Menuju konten utama

Sorgum, Sang Penjaga Ketahanan Pangan Masa Depan

Di atas lahan yang tak seberapa luas di Ujungberung, Kota Bandung, barisan tanaman berdiri tegak

Sorgum, Sang Penjaga Ketahanan Pangan Masa Depan
Petani muda merawat tanaman sorgum yang mulai tumbuh di Sein Farm, Bandung, Jawa Barat. ANTARAFOTO/Raisan Al Farisi
2025/10/08/sorgum-sang-penjaga-ketahanan-pangan-masa-depan-140725-rai-23_4933.jpg
Petani muda dan petani senior berfoto bersama di Sein Farm, Bandung, Jawa Barat. ANTARAFOTO/Raisan Al Farisi
2025/10/08/sorgum-sang-penjaga-ketahanan-pangan-masa-depan-140725-rai-5_4925.jpg
Pekerja merawat bibit sorgum di Sein Farm, Bandung, Jawa Barat. ANTARAFOTO/Raisan Al Farisi
2025/10/08/sorgum-sang-penjaga-ketahanan-pangan-masa-depan-140725-rai-3_4923.jpg
Pekerja melakukan perawatan tanaman sorgum yang siap dipanen di Sein Farm, Bandung, Jawa Barat. ANTARAFOTO/Raisan Al Farisi
2025/10/08/sorgum-sang-penjaga-ketahanan-pangan-masa-depan-140725-rai-4_4924.jpg
Pekerja merawat bibit sorgum di Sein Farm, Bandung, Jawa Barat. ANTARAFOTO/Raisan Al Farisi
2025/10/08/sorgum-sang-penjaga-ketahanan-pangan-masa-depan-140725-rai-20_4931.jpg
Pekerja menyelesaikan produksi tepung dari tanaman sorgum di Sein Farm, Bandung, Jawa Barat. ANTARAFOTO/Raisan Al Farisi
2025/10/08/sorgum-sang-penjaga-ketahanan-pangan-masa-depan-140725-rai-16_4928.jpg
Pekerja menggiling batang tanaman sorgum jenis bioguma yang telah dipanen untuk dijadikan gula di Sein Farm, Bandung, Jawa Barat. ANTARAFOTO/Raisan Al Farisi
2025/10/08/sorgum-sang-penjaga-ketahanan-pangan-masa-depan-140725-rai-17_4929.jpg
Peneliti dari BRIN mengoperasi mesin roller press saat mengolah tanaman sorgum yang telah dipanen di Sein Farm, Bandung, Jawa Barat. ANTARAFOTO/Raisan Al Farisi
2025/10/08/sorgum-sang-penjaga-ketahanan-pangan-masa-depan-140725-rai-15_4927.jpg
Peneliti dari BRIN mencatat kandungan nira dari batang tanaman sorgum yang telah digiling di Sein Farm, Bandung, Jawa Barat. ANTARAFOTO/Raisan Al Farisi
2025/10/08/sorgum-sang-penjaga-ketahanan-pangan-masa-depan-140725-rai-21_4932.jpg
Pekerja mengemas biji sorgum yang dijadikan beras di Sein Farm, Bandung, Jawa Barat. ANTARAFOTO/Raisan Al Farisi

tirto.id - Di atas lahan yang tak seberapa luas di Ujungberung, Kota Bandung, barisan tanaman berdiri tegak. Daunnya panjang, runcing, menjulang tinggi ke cakrawala dengan kepala berisi butir-butir kecil yang berdesakan seperti jagung mini berwarna kecokelatan. Itulah sorgum, si biji ajaib dari Timur Afrika yang kini mulai merebut hati tanah Priangan.

Pada Mei 2024, Sekemala Integrated Farm (Sein Farm), yang terletak di kawasan Ujungberung, ditetapkan pemerintah pusat sebagai pusat pengembangan sorgum nasional. Penunjukan ini menandai babak baru dalam upaya memperkuat ketahanan pangan Indonesia.

Sorgum memang bukan tumbuhan sembarangan. Tanaman serealia ini tumbuh baik di lahan marginal, tahan kekeringan, dan hemat air. Kandungan gizinya, terutama karbohidrat, menjadikannya sebagai salah satu alternatif paling menjanjikan pengganti beras.

Bersama Sein Farm, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kota Bandung langsung berkolaborasi dengan Universitas Pasundan (Unpas) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengembangkan sorgum secara terpadu, dari penelitian hingga diversifikasi produk.

Salah satu varietas unggulan yang kini tengah difokuskan adalah sorgum bioguma. Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Teknologi Tepat Guna (PRTTG) BRIN, Sandi Darniadi, mengatakan, varietas ini punya batang yang lebih besar, kadar manis yang tinggi, dan hasil biji maupun nira yang melimpah. Selain bioguma, varietas lain yang juga dikenal antara lain numbu, suri 4, super 1, samurai 2, gando bura, dan gando keta.

Waktu panen bioguma relatif cepat, sekitar 120 hari atau empat bulan setelah tanam. DKPP mencatat, hingga semester pertama 2025, petani di Sein Farm telah memanen sekitar 220 kilogram sorgum dari lahan seluas 120 meter persegi. Hasil panen ini tak berhenti di gudang, tapi diolah menjadi berbagai produk, dari tepung, beras sorgum, hingga gula.

BRIN pun ikut mendorong hilirisasi dengan menghadirkan teknologi tepat guna, seperti mesin penggiling batang, evaporator vakum untuk pembuatan sirup, mesin pemasak gula semut, hingga oven pengering. Semua ini menjadi infrastruktur penting dalam membentuk rantai nilai sorgum yang berkelanjutan.

Momentum besar datang pada 9 Juli 2025, saat Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andriko Notosusanto, datang langsung ke Ujungberung. Ia menyaksikan langsung panen sorgum dan menyatakan akan memasukkan sorgum sebagai bagian dari menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Langkah ini disambut antusias oleh Kepala DKPP Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar, yang menyatakan kesiapan pihaknya untuk terus mengembangkan produk berbasis sorgum, bukan hanya sebagai substitusi beras, tapi sebagai bagian dari strategi besar diversifikasi pangan nasional. Kehadiranya diharapkan menjadi solusi pemenuhan pangan dan mampu menjaga ketahanan pangan nasional di masa-masa mendatang.

oleh : Raisan Al Farisi

Baca juga artikel terkait FOTO-TIRTO atau tulisan lainnya dari Qurrota Ayun

Oleh: Qurrota Ayun