tirto.id - Bagi Ismi Ulfaida, menjadi calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) mungkin tidak pernah masuk dalam daftar cita-citanya. Namun, pada 17 Agustus 2026 nanti, siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 22 Polewali Mandar, Sulawesi Barat, itu akan menjadi bagian dari upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara.
Ismi, 16 tahun, resmi terpilih sebagai Calon Paskibraka Tingkat Pusat 2026. Ia menjadi satu dari 76 putra-putri yang terpilih mewakili 38 provinsi sekaligus menjadi siswi Sekolah Rakyat pertama yang berhasil menembus seleksi Paskibraka tingkat nasional.
Nama Ismi diumumkan sebagai perwakilan Sulawesi Barat pada 22 Juni 2026. Bagi gadis asal Desa Bonra, Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar, itu menjadi pencapaian yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Ini baru pertama kalinya saya menjadi Paskibra,” ujar Ismi malu-malu saat ditemui di Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Sebelum bersekolah di SRT 22 Polewali Mandar, Ismi tidak memiliki pengalaman sebagai anggota pasukan pengibar bendera. Saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, ia bahkan belum pernah mengikuti kegiatan tersebut di sekolah.
Kehidupan sehari-hari Ismi juga jauh dari bayangan tentang pendidikan dan pelatihan Paskibraka tingkat nasional. Ia merupakan anak ketiga dari pasangan Rahman dan Suburia. Ayah dan ibunya bekerja sebagai buruh tani, sementara Ismi tinggal bersama kedua orangtua dan empat saudaranya di rumah semi permanen seluas 74 meter persegi.
Kesempatan mengenal dunia baris-berbaris justru datang ketika Ismi masuk Sekolah Rakyat. Melalui ekstrakurikuler Pramuka, ia mulai mengenal latihan kedisiplinan dan baris-berbaris.
Dari sana, ketertarikannya berkembang. Apalagi, Sekolah Rakyat tidak hanya memberi kesempatan Ismi mengikuti seleksi Paskibraka, tetapi juga menyiapkan berbagai pembinaan. Ia mendapatkan bimbingan Wawasan Kebangsaan, Intelegensia Umum, pengayaan kesenian, hingga latihan baris-berbaris secara rutin.
Motivasi Ismi semakin kuat setelah melihat Bianca Alessia Christabella Lantang, pembawa baki Paskibraka Nasional 2025 asal Sulawesi Utara. Ismi mengenal Bianca melalui media sosial. Sosok tersebut kemudian menjadi salah satu alasan Ismi ingin mencoba mengikuti jejaknya.
Keinginan itu membawa Ismi mengikuti proses seleksi yang diselenggarakan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Seleksi dilakukan secara berjenjang dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional.
Bukan hanya kemampuan baris-berbaris yang diuji. Para peserta harus melewati verifikasi administrasi, Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Intelegensia Umum (TIU), tes kesamaptaan, tes kepribadian, serta minat dan bakat. Pada tingkat provinsi, Ismi juga harus menjalani psikotes.
Persaingan yang dihadapi tidak ringan. Total terdapat 119.441 pendaftar dalam proses seleksi Paskibraka 2026. Ismi sendiri awalnya hanya memasang target untuk lolos sebagai anggota Paskibraka tingkat provinsi.
Hasilnya justru melampaui harapan. Setelah melewati seluruh tahapan seleksi, Ismi dinyatakan lolos hingga tingkat nasional. Ia kemudian harus meninggalkan sementara kedua orangtuanya di Polewali Mandar untuk mengikuti karantina serta pendidikan dan pelatihan terpusat di Jakarta.
Perpisahan dengan orangtua menjadi bagian yang paling berat bagi Ismi. Sebelum berangkat ke Jakarta, ia masih dapat bertemu dengan orangtuanya setiap dua minggu di Sekolah Rakyat. Kini, jarak membuat pertemuan itu tidak lagi mudah dilakukan.
Namun, kerinduan tersebut ia jadikan alasan untuk berlatih lebih sungguh-sungguh. Ismi ingin pencapaiannya menjadi kebanggaan bagi kedua orangtuanya.
“Mama, Papa, sehat-sehat ya di sana, jaga kesehatan, tunggu Ismi pulang,” kata Ismi.
Sejak 14 Juli 2026, Ismi menjalani Pembinaan dan Pelatihan Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka Tingkat Pusat 2026. Alih-alih kesulitan mengikuti pola latihan yang ketat, ia justru merasa terbantu oleh kebiasaan disiplin yang sudah dibangun selama berada di Sekolah Rakyat.
Rutinitas di tempat pelatihan bahkan terasa tidak asing baginya.
“Bangun tidur, terus mandi, sholat. Habis itu olahraga pagi, lanjut latihan sampai jam tujuh, ishoma, latihan lagi sampai jam lima sore, sholat Maghrib, makan malam, sholat Isya. Kalau ada materi, materi dulu. Kalau enggak ada, langsung istirahat. Mirip di Sekolah Rakyat,” kata Ismi menceritakan sekilas kesehariannya saat pelatihan.
Kini, Ismi tinggal menunggu hari ketika hasil latihan selama berbulan-bulan itu diuji di hadapan publik. Ia bertekad memberikan kemampuan terbaik pada upacara 17 Agustus sekaligus membawa nama baik keluarga, sekolah, dan daerah asalnya.
Sebagai satu-satunya siswa Sekolah Rakyat yang berhasil melaju hingga tingkat nasional, Ismi juga tidak ingin pencapaiannya berhenti sebagai prestasi pribadi. Ia berharap kisahnya dapat menyemangati anak-anak lain untuk berani mengejar mimpi.
“Untuk teman-teman di luar sana, tetap semangat ya. Jangan putus asa, jangan mudah menyerah,” kata Ismi.
Keberhasilan Ismi juga menjadi catatan tersendiri bagi Program Sekolah Rakyat. Wakil Kepala BPIP selaku Pengarah Program Paskibraka, Rima Agristina, menyebut program tersebut telah membuka kesempatan bagi siswa Sekolah Rakyat untuk mengikuti seleksi Paskibraka.
“Kami mencatat ada 170 siswa Sekolah Rakyat yang mendaftar untuk ikut Program Paskibraka ini. Ini juga apresiasi untuk Kementerian Sosial dan juga semua pelaksanaan dari Sekolah Rakyat karena berhasil memberikan kesempatan kepada adik-adiknya untuk mengikuti program ini,” kata Rima.
Dari 170 siswa Sekolah Rakyat yang mendaftar, 48 siswa berhasil lolos pada tingkat kabupaten/kota. Dua siswa kemudian melaju ke tingkat provinsi. Ismi menjadi satu-satunya siswa Sekolah Rakyat yang berhasil menembus seleksi hingga tingkat nasional pada 2026.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id





























