tersebut bisa membantu mereka mendapatkan dana untuk kuliah. Langkah kedua, SugarBook menyediakan layanan premium selama 6 bulan dengan biaya $125.

Salah satu pihak yang merasakan manfaat dari situs ini adalah Lily (bukan nama sebenarnya), yang mengaku bergabung dengan SugarBook sejak Februari lalu. Sugar daddy-nya adalah akuntan asal Singapura berusia 40 tahun. Bersama “sang ayah,” Lily mendapatkan banyak hal; barang mewah macam Macbook, tas Hermes, vakansi ke Eropa, hingga uang bulanan sebesar $2.200.

Kendati begitu semuanya tak serta merta berjalan dengan mudah. Kuliahnya belum rampung serta “sang ayah” menolak mempekerjakan Lily di perusahaannya guna menghindari konflik kepentingan.

Sugar daddy-ku mengatakan bahwa aku harus memulai dari bawah agar dapat pekerjaan pasti,” katanya. “Aku suka bahwa saat ini aku bersama pria yang sangat yakin dengan hubungan kami dan masa depan. Aku tahu hal ini tidak bisa aku dapatkan dari laki-laki lainnya.”

Jauh sebelum SugarBook dirayakan, platform serupa telah lebih dulu muncul di Amerika. Namanya: SeekingArrangement. Situs ini didirikan pada 2006 oleh Brandon Wale, lulusan MIT asal Singapura. Kala itu, pendirian SeekingArrangement ditujukan untuk membantu mahasiswa MIT dan eksekutif perusahaan teknologi yang “baik tapi canggung” agar mendapatkan relasi cinta yang memuaskan.

“Sulit untuk mengiklankan diri ketika berada di tengah persaingan dengan ratusan ribu orang yang berpenampilan lebih menarik,” ungkapnya kepada The New York Times. “Saya perlu cara untuk memposisikan diri di garis depan.”

Dari situ kemudian lahir SeekingArrangement, situs kencan yang memprioritaskan berapa banyak pendapatan yang dihasilkan pengguna. Anggota SeekingArrangement berpendapatan tahunan rata-rata $250 ribu serta kekayaan bersih senilai $1,5 juta.


Pada dasarnya, situs ini tak beda jauh dengan SugarBook. Intinya adalah sugar daddy atau mummy bakal memberikan fasilitas liburan mewah sampai tunjangan bulanan, asalkan sugar baby bersedia menemani mereka ke acara-acara perusahaan dan lain sebagainya.

Yang membedakan ialah, menurut The Atlantic, SeekingArrangement lebih mementingkan isi kepala daripada penampilan. Alasannya, apabila sugar baby memahami pekerjaan “ayah” dan terlibat dalam topik yang dianggap menarik, maka si sugar daddy bakal merasakan seolah ia berada dalam hubungan yang nyata.

Sejauh ini, pengguna SeekingArrangement mencapai lebih dari tiga juta orang di Amerika Serikat dan Eropa. Di Asia sendiri—terutama di kawasan Cina dan Hong Kong—anggotanya cukup banyak, yaitu 101.683 pengguna. Dari angka tersebut, 44% berasal dari perguruan tinggi.

Tingginya anggota dari lingkungan perkuliahan tidak bisa dilepaskan dari kebijakan mereka yang meniadakan biaya bagi calon sugar baby yang mendaftar keanggotaan dengan email kampus. Juru bicara SeekingArrangement, Alexis Germany, mengatakan para mahasiswi datang ke situs ini guna mendapatkan tambahan biaya untuk membayar kuliah, seperti yang dialami Christina, sugar baby berusia 29 tahun asal Las Vegas.

Christina merupakan mahasiswi Michigan State University. Ia mendaftar SeekingArrangement untuk menutup biaya kuliahnya semenjak sang paman meninggal dunia. Temannya lalu menyarankannya untuk bergabung dengan SeekingArrangement.

Ia kemudian mendapatkan “ayah” yang cocok dan bersedia membantu membiayai kuliahnya. Christina mengaku, total ia telah diberi sugar daddy-nya sebanyak $90 ribu untuk membayar semua biaya yang berhubungan dengan perkuliahan.

“Mereka tahu sekolah itu yang pertama,” katanya. “Jika mereka menawarkan perjalanan kepada saya atau mungkin sesuatu dan saya berkata tidak karena saya sedang ada urusan dengan kuliah, mereka segera mundur.”

Infografik Sugar Daddy


Lekat dengan Kekerasan terhadap Perempuan

“Salah seorang dari mereka dikurung selama berbulan-bulan di apartemen oleh sugar daddy-nya,” ungkap Datuk Andrew Mohanraj, wakil presiden Malaysian Mental Health Association. “Dia mencoba kabur dan si "ayah" memasang pembatas. Tapi, dia berhasil melarikan diri.”

Tidak semua nasib sugar baby berakhir seperti Lily maupun Christina. Beberapa di antaranya mungkin mampu membiayai perkuliahan dan mendapatkan barang-barang kelas atas. Namun, tidak sedikit juga yang berakhir mengenaskan; disiksa secara fisik hingga diancam dibunuh.

Sejak awal, konsep relasi sugar daddy dan sugar baby memang kontroversial. Selain lekat dengan anggapan prostitusi dan perdagangan perempuan—ada transaksi dan pertukaran jasa—fenomena ini juga kerap membuat perempuan jadi korban kekerasan.

Mohanraj mengatakan, ketika relasi sugar daddy dan sugar baby tidak sesuai dengan ekspektasi, maka yang ada hanya aksi kekerasan, pelecehan, hingga rasa frustasi. Hal ini dialami oleh Nadiah (bukan nama sebenarnya) yang mencoba bunuh diri akibat sugar daddy-nya tidak jadi menikahinya dan meninggalkannya tanpa kejelasan.


Di lain sisi, relasi antara dua pihak tersebut turut menghadirkan risiko Infeksi Menular Seksual (IMS) akibat pola seksual yang tidak sehat.

Risiko tertular IMS sangat tinggi karena banyak di antara sugar baby tidak menerapkan praktek seks yang aman [memakai kondom, misalnya] dan mengira mereka dalam ‘hubungan yang stabil,’” jelas Sulastri Ariffin manajer program Social and Enabling Environment Development (SEED). “Mereka mungkin tidak tahu bahwa pasangan mereka melakukan hubungan seksual dengan banyak orang.”

Berangkat dari dampak tersebut, beberapa negara di Asia Tenggara mulai melakukan tindakan preventif. Singapura, misalnya, telah berkomitmen untuk menindak tegas situs SugarBook jika digunakan sebagai wahana transaksi seks. Hal serupa juga bakal ditempuh Malaysia yang akan menghukum pengguna SeekingArrangement yang memanfaatkan situs itu untuk pemerasan hingga pelacuran.

Meski demikian, masih ada sugar baby yang beranggapan bahwa apa yang dilakukannya aman dan tidak membahayakan.

“Jika Anda membuka internet, Anda akan lihat apa yang dipikirkan banyak orang,” jelas Clover Pittilia, perempuan 20 tahun pengguna SeekingArrangement asal Bournemouth, Inggris. “Ada yang mengira hal ini adalah pelacuran, tapi sebenarnya tidak. Kamu tidak perlu melakukan apapun yang tidak ingin kamu lakukan, kok.”

Baca juga artikel terkait KEKERASAN SEKSUAL atau tulisan menarik lainnya M Faisal
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: M Faisal
Penulis: M Faisal
Editor: Windu Jusuf