tirto.id - Siapa Letkol Untung Syamsuri yang menjadi salah satu tokoh dalam sejarah Gerakan 30 September (G30S) 1965? Simak artikel untuk mengetahui peran Komandan Batalyon Pasukan Cakrabirawa ini dalam peristiwa G30S dan hukumannya usai kejadian.
Peristiwa G30S 1965 yang menyeret Partai Komunis Indonesia (PKI) masih menyisakan kontroversi sekaligus misteri. Pada pergantian malam tanggal 30 September ke 1 Oktober 1965, terjadi penculikan dan pembunuhan terhadap sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat (AD).
Cakrabirawa alias pasukan pengamanan presiden saat itu bergerak untuk mengatasi Dewan Jenderal, para perwira TNI AD yang diisukan akan menggulingkan Sukarno. Letnan Kolonel Untung adalah salah satu pemimpin Batalyon Cakrabirawa tersebut.
Profil Letkol Untung dan Karier Militernya
Siapa Letkol Untung Syamsuri? Ia lahir dengan nama kecil Kusman di Kebumen, Jawa Tengah, tanggal 3 Juli 1927.
Sejak kecil, Kusman alias Untung menjadi anak angkat pamannya yang bernama Syamsuri. Dari sini, sebutan lengkap nama Untung Syamsuri muncul.
Selepas menamatkan pendidikan dasar, Kusman meneruskan studinya ke sekolah dagang, tetapi belum sempat tamat lantaran pasukan Jepang masuk ke Indonesia pada 1942. Jepang menguasai Indonesia setelah Belanda menyerah dalam suasana Perang Dunia II itu.
Kusman kemudian memutuskan bergabung dengan Heiho atau Tentara Pembantu bentukan Jepang pada 1943. Dari sini, karier militer Kusman mulai terbentuk.
Setelah Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, Kusman yang merupakan mantan anggota Heiho menjadi anggota angkatan perang Republik Indonesia dengan pangkat sersan.
Dalam perang mempertahankan kemerdekaan yang sudah dimulai sejak 1945 lantaran Belanda kembali dan ingin berkuasa di Indonesia lagi, Kusman bergabung dengan Batalyon Sudigdo dengan wilayah operasi di Wonogiri, Jawa Tengah.
Pada 1948, Kusman bersama Batalyon Sudigdo terlibat dalam peristiwa yang disebut pemberontakan PKI Madiun. Setelah peristiwa itu, Kusman mengganti namanya menjadi Untung Syamsuri dan kembali bergabung dengan TNI.
Sekitar tahun 1950-an, Untung naik pangkat menjadi kapten atau mayor dan memimpin Batalyon Banteng Raiders di Semarang. Memasuki tahun 1958, Untung yang kala itu berpangkat letnan satu terlibat dalam operasi penumpasan PRRI/Permesta di Sumatera Barat.
Karier militer Untung semakin melejit ketika ia ikut dalam operasi Trikora (Tiga Komando Rakyat) melawan Belanda di Papua Barat pada 1962. Atas sumbangsihnya, Untung menerima penghargaan berupa Bintang Sakti dari Presiden Sukarno.
Apesnya, beberapa tahun kemudian, karier Letkol Untung Syamsuri seketika hancur. Ada pernyataan bahwa dirinya bersalah karena terlibat dalam peristiwa berdarah G30S 1965.
Apa Peran Letkol Untung di G30S/PKI?
“Sore hari tanggal 30 September (1965), saya diberi pengarahan oleh komandan kompi saya," ungkap Sersan Mayor Bungkus dalam artikel "The World of Sergeant-Major Bungkus: Two Interviews with Benedict Anderson and Arief Djati" yang dimuat di jurnal Indonesia edisi Oktober 2004 volume 78 terbitan Universitas Cornell.
Komandan kompi yang Serma Bungkus maksud adalah Letnan Satu Dul Arif. Serma Bungkus menirukan kembali bunyi perintah dari Lettu Dul Arif:
“Komandan Batalyon kita telah menugaskan saya (Lettu Dul Arif) memegang unit Cakra berangkat dalam sebuah misi. Ada kelompok jenderal yang disebut Dewan Jenderal yang hendak mengkudeta Presiden (Sukarno)."
Sang pemberi tugas tersebut adalah Letkol Untung. Kala itu, ia menjabat posisi Komandan Batalyon I Resimen Cakrabirawa dan disebut-sebut sebagai pemimpin Gerakan 30 September (G30S) 1965.
Pasukan Cakrabirawa wajib menjaga keselamatan Presiden Sukarno. Kala itu, tersiar desas-desus bahwa ada sejumlah perwira tinggi militer alias Dewan Jenderal yang ingin mengambil-alih kekuasaan dari Sukarno.
Dari isu ini, pasukan Cakrabirawa bergerak ke kediaman para jenderal tersebut, menculik, atau bahkan langsung menembak beberapa orang di antaranya. Kemudian pasukan membawa korban ke Lubang Buaya, Jakarta Timur.
Letkol Untung sendiri masih bertugas pada malam 30 September 1965 itu, yakni mengawal Presiden Sukarno yang sedang menghadiri suatu acara di Senayan. Setelah tugasnya selesai, Letkol Untung bergegas ke Lubang Buaya.
Pagi harinya, tanggal 1 Oktober 1965, Letkol Untung melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI) menyatakan bahwa telah ditumpas sebuah gerakan Dewan Jenderal yang diduga akan melakukan kudeta terhadap kekuasaan Presiden Sukarno sebelum tanggal 5 Oktober 1965.
Apa Hubungan Letkol Untung dengan Soeharto?
Ada pendapat yang menyebutkan kedekatan Letkol Untung Syamsuri dengan Soeharto. Salah satunya muncul dari pendapat Letkol CPM (Purnawirawan) Suhardi, teman dekat Untung.
Sebagaimana penjelasan Suhardi kepada Tempo pada 2009 silam, setelah tahun 1948, Untung Syamsuri pernah menjalankan tugas di Solo, Jawa Tengah. Soeharto pada masa itu sedang menjabat sebagai Komandan Komando Resor Militer di sana.
Kemudian Soeharto naik pangkat menggantikan Gatot Subroto untuk mengisi posisi Panglima Divisi Diponegoro. Untung mengikuti langkah Soeharto ke divisi yang berlokasi di Semarang tersebut.
Di sana, Untung Syamsuri mengisi posisi sebagai anggota Batalion 454 Kodam Diponegoro alias Banteng Raiders. Kedekatannya dengan Soeharto semakin tampak saat adanya operasi pembebasan Irian Barat (Papua) pada 14 Agustus 1962 silam.
Untung bersama dua kompi Banteng Raiders masuk ke dalam deretan nama anggota Cakrabirawa mulai pertengahan tahun 1964. Saat itu, Soeharto yang sudah memimpin Kostrad merupakan pihak yang memberikan rekomendasi pengisian anggota pasukan pengamanan presiden tersebut.
Nasib Letkol Untung Usai G30S 1965, Dihukum Apa?
Setelah gerakan yang terjadi di malam 30 September atau dini hari 1 Oktober 1965 itu, Letkol Untung awalnya bangga menyatakan dirinya sebagai Ketua Dewan Revolusi. Terlebih ia berhasil menumpas gerakan yang diduga akan melakukan kudeta terhadap Presiden.
Kendati demikian, hal tersebut hanya bersifat sementara. Peristiwa berdarah itu menguncang negara, bahkan menyebabkan Letkol Untung Syamsuri tiba-tiba menghilang sejak 2 Oktober 1965.
Sebagaimana laporan pers saat itu, mengutip buku Kehormatan bagi yang Berhak: Bung Karno Tidak Terlibat G30S/PKI (2008) karya Manai Sophiaan, Letkol Untung kemudian diketahui berusaha kabur ke luar Jakarta dengan naik bus.
Pada 11 Oktober 1965, sampai di Tegal, Jawa Tengah, ada tentara yang tidak ia kenal menaiki bus. Barangkali panik sekaligus apes, Untung Syamsuri melompat ke luar bus tersebut. Kemudian jatuh dan menghantam tiang listrik.
Lagi-lagi nasib Untung buntung. Saat jatuh dari bus, massa mengira bahwa Untung adalah copet sehingga melayangkan pukulan.
Letkol Untung terpaksa mengaku bahwa dia adalah anggota pasukan Cakrabirawa alias pasukan pengawal keamanan presiden. Ia menjalani proses pemeriksaan, lalu dihadapkan ke sidang Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) pada awal 1966.
Dinukil dari Gerakan 30 September di hadapan Mahmilub: Perkara Untung (1966) terbitan Pusat Pendidikan Kehakiman Angkatan Darat, Letnan Kolonel Untung Syamsuri kena pecat secara tidak hormat dari pangkat dan jabatannya dalam dinas ketentaraan. Hal itu termaktub dalam Keputusan Presiden/Pangti ABRI/KOTI/nomor 171/KOTI/1965.
Soebandrio dalam Kesaksianku tentang G-30-S (2000) menjelaskan tentang kehidupan Untung setelah putusan tersebut. Untung menjalani penahanan di instalasi rehabilitasi di Cimahi, Jawa Barat, sembari menunggu keputusan hukumnya.
Tanggal 6 Maret 1966, Mahmilub menjatuhkan vonis hukuman mati kepada Untung Syamsuri. Menurut kesaksian Soebandrio, Untung optimistis tak akan memperoleh hukuman eksekusi mati dan merasa yakin akan ditolong Soeharto.
Soeharto, yang Untung kenal saat merintis karier di angkatan perang RI, kala itu sudah berpangkat letnan jenderal. Ia menjabat sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad) menggantikan Letjen Ahmad Yani, salah satu korban G30S.
Letkol Untung Syamsuri tidak menyangka, pada 7 Maret 1966, terbit surat keputusan dari Menpangad Letjen Soeharto yang menyatakan setuju atas keputusan eksekusi mati terhadap Untung.
Untung melalui pembela hukumnya sempat mengajukan grasi. Alih-alih mendapatkan keringanan hukuman, Letkol Untung Syamsuri pada akhirnya dieksekusi mati di sebuah desa di Cimahi, Jawa Barat.
Pastikan juga untuk membaca berbagai artikel aktual mengenai peristiwa G30S 1965 lainnya di sini.
Penulis: Alhidayath Parinduri
Editor: Iswara N Raditya
Penyelaras: Yuda Prinada
Masuk tirto.id






































