tirto.id - Nama Sersan Mayor atau Serma Boengkoes muncul dalam sejarah Indonesia sebagai salah satu bagian dari Resimen Cakrabirawa, pasukan pengamanan presiden yang bertugas pada beberapa tahun terakhir di era Orde Lama dan diklaim terlibat dalam G30S 1965. Lantas, apa peran Serma Boengkoes dalam peristiwa tersebut?
Pada akhir kepemimpinan Soekarno, pasukan Cakrabirawa muncul sebagai kelompok yang diklaim melakukan penculikan terhadap sejumlah perwira TNI AD, dikenal sebagai Dewan Jenderal. Aksi penculikan itu merupakan Gerakan 30 September 1965 (G30S 1965).
Kolonel Untung, saat itu menjabat sebagai komandan Cakrabirawa di Batalyon KK I, menunjuk Letnan Satu Dul Arif sebagai pemimpin pelaksana aksi. Akan tetapi, eksekutor penculikan kebanyakan berpangkat rendah, salah satunya Sersan Mayor Boengkoes yang bertugas memimpin penculikan Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo (M.T.) Haryono.
Siapa Serma Boengkoes dan Jabatannya?
Serma Boengkoes atau Serma Bungkus lahir di Situbondo, Jawa Timur, pada 1 Agustus 1927. Keinginannya untuk menjadi tentara dan bergelut di bidang kemiliteran negara sudah terpupuk sejak masa kanak-kanak.
Boengkoes mengisahkan masa kecilnya tersebut kepada Bennedict Anderson dalam sebuah wawancara panjang. Hasil wawancara sejarah Serma Bungkus itu terbit di Jurnal Indonesia (Oktober, 2004).
Sebagaimana anak-anak pada umumnya, cita-cita Boengkoes untuk menjadi serdadu muncul dari insting sederhana. Setiap kali kakak-kakaknya pulang dari pelatihan Pembela Tanah Air (PETA) di Muncar, Banyuwangi, Boengkoes tergugah karena melihat mereka sangat gagah.
Pada usia sekolah dasar, Boengkoes beberapa kali mendaftar sebagai serdadu. Mulai dari pasukan Kaigun (Angkatan Laut Jepang) hingga Djibakutai pernah ia jajaki, meskipun gagal diterima karena tubuhnya yang kecil.
Kendati demikian, cita-cita itu akhirnya terwujud. Ketika masih duduk di kelas 5 SD, Boengkoes tergabung dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR), tepatnya di Batalion Semut Merah.
Sejak saat itu, karier militer Bungkus mulai naik pelan-pelan. Dari Kesatuan Semut Merah, Boengkoes mendapatkan kesempatan promosi ke Batalion Anjing Laut yang dipimpin Mayor Ernest Julius Magenda.
Di batalion 448, Boengkoes bertemu dengan Dul Arif dan Djahurup. Seiring waktu, ketiga prajurit ini bersahabat sampai kemudian sama-sama menjalankan tugas di Pasukan Cakrabirawa.
Salah satu pengikat persahabatan mereka adalah asal usul yang sama. Ketiganya berasal dari Karesidenan Besuki, meskipun berbeda kabupaten. Kepada Ben Anderson dan Arief Djati dalam The World of Sergeant Major Bungkus (2004), Boengkoes mengatakan: “Kami kawan sehidup semati sebagai anak buah Pak Magenda".
Motivasi Boengkoes menjadi tentara bukan untuk mencari uang, melainkan mengabdi kepada negara. Sejak bergabung di TKR pada 1945 hingga November 1949, Boengkoes mengaku tidak pernah menerima gaji.
Persahabatan Boengkoes bersama Dul Arif dan Djahurup terus terawat, meskipun bergonta-ganti pasukan. Ia pernah bertugas di Kodam Diponegoro pada 1953, di bawah pimpinan Kolonel Gatot Subroto.
Setelah cukup lama menjalankan tugas di Jawa Tengah, Boengkoes bersama dua kawannya dipromosikan sebagai anggota Resimen Cakrabirawa. Pasukan ini bertugas untuk menjaga Presiden Sukarno.
Sejak di Cakra, Boengkoes mendapat pangkat Sersan Mayor (Serma). Bersama Pembantu Letnan Dua Djahurup, Serma Bungkus ditugaskan di Kompi C, di bawah pimpinan Dul Arif yang kala itu sudah berpangkat Letnan Satu.
Peran Serma Boengkoes dalam Peristiwa G30S 1965
Pada era kepemimpinan Soekarno, terdapat unit keamanan khusus bernama Resimen Cakrabirawa yang bertugas untuk mengawal presiden sekaligus keluarganya. Satuan yang merupakan gabungan pasukan TNI Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL), Angkatan Udara (AU), dan Kepolisian Republik Indonesia ini dibentuk pada 6 Juni 1962.
Unit keamanan ini memiliki sebutan lain sebagai Cakra dengan beranggotakan sekitar 3.000 pasukan. Ribuan anggota ini terdiri atas tiga bagian, yakni Detasemen Kawal Pribadi (DKP), Detasemen Pengawal Chusus (DPC), dan Batalyon Kawal Kehormatan (KK).
Adapun peran Boengkoes dalam peristiwa G30S 1965 yakni memimpin salah satu regu untuk menangkap beberapa jenderal yang diduga tergabung dalam Dewan Jenderal. Boengkoes, dalam wawancaranya bersama Ben Anderson, menjelaskan bahwa pada malam sebelum melakukan penculikan, dia dan kawan-kawannya kumpul menghadap Letnan Satu Dul Arif, komandan Kompi C Batalion II, pimpinan Untung.
Setidaknya Dul Arif berhasil mengumpulkan 60 orang pada masa genting itu. Atas perintah Komandan Cakrabirawa Letkol Untung, mereka bertugas untuk menggagalkan kudeta terhadap Presiden Soekarno, yang disinyalir dilakukan oleh para Dewan Jenderal.
Hal itu juga termuat di dalam buku Dalih Pembunuhan Massal (2006) tulisan John Roosa. Dalam pengakuan Sersan Mayor Boengkoes, ia menceritakan bahwa berdasarkan perintah dari atas, para jenderal tersebut tidak boleh lolos dari penangkapan.
Para pasukan tersebut kemudian dibagi menjadi beberapa rombongan untuk membawa Dewan Jenderal hidup atau mati. Dalam misi ini, Serma Boengkoes bertugas menjemput M.T. Haryono yang diduga terlibat dalam rencana kudeta Dewan Jenderal.
Ia mendapatkan perintah itu pada 30 September 1965, sekitar pukul 15.00 waktu setempat. Pada dini hari menjelang subuh, tiga truk yang penuh tentara berangkat menuju rumah M.T Haryono di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
Sesampainya di lokasi, Sersan Boengkoes yang menjadi komandan peleton turun lebih dulu untuk mengetuk pintu rumah M.T. Haryono. Kala itu, orang yang membukakan pintu untuknya adalah istri M.T Haryono.
Kepadanya, Boengkoes mengatakan bahwa para pasukan sedang mencari Haryono untuk menghadap ke Presiden Soekarno di Istana Merdeka. Nyonya Haryono mengatakan bahwa suaminya akan segera menyusul dan meminta para prajurit berangkat ke Istana terlebih dahulu. Akan tetapi, Boengkoes tetap bersikeras menunggu.
Sementara istrinya berbincang, M.T. Haryono bersiap merebut salah satu senjata dari tentara yang akan masuk ke kamarnya. Upayanya gagal sehingga konfrontasi antara kedua belah pihak terjadi.
Haryono tertembak oleh selongsong peluru Sersan Mayor Boengkoes. Namun, menurut pengakuannya dalam wawancara bersama Ben Anderson, Haryono tidak langsung meninggal pada saat itu juga (p. 27). Sang jenderal gugur saat hendak dibawa ke lokasi berkumpul Cakrabirawa.
Haryono bersama dua perwira TNI-AD lain, yakni Jenderal Ahmad Yani dan Mayjen D.I. Pandjaitan, dibawa dalam keadaan sudah tak bernyawa pada 1 Oktober 1965.
Pada 3 Oktober, tiga mayat jenderal itu ditemukan di dalam sumur di Lubang buaya. Empat jasad jenderal lainnya juga ditemukan di situ.
Kendati penjemputan Haryono merupakan perintah atasan dan berhasil dituntaskan, Serma Bungkus mengaku menyesali perbuatannya. Atas perkara tersebut, Sersan Mayor Boengkoes menjalankan hukuman penjara di LP Cipinang selama 33 tahun.
Ingin mengetahui lebih banyak informasi tentang tokoh-tokoh dalam peristiwa G30S lainnya? Pastikan untuk mengakses artikel lain tentang G30S selengkapnya melalui laman berikut.
Editor: Fadli Nasrudin
Penyelaras: Yuda Prinada
Masuk tirto.id







































