Menuju konten utama

Siapa Pemilik PT Ormat Geothermal Indonesia, Benarkah Israel?

Simak profil PT Ormat Geothermal Indonesia yang menangkan lelang di Halmahera. Kemunculan perusahaan ini menuai kritik karena diduga terafiliasi Israel.

Siapa Pemilik PT Ormat Geothermal Indonesia, Benarkah Israel?
Salah satu geothermal power Ormat yang ada di Indonesia/website PT Ormat.

tirto.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia menetapkan PT Ormat Geothermal Indonesia sebagai pemenang lelang Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Telaga Ranu yang berlokasi di Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara.

Dalam pengumuman Nomor 5.Pm/EK.04/DJE.P/2026, PT Ormat Geothermal Indonesia yang beralamat di Dea Tower II Lantai 8, Jalan Mega Kuningan Barat, Jakarta diberi hak untuk mengembangkan dan mengusahakan potensi panas bumi di wilayah Telaga Ranu sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Penetapan pemenang lelang ini mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2017 tentang Panas Bumi untuk Pemanfaatan Langsung serta Peraturan Menteri ESDM Nomor 37 Tahun 2018 tentang Wilayah Kerja Panas Bumi, Pemberian Izin Panas Bumi, dan Penugasan Pengusahaan Panas Bumi.

PT Ormat Geothermal Indonesia adalah bagian dari perusahaan induk Ormat Technologies, Inc. yang berkantor pusat di Nevada, Amerika Serikat.

Profil Ormat Technologies, Inc.

Ormat Technologies, Inc. adalah perusahaan energi terbarukan global dengan pengalaman lebih dari lima dekade dalam mengembangkan, membangun, memiliki, dan mengoperasikan pembangkit listrik berbasis panas bumi (geothermal) dan recovered energy generation (REG).

Ormat mengelola seluruh rantai nilai bisnisnya, mulai dari eksplorasi sumber daya, perancangan teknologi, manufaktur peralatan, konstruksi pembangkit, hingga kepemilikan dan operasional aset.

Inti dari teknologi Ormat adalah Ormat Energy Converter (OEC), unit pembangkit yang mampu mengonversi panas bersuhu rendah, menengah, hingga tinggi menjadi listrik secara efisien.

Dilansir dari laman resminya, hingga kini, Ormat telah merekayasa, memproduksi, dan membangun pembangkit listrik dengan total kapasitas kotor sekitar 3.400 MW di berbagai belahan dunia.

Portofolio pembangkitan yang dimiliki dan dioperasikan perusahaan mencapai sekitar 1,5 GW, terdiri dari 1,2 GW aset panas bumi dan surya yang tersebar di Amerika Serikat, Kenya, Guatemala, Indonesia, Honduras, dan Guadeloupe, serta sekitar 290 MW portofolio penyimpanan energi yang berlokasi di Amerika Serikat.

Didirikan pada tahun 1965 oleh Lucien Y. Bronicki dan Dita Bronicki, Ormat berawal dari pengembangan turbin surya berbasis teknologi Organic Rankine Cycle (ORC). Unit ORC bertenaga surya pertama berkapasitas 600W dipasang di Mali pada tahun 1966 untuk menggerakkan pompa air listrik.

PT Ormat Geothermal Indonesia

PT Ormat Geothermal Indonesia. foto/Dok. Ormat

Pada dekade 1970-an, perusahaan memasok unit pembangkit untuk industri telekomunikasi serta pipa gas dan minyak, termasuk proyek di Alaska yang sebagian unitnya masih beroperasi hingga kini.

Pasca krisis minyak 1973, Ormat kembali memperkuat riset tenaga surya dan membangun Solar Pond Power Plant berkapasitas 5 MW yang beroperasi pada awal 1980-an.

Namun, penurunan harga minyak mendorong perusahaan memfokuskan kembali bisnisnya pada panas bumi dan pemanfaatan panas buangan (waste heat recovery), yang kemudian menghasilkan lebih dari 100 paten teknologi sistem pembangkit dan komponennya.

Memasuki era 1980-an dan 1990-an, Ormat berevolusi dari pemasok peralatan menjadi kontraktor turnkey sekaligus pemilik dan operator pembangkit. Proyek-proyek penting termasuk Wabuska 700 kW, pembangkit ORC komersial pertama di AS, serta Ormesa I 30 MW.

Ormat juga mengembangkan Geothermal Combined Cycle Plant pertama yang dipatenkan di Puna, Hawaii, dan memperluas proyek Build-Operate-Transfer (BOT) serta Build-Own-Operate (BOO) di Filipina dan Kenya, termasuk kompleks Olkaria III yang kini mencapai 150 MW.

Pada tahun 2004, Ormat melantai di Bursa Efek New York (NYSE: ORA) dan berkantor pusat di Reno, Nevada, memperkuat kapasitas pendanaan dan ekspansi globalnya. Ekspansi berlanjut ke Turki pada 2006 melalui proyek DORA 1, serta berbagai proyek REG di sepanjang jaringan pipa gas Amerika Serikat.

Ormat juga terlibat dalam proyek-proyek besar seperti Ngatamariki 100 MW di Selandia Baru dan Sarulla 330 MW di Indonesia, salah satu kompleks panas bumi terbesar di dunia.

Seiring perkembangan pasar energi global, Ormat memperluas bisnisnya ke penyimpanan energi (energy storage), termasuk akuisisi Viridity Energy dan pengoperasian proyek-proyek baterai skala utilitas di PJM, Texas (Rabbit Hill), dan California (Pomona).

Apakah PT Ormat Technologies Didanai Israel?

Kantor pusat Ormat berada di Reno, Nevada, Amerika Serikat, sedangkan fasilitas manufaktur utamanya berlokasi di Yavne, Israel, serta satu fasilitas manufaktur tambahan di Turki.

Sebagai perusahaan publik, Ormat tercatat di dua bursa saham, yaitu New York Stock Exchange (NYSE) dan Tel Aviv Stock Exchange (TASE). Ini mencerminkan basis investor internasional sekaligus keterkaitannya dengan Israel.

Pada 31 Maret 2014, media The Times of Israel menyoroti bahwa meskipun Israel dan Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik resmi, teknologi Israel melalui Ormat akan menyediakan listrik bagi masyarakat Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.

Pengakuan terhadap kontribusi global Ormat juga terlihat ketika pada tahun 2013 perusahaan ini dinobatkan sebagai “Exporter of the Year” oleh Kementerian Ekonomi Israel, bukan hanya atas kinerja tahunan, namun juga atas perannya sebagai pemimpin dunia dalam pengembangan sistem energi panas bumi.

Hal ini menegaskan posisi Ormat sebagai perusahaan teknologi energi terbarukan berskala global dengan akar historis Israel dan jejak operasional lintas benua.

Baca juga artikel terkait PERUSAHAAN ASING atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Insider
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra