Menuju konten utama
Piala Dunia 2018

Spanyol vs Rusia: Mengandalkan Golovin, Keseimbangan Lewat Koke

Setelah diistirahatkan saat melawan Uruguay, Golovin dapat kembali diandalkan. Namun, Koke bisa menyulitkan pemain berusia 22 tahun tersebut

Spanyol vs Rusia: Mengandalkan Golovin, Keseimbangan Lewat Koke
Ilustrasi Spanyol VS Rusia. tirto.id/Rangga

tirto.id - Terakhir kali Spanyol kalah terjadi pada 27 Juni 2016 lalu. Saat itu, bertanding di babak 16 besar Piala Eropa 2016, La Furia Roja ditumbangkan 0-2 oleh Italia. Sejak saat itu hingga menjelang pertandingan 16 besar Piala Dunia 2018, Spanyol belum pernah tersentuh kekalahan. Dalam 23 pertandingan, Spanyol 15 kali menang dan 8 kali bermain imbang. Rekor tersebut membuktikan Spanyol adalah tim kuat.

Namun penampilan Spanyol di Piala Dunia 2018 memberikan petunjuk yang berbeda. Dalam pertandingan melawan Portugal, Iran, dan Maroko, meski tak kalah, penampilan Spanyol jauh dari meyakinkan. Saat menghadapi Portugal, Spanyol cukup rentan terhadap serangan balik. Saat bertandingan melawan Iran, mereka kesulitan membongkar rapatnya pertahanan tim asal Teluk Persia tersebut. Dan saat melawan Maroko, Spanyol bahkan membutuhkan Video Assistant Referee (VAR) untuk bermain imbang.

Selain itu, walau berhasil menjadi juara Grup B, tim yang diasuh Fernando Hierro tersebut juga hanya mampu mencetak 6 gol dan kebobolan 5 kali dalam 3 pertandingan tersebut.

“Kita [Spanyol] harus bersikap kritis terhadap diri sendiri,” kata Fernando Hierro yang tak puas dengan penampilan anak asuhnya setelah ditahan imbang, 2-2, oleh Maroko. “Kebobolan 5 gol dalam 3 pertandingan bukanlah cara yang benar. Jika kita terus kebobolan semudah itu, kita akan kesulitan untuk mencapai tujuan.”

Tak jauh berbeda dengan Spanyol, Rusia, lawan La Furia Roja di babak 16 besar, juga sedang berada dalam kondisi kurang mengenakkan. Setelah tampil mengejutkan saat mengalahkan Arab Saudi dengan skor 5-0 dan Mesir dengan skor 3-1, anak asuh Stanislav Cherchesov itu dihajar Uruguay tiga gol tanpa balas di laga pamungkas putaran grup. Optimisme publik sepakbola Rusia yang sempat bergelora pun menyurut.

“Saya tahu hal ini akan terjadi saat kami [Rusia] menghadapi lawan yang sesungguhnya,“ Ilya Kabanov, salah seorang penggemar Rusia, tak bisa menutupi kekecewaannya usai Rusia kalah dari Uruguay. “Ini seperti dongeng. Sebuah dongeng yang sekarang ini sudah berakhir.”

Sementara itu, Alexey Pushkov, warga Rusia yang lain, memberikan kritik yang lebih lugas: ”Kita sekali lagi dapat melihat tim Rusia yang tampil seperti sebelum Piala Dunia: ompong, tak berdaya, dan tidak ada gunanya.”

Dengan pendekatan seperti itu, jika memang ingin melangkah lebih jauh, Fernando Hierro dan Stanislav Cherchesov harus segera melakukan perubahan. Terlebih Piala Dunia 2018 sudah memasuki fase sistem gugur. Sebuah babak awal yang tidak bisa lagi memaklumi kesalahan.

Bagi Rusia, Golovin adalah Kunci

Saat menghadapi Uruguay, Stanislav Cherchesov mengistirahatkan tiga pemain kuncinya, Mario Fernandes, Yuri Zhirkov, serta Aleksandr Golovin. Saat menyerang, tiga pemain tersebut merupakan pemain-pemain penting dalam pendekatan taktik Cherchesov. Zhirkov dan Fernandes menawarkan kekuatan di lebar lapangan saat Rusia kesulitan membongkar pertahanan lawan dari tengah. Sedangkan sebagai pemain nomor 10, Golovin merupakan pemain yang rajin membuka ruang untuk rekan-rekannya. Dan tanpa ketiganya, tak heran jika Rusia kesulitan menciptakan peluang saat menghadapi Uruguay.

Dari ketiga pemain tersebut, Golovin mempunyai peran yang paling penting. Bisa tidaknya Zhirkov dan Fernandes membuat Rusia bermain melebar seringkali tergantung dari pergerakan yang dilakukan Golovin. Pemain berusia 22 tahun tersebut senang bermain melebar, menciptakan overload di sisi kanan maupun kiri pertahanan lawan, membuat situasi 3 vs 1 atau 3 vs 2. Dan saat itu terjadi, lawan kesulitan menahan serangan Rusia dari sisi lapangan.

Di sisi kanan, Fernandes sering mendapatkan keuntungan karena pergerakan Golovin tersebut. Golovin dan Samedov, sayap kanan Rusia, akan mengacaukan pertahanan lawan dengan berada di wilayah half-space, membuat bek kiri lawan dan bek tengah sebelah kiri lawan sibuk. Dengan begitu, Fernades yang sering muncul dari lini belakang bisa luput dari perhatian.

Proses gol kedua Rusia ke gawang Mesir menjadi contoh. Saat itu, karena pergerakan Samedov dan Golovin, Fernandes bisa menusuk ke dalam kotak penalti Mesir dengan mudah lalu mengirimkan umpan cutback yang berhasil dikonversi dengan baik oleh Denis Cheryshev.

Tak jauh berbeda dengan di sisi kanan, pergerakan Golovin di sisi kiri Rusia juga menguntungkan bagi Zhirkov. Full-back kiri Rusia yang sudah berusia 34 tahun tersebut tak perlu terlalu banyak menghabiskan tenaga saat menyerang. Ia cukup berdiri di belakang Golovin dan Cheryshev, menjadi orang ketiga sebagai opsi penerima umpan tambahan, saat kedua pemain tersebut kesulitan mengirim umpan ke kotak penalti. Hasilnya, Zhirkov bisa fokus untuk bertahan dan Chersyhev bisa fokus untuk menyerang.

Saat menghadapi Arab Saudi dan Mesir, pendekatan taktik Rusia di sisi kiri tersebut terbilang sukses. Sementara Cheryshev berhasil mencetak tiga gol dalam dua pertandingan tersebut, Zhirkov sukses mematikan Mohamed Salah saat menghadapi Mesir.

Dengan pendekatan seperti itu, Golovin, Zhirkov, dan Fernandes sepertinya akan kembali menjadi pilihan utama Stanislav Cherchesov saat menghadapi Spanyol. Meski begitu, Fernandes sepertinya tidak akan seaktif biasanya saat Rusia melakukan serangan. Dengan Isco, Iniesta, serta Jordi Alba, Spanyol mempunyai kecenderungan melakukan serangan dari sisi kanan pertahanan lawan.

Infografik Spanyol VS Rusia

Apakah Hierro Akan Memainkan Koke?

Koke memang baru sekali tampil di Piala Dunia 2018. Meski begitu, perannya dalam menjaga keseimbangan Spanyol saat melawan Portugal, terutama dalam bertahan, tak boleh diabaikan. Saat itu, sering berdiri di depan Nacho, full-back kanan Spanyol, Koke berhasil meminimalisir serangan Portugal di sisi kanan pertahanan Spanyol.

Menghadapi Rusia, Hierro bisa kembali mengandalkan Koke. Mantan pemain Madrid tersebut bisa menerapkan formasi 4-2-3-1, memainkan Koke di posisi gelandang bertahan sebelah kanan. Melalui kombinasi Golovin dan Cheryshev, Rusia gemar melakukan serangan dari sektor kanan pertahanan lawan.

Selain melindungi sisi kanan pertahanan Spanyol, Hierro juga bisa mendapatkan keuntungan lain saat memainkan Koke. Pemain-pemain tengah Rusia mempunyai karakter petarung. Saat menghadapi Uruguay dan Arab Saudi, lima pemain tengah Rusia, termasuk Golovin, bahkan terlibat aktif dalam bertahan. Dengan begitu, pengalaman Koke bersama Atletico Madrid bisa diandalkan untuk meladeni gaya bermain pemain-pemain tengah Rusia. Terlebih Spanyol tidak mempunyai pemain lain yang bisa diandakan untuk melakukan adu fisik dengan pemain lawan.

Seperti saat menghadapi Portugal, Koke juga mempermudah kinerja Sergio Busquets di lini tengah Spanyol. Sejauh ini, tidak hanya diandalkan untuk mengatur tempo permainan, Busquets juga sering menjadi pusat transisi serangan cepat Spanyol. Proses gol pertama Diego Costa ke gawang Portugal bisa menjadi contoh. Saat itu, dari wilayah permainan Spanyol, Busquets langsung mengirimkan bola jauh ke arah Diego Costa yang sudah berdiri di dekat kotak penalti Portugal.

Dalam pertandingan melawan Portugal, Koke ternyata lebih sering melakukan percobaan umpan daripada Busquets. Sementara Koke melakukan 88 kali percobaan umpan, Busquets hanya melakukan 69 kali percobaan umpan. Namun, dari tiga gol yang dicetak Spanyol pada pertandingan tersebut, Busquets terlibat dalam proses dua gol Spanyol. Itu berarti saat Spanyol kesulitan membongkar pertahan lawan dengan build-up serangan pelan, strategi cadangan Spanyol bisa berjalan lebih efektif saat Koke berdiri di samping Busquets.

Menyoal peran penting Koke bagi timnas Spanyol sendiri, Xavi Hernadez, mantan gelandang andalan Spanyol, bahkan sudah memperkirakannya pada 2014 lalu. Saat itu ia mengatakan, “Koke adalah pemain luar biasa. Dia memiliki segalanya: bakat, kemampuan fisik; dia adalah pesepakbola masa sekarang dan masa depan. Dia ditakdirkan untuk menjadi konduktor orkestra sepakbola Spanyol selama 10 tahun ke depan.”

Dengan caranya sendiri, Hierro bisa mendengarkan saran Xavi tersebut. Setidaknya untuk pertandingan-pertandingan penting Spanyol pada fase sistem gugur Piala Dunia 2018. Dan itu semua bisa dimulai saat Spanyol bertanding melawan Rusia pada babak 16 besar.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2018 atau tulisan lainnya dari Renalto Setiawan

tirto.id - Olahraga
Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Zen RS