tirto.id - Silsilah KH Hasyim Asy'ari menjadi informasi yang dicari saat peringatan Hari Santri Nasional. KH Hasyim Asy'ari adalah ulama yang memegang peranan penting dalam sejarah perjuangan dan pengembangan Islam di Indonesia, tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU), dan pengusung Resolusi Jihad santri.
Adapun silsilah keluarga KH Hasyim Asy'ari berkaitan dengan garis keturunan dari kedua orang tuanya, yaitu Kiai Asy’ari (ayah) dan Nyai Halimah (ibu). KH Hasyim Asy'ari merupakan anak ketiga dari sebelas bersaudara.
Berkecimpung di pesantren-pesantren Jawa dan Madura sekaligus sempat mengenyam pendidikan di Makkah, KH Hasyim Asy'ari berperan penting saat melawan pendudukan. Ia pernah menghadapi dampak dari Agresi Militer Belanda II pasca-proklamasi, lalu mempertahankan kemerdekaan negara lewat Resolusi Jihad tanggal 22 Oktober 1945.
Silsilah KH Hasyim Asy’ari, Apakah Termasuk Keturunan Nabi?
Penelusuran mengenai silsilah KH Hasyim Asy’ari dapat ditinjau sejak kelahirannya pada Selasa Kliwon, 24 Zulkaidah 1287 H, atau 14 Februari 1871 M di Desa Tambakrejo, Jombang. Dari orang tua KH Hasyim Asy'ari bernama lengkap Muhammad Hasyim bin Asy’ari (ayah).
KH Hasyim Asy’ari berasal dari keluarga pendiri pesantren di Jawa Timur. Ayahnya adalah pendiri Pesantren Keras di Jombang, sementara kakeknya (ayah dari sang ibu) merupakan pengasuh Pesantren Gedang.
Pesantren Gedang merupakan pesantren yang terkenal pada akhir abad ke-19. Selain menjadi tempat belajar ilmu agama, di pesantren itu pula ayah Hasyim Asy’ari bertemu dengan Nyai Halimah (ibu).
Silsilah KH Hasyim Asy’ari menurut garis sang ibu merupakan keturunan darah biru atau bangsawan. Muhammad Rifai dalam buku KH Hasyim Asy’ari: Biografi Singkat 1871-1947 (2009) dengan mengutip penuturan KH Abdul Wahab Hasbullah menjelaskan, nasab KH Hasyim Asy’ari bersambung hingga para pejabat Kerajaan Majapahit dan Demak.
Jika menelisik lebih dalam, nasab Kyai Hasyim Asy’ari bisa dipantau hingga Raja Brawijaya VI atau yang juga dikenal dengan nama Lembu Peteng. Lembu Peteng memiliki beberapa putra, termasuk Jaka Tingkir atau dikenal dengan nama Mas Karebet.
Jaka Tingkir merupakan sosok pendekar yang terkenal dengan ilmu kanuragan serta keislamannya. Salah satu jasanya adalah menyebarkan agama Islam di daerah Pasuruan, Jawa Timur.
Ia menikahi putri raja ketiga Kesultanan Demak (Sultan Trenggono), lalu memiliki putra bernama Pangeran Benawa. Pangeran Benawa adalah sosok yang tak menyukai urusan duniawi, termasuk enggan mewarisi jabatan di kerajaan dan memilih untuk menjadi guru tarekat di Kudus.
Pangeran Benawa kemudian memiliki putra bernama Pangeran Sambo (nama aslinya Muhammad). Silsilah bersambung ke Pangeran Sambo yang memiliki putra bernama Ahmad.
Ahmad memiliki putra bernama Abdul Jabbar, kemudian juga mempunyai keturunan bernama Kiai Sichah. Adapun Kiai Sichah punya putri bernama Nyai Lajjinah (Layyinah).
Nyai Lajjinah kemudian menikah dengan Kiai Usman, kakek KH Hasyim Asy'ari dari pihak ibu. Kiai Usman adalah ayah dari Nyai Halimah, ibu salah satu tokoh pendiri NU tersebut.
Sementara itu, nasab Kyai Hasyim Asy’ari dari jalur sang ayah menunjukkan bahwa dirinya masih keturunan dari Nabi Muhammad SAW. Penelusuran silsilah KH Hasyim Asy'ari sampai Nabi Muhammad ini merujuk garis seorang ulama Wali Songo, yakni Sunan Giri.
Nasab KH Hasyim Asy’ari dari Sunan Giri sampai ke Nabi Muhammad adalah dari jalur Husain bin Ali RA, Ali Zainal Abidin, dan seterusnya. Catatan nasab Sunan Giri tersebut merupakan pendapat Saadah Baalawi dari Hadramaut, Yaman.
Penjelasan mengenai garis keturunan KH Hasyim Asy'ari yang bertemu dengan Nabi Muhammad ini dipercaya sebagai sumber yang sahih di beberapa pesantren wilayah Jawa Timur.
Dengan demikian, dari garis ayahnya, silsilah keluarga KH Hasyim Asy’ari adalah sebagai berikut: Muhammad Hasyim bin Asy’ari bin Abu Sarwan bin Abdul Wahid bin Abdul Halim bin Addurrohman (Pangeran Samhud Bagda) bin Abdul Halim (Pangeran Benawa) bin Abdurrohman (Sultan Pajang) bin Raden Ainul Yaqin (Sunan Giri) bin Maulana Ishaq.
Supriyadi dalam buku Ulama Pendiri, Penggerak, dan Intelektual NU dari Jombang (2015) membenarkan silsilah tersebut. Menurutnya, jalur silsilah Mbah Hasyim dari ayahnya bersambung dari Maulana Ishaq hingga Imam Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir, cicit dari Husain bin Ali (putra Nabi Muhammad SAW).
Prestasi KH Hasyim Asy’ari
Lahir dari keluarga pendiri pesantren, KH Hasyim Asy’ari tumbuh dengan ilmu agama yang mumpuni. Tidak hanya menjalankan pembelajaran agama di pesantren-pesantren Jawa dan Madura, pendidikan KH Hasyim Asy’ari juga ditempuh hingga ke tanah suci Makkah. Semuanya demi mewujudkan cita-cita untuk mendirikan pesantren.
Prestasi KH Hasyim Asy’ari tidak bisa terlepas dari berdirinya lembaga pendidikan Pesantren Tebuireng. Di tengah penjajahan Belanda pada abad ke-19, kejahatan terjadi di mana-mana, begitu pun dengan kemiskinan yang dialami masyarakat.
Hal demikian juga terjadi di tempat tinggal KH Hasyim Asy’ari, yakni di Dukuh Cukir, Desa Tebuireng. Heru Sukardi dalam bukunya Kiai Haji Hasyim Asy’ari: Riwayat Hidup dan Pengabdiannya (1985) menuliskan, Kiai Hasyim merasa terpanggil untuk memperbaiki penduduk desa yang sedang dilanda krisis.
KH Hasyim Asy’ari bertekad mendirikan pesantren, yang kemudian dicegah oleh teman-temannya. Kawan-kawan tokoh ini berpendapat bahwa tempat tersebut tak layak untuk didirikan sebuah pesantren.
Dengan tekad berjihad, KH Hasyim Asy’ari memulai cita-citanya dengan membeli sebidang tanah di Desa Tebuireng. Di atas sebidang tanah itu, Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan Pesantren Tebuireng pada 26 Rabiulawal 1317 Hijriah atau tahun 1899 Masehi.
Perjalanan Pesantren Tebuireng tidaklah mudah, terlebih dengan banyaknya penolakan dari lingkungan sekitar. Sejak berdiri hingga dua setengah tahun kemudian, para santri di Pondok Pesantren Tebuireng selalu siaga.
Setelah salat Isya, di waktu-waktu menjelang tidur, para santri tidak ada yang berani merapatkan badannya ke dinding. Mereka takut terkena tusukan senjata tajam oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Meskipun begitu, perjuangannya di Tebuireng membuahkan hasil yang sepadan. Seiring berjalannya waktu, pesantren ini berhasil memberikan pengaruh luas terhadap pondok-pondok lain di Jawa.
Kiprah KH Hasyim Asy’ari pun menjadi semakin meluas. Selain mendirikan pesantren, prestasi KH Hasyim Asy’ari lainnya adalah menginisiasi pembentukan organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) bersama KH Wahab Hasbullah.
Pada 31 Januari 1926, KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah bersama kiai-kiai lainnya memutuskan untuk mendirikan NU. Tujuan utamanya adalah menguatkan Islam tradisional di Hindia Belanda.
Chairul Anam dalam buku Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama menuliskan, latar belakang pendirian NU adalah adanya kesadaran mengenai belum adanya organisasi untuk mempersatukan para ulama di tengah upaya pergerakan melawan penjajah.
KH Hasyim Asy’ari awalnya menduduki posisi Rais Akbar NU, bahkan hingga akhir hayat. Mengenai NU, Kiai Hasyim Asy’ari memiliki keyakinan bahwa tanpa persatuan dan kebangkitan ulama, akan ada potensi bagi pihak lain untuk mengadu domba, terlebih dalam masa penjajahan.
Organisasi ini pun kemudian tidak hanya memiliki kaitan dengan pesantren dan ritual keagamaan saja. Di dalam NU juga membahas masalah sosial, ekonomi, serta kehidupan masyarakat secara menyeluruh.
Berdirinya NU lewat inisiasi KH Hasyim Asy’ari dan kiai lainnya memberi kontribusi nyata dalam kemerdekaan Indonesia. Saat terjadi Agresi Militer II Belanda, kedaulatan milik negara Indonesia yang baru saja diumumkan lewat proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 terancam.
Dalam situasi tersebut, Presiden Soekarno mengirim utusannya untuk bertemu KH Hasyim Asy’ari. Munculah Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy’ari yang memiliki pengaruh besar dalam menumbuhkan keberanian masyarakat.
Baik laki-laki dan perempuan, khususnya kalangan santri, berupaya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sejarah tersebut masih menjadi kenangan perjuangan KH Hasyim Asy'ari hingga puluhan tahun mendatang.
KH Hasyim Asy'ari wafat pada 25 Juli 1947. Atas perannya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, KH Hasyim Asy'ari dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional pada 17 November 1964.
Keteladanan Apa yang Bisa Diambil dari KH Hasyim Asy'ari?
Setelah mengenyam studi Islam di pesantren di Jawa dan Madura, KH Hasyim Asy'ari sempat belajar selama tujuh tahun di Makkah. Hasyim giat mempelajari ilmu agama dari para guru di sana, termasuk Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, seorang ulama asal Indonesia yang menjadi Mufti Mazhab Syafi’i di Masjidil Haram.
Dari proses pembelajaran yang pernah KH Hasyim Asy'ari dapatkan, ada teladan mengenai diperlukannya cinta terhadap ilmu. Bahkan, dirinya tak segan menghabiskan waktu bertahun-tahun di tanah yang bukan tempat kelahirannya.
Di Indonesia, salah satu kontribusi penting KH Hasyim Asy’ari adalah memimpin perjuangan kaum santri melawan penjajah. Hal itu terjadi ketika Brigade 49 Divisi India Tentara Inggris tiba di Indonesia, sebagai dampak dari Agresi Militer II Belanda.
Teladan kepemimpinan dan perjuangannya bersama para santri kala itu tampak melalui Resolusi Jihad NU, dirumuskan pada 22 Oktober 1945. Resolusi Jihad besutan KH Hasyim Asy'ari kemudian menjadi dasar penetapan Hari Santri yang diperingati setiap 22 Oktober.
Penetapan ini menegaskan bahwa santri memiliki peranan dalam kemerdekaan bangsa Indonesia. Secara tersirat lewat seruan tersebut, KH Hasyim Asy'ari juga membawa nilai pentingnya semangat nasionalisme dan patriotisme.
Ingin membaca lebih banyak informasi mengenai tokoh-tokoh yang berperan penting dalam sejarah Indonesia? Pastikan untuk mengakses berbagai artikel terbaru seputar profil tokoh di sini.
Editor: Fadli Nasrudin
Penyelaras: Yuda Prinada
Masuk tirto.id





































