Menuju konten utama

Skena Esports Profesional Indonesia: Main Gim yang Tak Main-main

Mereka yang ingin terjun jadi pemain esports profesional perlu membangun disiplin diri dan attitude yang baik.

Skena Esports Profesional Indonesia: Main Gim yang Tak Main-main
Header Decode Esport Masuk Sekolah 3. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Muhammad Andreas, 15 tahun, mengaku dapat menghabiskan waktu hingga 3 jam per hari untuk main bareng atau mabar gim Mobile Legends: Bang Bang (MLBB). Siswa kelas 1 salah satu SMA negeri di Kota Bogor itu juga sudah langganan mengikuti turnamen esports MLBB tingkat pelajar atau event publik level recehan. Dia sempat meraih titel juara, tapi sering juga timnya gugur di babak penyisihan.

Remaja yang biasa disapa Ale itu mulai gemar menguliti permainan gim multiplayer online battle arena (MOBA) tersebut sejak duduk di bangku sekolah dasar. Dia bahkan mengaku hampir saja masuk di tahap kecanduan main gim MLBB karena godaan untuk online datang setiap waktu. Namun, Ale tersadar saat pemain profesional MLBB yang ditemuinya menyarankan agar tetap menjaga fisik dan kegiatan sekolah sebab para profesional melakukan hal demikian.

Ale mengaku ingin sekali menembus level profesional di skena esports kompetitif. Menurutnya, sebagai pelajar,industri esports amat menjanjikan.

“Ada waktu itu ketemunya di event, udah pro abang-abangan ngasih saran buat pengen jadi proplayer jaga fisik, tetap sekolah yang benar. Jadi, benar juga main dibatasin sekarang, tapi dalemin soal gimnya juga enggak cuma main doang,” ucap Ale kepada wartawan Tirto, Rabu (13/8/2025).

Luthfi, 16 tahun, pelajar SMA di Kota Depok yang duduk dibangku kelas 11, mengaku juga memiliki impian yang sama. Meskipun intens bermain gim PlayerUnknown's Battlegrounds (PUBG) Mobile, Lutfi menuturkan belum berani mencoba berkompetisi. Dia masih tidak percaya diri dengan kemampuannya.

Dalam benak Luthfi, dunia esports profesional berada jauh dari pelupuk mata. Dia menganggap orang-orang yang masuk ke skena kompetitif level nasional hingga global sebagai semacam master di divisi gimnya. Karenanya, Luthfi masih abu-abu mewujudkan mimpinya jadi pemain profesional.

Ketika ditanya motivasi terbesarnya masuk ke skena esports profesional, Luthfi mengaku pundi hadiah yang menjanjikan dan jenjang karier di industri gimlah yang menjadi pendorong utamanya.

“Menurut saya, esports itu ngasih kesempatan lainlah buat anak-anak yang enggak menonjol di akademik. Jadinya, buka alternatif terjun ke karier yang emang lagi kekinian,” ujar Luthfi kepada wartawan Tirto, Rabu (14/8/2025).

ESPORTS - PERMAINAN ARENA OF VALOR

Tim Indonesia bertanding dalam eSports cabang permainan Arena of Valor (AOV) Asian Games 2018 di Britama Arena, Jakarta, Minggu (26/8/2018). ANTARA FOTO/INASGOC/Fulli Syafi

Ledakan Industri Esports

Perkembangan skena esports kompetitif atau profesional di Indonesia memang tengah mengalami “ledakan” dan karena itu, anak-anak muda melihatnya sebagai peluang besar. Indonesia sendiri cukup terpandang di gelanggang dunia untuk urusan esports. Bagaimana tidak, atlet-atlet dan tim esports asal Indonesia langganan berprestasi di level kompetitif regional dan global.

Cuan yang diraih para profesional ini juga tidak main-main. Selain mendapatkan gaji sebagai pemain profesional atau turnamen, ekosistem esports kompetitif juga membuka banyak peluang pendapatan lain, mulai dari menjadi manajemen tim esports, komentator, pembawa acara, ambassador tim esport, hingga menjadi pembuat konten gim di platform YouTube atau media sosial.

Menurut situs esportsnesia, pendapatan pemain esports profesional dipengaruhi sejumlah faktor, seperti manajemen tim, gim yang dimainkan, hingga level profesionalitas pemain. Untuk para pemain di kolam atas atau tier tertinggi, besaran pendapatan mereka per bulan mampu mencapai Rp20-100 juta.

Sementara pemain semiprofesional yang berkarier di tim level menengah, bisa meraup gaji Rp50-20 juta per bulan tergantung kontrak musim. Ada juga pemain yang meneken kontrak per turnamen dengan gaji yang bergantung pada hasil dan performa mereka di arena kompetisi.

Menurut laporan Stellar Market Research pada 2024 lalu, pasar esports Indonesia terus bersinar seiring kemajuan teknologi yang pesat dan penggunaan perangkat ponsel pintar yang semakin luas. Faktor itu menjadikan esports menjadi segmen yang dominan sebab melaju oleh tren konektivitas dan integrasi.

Berdasarkan segmen gender, pria menjadi pangsa pasar terbesar esports di Indonesia dengan persentase sekitar 60 persen pada 2024. Menurut analisis Stellar, segmen ini diperkirakan akan tumbuh sebesar 5,90 persen per tahun hingga 2032 mendatang.

Gamer pria dianggap masih memainkan peran penting dalam aspek pengeluaran untuk gim. Mereka berinvestasi dalam bentuk item, kostum, atau battle pass untuk meningkatkan pengalaman bermain gim. Pola ini mencerminkan partisipasi aktif dan kontribusi finansial para pemain gim esports terhadap ekosistem yang mendorong pertumbuhan dan inovasi lanjutan.

Namun, bukan berarti audiens perempuan di Indonesia pada skena esports tertinggal jauh. Menurut survei yang dilakukan agensi komunikasi Vero bersama lembaga riset pasar Decision Lab pada 2022, komparasi gender di skena esports Indonesia relatif seimbang, dengan 47 persen mengidentifikasi sebagai perempuan dan 53 persen sebagai laki-laki.

Gamer wanita di Indonesia memang terus naik daun, bahkan pada 2019 dan 2020, PUBG Mobile menjadikan Indonesia tuan rumah Kejuaraan Nasional khusus perempuan pertama di dunia untuk gim bergenre battle royale tersebut.

Level Profesional Tak Mudah

Kendati begitu, bermain gim esports untuk level profesional dan kompetitif sangat berbeda dengan skena kasual. Sejumlah pelaku esports profesional kompak menyampaikan bahwa jago bermain gim dan punya “mekanik” lincah saja tidak cukup untuk bertahan di ekosistem profesional.

Pelatih tim ONIC Esports divisi MLBB, Rizky “Cikoo” Saputra, mengungkapkan bahwa skena esports kompetitif memang tengah didominasi pemain-pemain belia, bahkan masih ada yang duduk di bangku sekolah dan perguruan tinggi. Karenanya, faktor kedewasaan diri memang menjadi tantangan yang mesti dikuasai para pemain esports profesional yang masih belia itu.

Meskipun rerata pemain esports masuk ke skena profesional di usia bocah dan dianggap khatam dalam memainkan suatu gim, Cikoo menilai mereka juga perlu dibekali penguasaan atas aspek nonteknis di luar gim. Yang paling sederhana adalah mendisiplinkan mereka dalam urusan membagi waktu dan pola hidup yang sehat.

“Pola hidupnya sih mungkin yang kami coba tekenin. Karena, mungkin dari sebelumnya mereka main gim itu cuma hobi, tapi setelah proscene kan ada pressure ada tekanan gitu, karena ini kompetitif,” ujar Cikoo kepada wartawan Tirto, Selasa (12/8/2025).

Jika perlu dirangkum, ada dua faktor utama yang menurut Cikoo harus terus dilatih oleh para pemain: mentalitas dan pola hidup. Jalan karier seorang pemain profesional, kata Cikoo, amat ditentukan performa dan konsistensi pemain. Oleh karena itu, kerja keras menjadi hal yang wajib tertanam di kepala para pemain profesional sebelum memikirkan hal-hal lainnya.

Cikoo sendiri melihat kontrol diri menjadi tantangan utama yang perlu ditaklukkan pemain muda.

Self-control-nya balik lagi yang jadi kendala untuk anak-anak muda sekarang. Kayak mereka setelah dapat uang, uangnya itu mereka pake buat apa. Dan kayak akhirnya mungkin kayak fokusnya berubah, jadi mereka lupa sama tujuannya,” ucap Cikoo.

Berdasar laporan Delloite pada 2024, sebesar 78 persen responden Indonesia mengetahui industri esports, dengan sebanyak 42 persen mengaku rutin memantau perkembangn esports. Dari sisi penonton, 78 persen penonton esports di Indonesia adalah Generasi Z atau Milenial. Hal ini membuat penikmat esports di Indonesia sangat besar dan berpotensi terus berkembang.

Bahkan, dalam skena kompetitif MLBB, penonton ajang Mobile Legends Profesional League (MPL) Indonesia setiap musim bisa mencapai jutaan. MPL Indonesia musim ke-15 baru-baru ini bahkan mencapai rekor 4,1 juta penonton bersamaan.

Menurut laman Esports Charts, hal itu membuat MPL Indonesia musim 15 masuk ke daftar 10 ajang esports terpopuler sepanjang masa. MPL Indonesia pun merupakan kejuaraan nonglobal yang meraih capaian ini.

E-sport championship 2025 tingkat pelajar

Peserta bermain video game Mobile Legends saat E-Sport Championship 2025 tingkat pelajar di Pendopo Pengayoman Temanggung, Jawa Tengah, Temanggung, Jawa Tengah, Senin (28/4/2025). Pertandingan E-sport atau olahraga elektronik yang diselenggarakan oleh Diskominfo setempat bertujuan untuk menyalurkan hobi pelajar bermain video game, mengasah kemampuan strategi, sportifitas dan kerja sama tim sehingga bisa berprestasi dan mendapat hadiah. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/nz

Arief “Xoxo” Budiman, manajer tim Rex Regum Qeon (RRQ) Hoshi, memandang pesatnya perkembangan skena esports kompetitif membuat persaingan di tingkat profesional menjadi sangat ketat. Rivalitas antartim dan pemain dapat berlangsung panas dan mengundang pula tekanan dari para fan atau publik.

Dia menilai, yang menjadi pekerjaan utama di skena esports profesional adalah membuktikan diri. Alhasil, mentalitas pemain perlu dibentuk semakin kokoh agar tidak mudah mengalami penurunan performa.

Manajemen tim, kata Xoxo, tentu menyediakan tim pendukung yang juga profesional untuk membantu menangani kondisi kesehatan fisik dan mental para pemain. Selain itu, para pemain terus diingatkan untuk membangun komunikasi dan hubungan yang baik dengan sesama tim.

“Kalau main di level pro itu kayak butuh jam latihan panjang, mental baja, dan komitmen yang tinggilah. Tapi, kalau emang bener-bener passion dan siap kerja keras ya jalanin aja, nikmatin prosesnya. Karena, setiap gagal itu sebenernya cuma latihan sebelum sukses,” terang Arief kepada wartawan Tirto, Rabu (13/8/2025).

Manajer EVOS Esports, Iddo "Dojo" Alif Pratama, juga mengakui bahwa persaingan di level profesional semakin ketat sebab berbagai tim dengan pemain baru bermunculan memenuhi skena kompetitif. Karenanya, konsistensi performa serta mentalitas pemain menjadi fokus yang perlu dipersiapkan sebelum melenggang dalam kompetisi.

Menurutnya, porsi latihan dan evaluasi untuk level profesional akan sangat panjang dan menguras tenaga. Namun, manajemen selalu menekankan agar para pemain nyaman untuk mengungkapkan keresahan atau kendala yang dihadapinya. Dengan begitu, manajemendapat membantu mencarikan solusinya.

Pesan Iddo bagi pemuda yang ingin masuk skena esports profesional amat terkait dengan mentalitas. Menurutnya, jangan hanya melihat skena esports dari yang “enak-enak” saja.

Kuncinya, kata dia, pemain perlu disiplin dan membangun attitude yang baik. Iddo melihat batu sandungan utama yang membuat pemain jatuh adalah kurangnya kedewasaan diri. Oleh karena itu, dia mengingatkan bahwa esports merupakan kompetisi yang intens, jika gagal menguasai diri maka akan mudah tergelincir.

“Kamu juga enggak main sendiri, punya temen-temen yang main bareng kamu dan mereka juga belum tentu mencapai konsistensi yang diinginkan tim. Terus, yang kedua intens itu maksudnya ya hampir gak ada downtime ya, apalagi kalau misalnya tim-tim tier 1 gitu,” ujar Iddo ketika menceritakan suasana skena profesional esports kepada wartawan Tirto.

Baca juga artikel terkait ESPORTS atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Decode
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Fadrik Aziz Firdausi