Sulit Hamil? Mungkin Anda Menderita Sindrom Ovarium Polikistik

Oleh: Widia Primastika - 15 September 2018
Dibaca Normal 3 menit
PCOS atau Polycystic Ovary Syndrome membuat perempuan sukar punya anak. Gejalanya adalah gangguan menstruasi dan rambut yang tumbuh lebat di kaki, kemaluan, dan tangan.
tirto.id - Selebritis Tya Ariestya sering menceritakan kepada publik tentang keinginannya memiliki momongan. Di akun instagramnya @tya_ariestya, Tya kerap membagikan foto yang disertai dengan caption misi perjuangannya itu: program bayi tabung.

Tya memang diketahui sulit memiliki momongan karena mengidap PCOS (Polycystic Ovary Syndrome/Sindrom Ovarium Polikistik). Dikutip dari Nova, Tya mengaku sudah mengetahui dirinya mengidap penyakit ini sejak belum menikah.

“Aku ini punya PCOS, yakni penyakit gangguan hormon. Jadi hormon laki-laki aku lebih banyak di dalam tubuh. Jadi, kalau hamil alami lebih sulit tiga kali lipat, ya. Dan kalau pun alami jadi mudah keguguran,” kata Tya dilansir Nova.

Di akun Instagram-nya pula, Tya sering membagikan cerita tentang PCOS serta proses pengobatan yang harus ia lakukan agar tetap bisa dikaruniai momongan.

Apa itu PCOS?

PCOS atau Polycystic Ovary Syndrome pada dasarnya adalah gangguan hormon dan metabolisme. Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, dr. Ulul Albab, SpOG (K) mengatakan bahwa PCOS merupakan sindrom gangguan fungsi ovarium saat wanita mengalami masa subur.


“Gejala yang paling kelihatan adalah haid dan masa ovulasi yang tidak teratur. Selain itu ada yang lainnya seperti hormon androgen meningkat, tidak jarang bersama dengan kelainan lain,” ungkap dr. Ulul ketika dihubungi Tirto.

Ulul pun membeberkan, pada wanita yang mengalami PCOS terdapat gejala oligomeneora seperti haid yang hanya terjadi dalam waktu 3 atau 4 bulan sekali. Namun bisa juga, perempuan yang mengalami PCOS terus mengalami menstruasi namun dalam jumlah sedikit (mengalami flek berwarna merah).

Tak hanya itu, akibat kadar hormon androgen yang lebih tinggi, pertumbuhan rambut di sekitar kaki, kemaluan, dan tangan juga lebih pesat dan lebat.

Ulul menjelaskan, pada pemeriksaan ultrasonografi perempuan yang mengalami PCOS, akan ditemukan sel telur yang tidak berkembang selama masa subur.

“Sel-sel telur berukuran kecil, gambarannya seperti roda pedati, ukurannya [sel telur] 1-2 milimeter, harusnya pada masa subur, sel telurnya besar-besar, [ukuran] 16-20 mm,” ungkapnya.


Perempuan yang mengalami PCOS umumnya mengalami resistensi insulin seperti kencing manis, peningkatan LDL, serta kolesterol. Umumnya PCOS beriringan dengan dengan penyakit metabolik seperti diabetes melitus, hipertensi, dan kolesterol.

Menurut Keterangan Office on Women's Health (PDF), Amerika Serikat, salah satu gejala dari PCOS adalah menstruasi tidak teratur dengan periode yang lebih singkat dibandingkan perempuan pada umumnya, yakni kurang dari 8 kali dalam setahun. Bisa juga, perempuan yang mengalami PCOS mengalami masa menstruasi yang lebih panjang setiap periodenya, yang bahkan bisa mencapai lebih dari 21 hari.

Perempuan dengan PCOS juga bisa mengalami hirsutisme atau tumbuhnya rambut pada wajah, dagu, dan tubuh. Hirsutisme dialami oleh 70% perempuan yang menderita PCOS. Namun bisa juga, perempuan yang menderita PCOS ini mengalami kebotakan pada kulit kepala seperti yang dialami para pria.

Gejala lain pada penderita PCOS adalah munculnya jerawat pada wajah, dada, dan punggung atas, serta kesulitan menurunkan berat badan pada penderita.

Infografik Sindrom ovarium Polikistik

Penyebab PCOS

Masih menurut keterangan Office on Women's Health (PDF), PCOS antara lain disebabkan oleh tingginya androgen dalam tubuh perempuan sehingga memengaruhi ovulasi, menyebabkan siklus menstruasi tidak teratur, pertumbuhan rambut berlebih, serta jerawat.

Selain itu, tingginya kadar insulin ditubuh juga menyebabkan PCOS. Umumnya, perempuan pengidap PCOS memiliki resistensi terhadap insulin. Artinya mereka tidak dapat merespon insulin secara normal. Biasanya hal ini terjadi pada perempuan yang kelebihan berat badan atau obesitas, memiliki kebiasaan makan tidak sehat, aktivitas fisik terbatas, dan riwayat diabetes.


Dalam laporan riset berjudul “Insulin Resistance in the Polycystic Ovary Syndrome: Mechanism and Implications for Pathogenesis” (1997, PDF), Andrea Dunaif dan Carol Beth Book menyatakan bahwa 20% wanita penderita PCOS yang mengalami obesitas mengalami gangguan toleransi terhadap glukosa atau frank noninsulindependent diabetes mellitus (NIDDM).

“Kami telah menemukan bahwa prevalensi intoleransi glukosa secara signifikan lebih tinggi pada wanita PCOS (30%) […] Dengan demikian jelas bahwa PCOS merupakan faktor risiko utama untuk NIDDM pada wanita,” ungkap Dunaif dan Book.

Dalam studi bertajuk “Incidence and Treatment of Metabolic Syndrome in Newly Reffered Women With Confirmed Polycystic Ovarian Syndrome” (PDF), C.J. Glueck dkk menuliskan bahwa karakteristik PCOS serupa dengan beberapa faktor risiko yang menentukan terjadinya sindrom metabolik seperti obesitas sentripetal, kadar trigliserida tinggi, HDL-C rendah, hipertensi, Diabetes Melitus tipe 2, resistensi insulin, dan mediasi hipofibrinolisis yang disebebkan oleh tingginya aktivitas plasminogen activator inhibitor.

Glueck dkk menuliskan bahwa mereka melalukan penelitian terhadap 138 perempuan kulit putih yang menderita PCOS. Seluruh perempuan tersebut memiliki kelainan oligo-amenorrhea dan satu kelainan hyperandrogenism, dengan persentase 45% (62 perempuan) menderita amenorea dan 55% (76 perempuan) menderita oligomenorea, dengan 33 perempuan mengalami menstruasi 1 hingga 3 kali per tahun, 24 perempuan mengalami menstruasi 4 hingga 6 kali per tahun, dan 19 perempuan mengalami menstruasi 7 hingga 8 kali per tahun. Sebanyak 3 perempuan (2%) diantaranya sedang menjalani diet diabetes melitus tipe 2.


“Dalam kerangka referensi 46% perempuan penderita PCOS pada penelitian ini dilaporkan memiliki sindrom metabolik, sehingga tidak mengherankan jika PCOS dikaitkan dengan edothelial dan disfungsi jantung, dan dengan atherosklerosis. Lebih dari perubahan kelainan arteri jantung yang berkaitan dengan faktor dari sindrom metabolik, terapi metformin pada perempuan dengan PCOS dapat mereduksi tingkat endhotelin-1, penanda dari vasculopathy,” ujar Glueck.

Penanganan PCOS

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, dr. Ulul Albab, SpOG (K) menyampaikan ada beberapa cara untuk menangani PCOS seperti mengubah gaya hidup.

“Perubahan gaya hidup itu mutlak khususnya untuk orang-orang yang menderita diabetes. Mereka bisa disuruh mengurangi karbohidrat dan lemak, misalnya. Kalau datang dengan obesitas, cobalah diet,” tutur Ulul.

Selain itu, penanganan bagi penderita PCOS juga bisa dilakukan dengan operasi pemecahan sel telur. Biasanya operasi ini dilakukan bagi perempuan yang ingin mengejar kesuburan. Penderita PCOS juga bisa diberikan penanganan untuk mengatur masa haid.

“Ada obat-obat tertentu yang digunakan untuk membesarkan telur, serta obat-obatan untuk menurunkan penyakit metabolik,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait KEHAMILAN atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Kesehatan)


Penulis: Widia Primastika
Editor: Windu Jusuf