tirto.id - Seven Deadly Sins atau 7 Dosa Besar yang terungkap dalam drakor S Line tengah hangat jadi bahan perbincangan para penikmat drama Korea. Hal tersebut berkaitan dengan garis merah alias S Line dalam drama tersebut ternyata tak hanya spesifik mengungkap soal tindakan seksual saja, melainkan mengungkap dosa besar lainnya yang pernah dilakukan seseorang.
Seperti diketahui, baru-baru ini jagat media sosial tengah dihebohkan dengan tren S Line alias garis merah yang muncul di atas kepala seseorang. Tren tersebut berasal dari drama Korea terbaru berjudul S Line.
Drakor S Line merupakan drama Korea yang diadaptasi dari webtoon populer berjudul sama karya Little Bee. Sebelum dirilis secara publik pada 11 Juli 2025 di platform streaming Wavve, drakor ini telah tayang perdana untuk episode premiere di sebuah festival di Korea Selatan pada 27 April 2025.
S Line atau dikenal juga dengan sebutan Eseulain dan S Rain digarap oleh sutradara berpengalaman Korea Selatan, Ahn Joo Young. Mengusung perpaduan genre thriller misteri dan fantasi, drama Korea ini menghadirkan alur cerita yang tak biasa seperti drakor lainnya.
Diceritakan, dalam drama Korea yang dihadirkan hanya 6 episode ini, terdapat sebuah fenomena tak biasa dengan kemunculan sebuah garis merah misterius di atas kepala orang-orang. Garis yang dikenal juga dengan sebutan S Line itu ternyata menjadi penanda bahwa seseorang tersebut telah melakukan hubungan seksual.
Garis merah tersebut kemudian akan saling terhubung atau terkait dengan seseorang lainnya yang pernah menjalin hubungan seksual dengan seseorang tersebut. Singkatnya, garis S ini menjadi pembuka aib bagi seseorang bagi siapapun yang dapat melihat garis merah itu.
Belakangan, tren garis merah atau S Line ini tengah viral di media sosial. Tak banyak pengguna yang memberikan simbol garis merah di atas kepalanya masing-masing. Meskipun terdengar berlebihan, nyatanya S Line ini telah menjadi tren hangat bahkan mengandung unsur "gengsi" tersendiri bagi para pengguna media sosial.
Adapun demikian, tak banyak juga pengguna medsos lainnya yang menggunakan tren S Line ini hanya untuk bersenang-senang saja tanpa mengaitkan tindakan seksual yang pernah mereka lakukan dengan individu lainnya.
Selain menjadi pengungkap soal tindakan seksualitas, rupanya S Line dari drakor S Line ini menjadi media Seven Deadly Sinsalias 7 Dosa Besar. Lalu, apa saja dosa-dosa yang terungkap dari garis merah yang muncul di atas kepala tersebut?
Apa Itu Seven Deadly Sins?
Mengutip Britanica, Seven Deadly Sins biasa disebut sebagai Tujuh Dosa Besar atau Tujuh Dosa Mematikan. Hal ini biasanya dikaitkan dengan sifat buruk yang memacu orang lain, dosa, maupun perilaku yang tidak bermoral namun terus berlanjut.
Istilah Seven Deadly Sins sendiri pertama kali muncul sekitar abad ke-6 oleh St. Gregorius Agung dan diuraikan pada abad ke-13 oleh Santo Thomas Aquinas. Tujuh dosa besar ini mencakup Kebanggaan atau Kesombongan, Keserakahan atau Ketamakan, Nafsu, Iri, Kerakusan, Murka, dan Sloth atau Acedia alias Kemalasan atau Kecerobohan.
Di samping itu, Seven Deadly Sins ini biasa dianggap juga sebagai kecenderungan untuk berbuat dosa dan menjauh dari nilai-nilai religius, terutama Tuhan. Misal Nafsu, hal ini dapat memicu seseorang untuk terjerumus pada tindakan-tindakan asusila seperti perzinahan maupun tindakan tak bermoral lainnya.
Sederhananya, Seven Deadly Sins ini merupakan pengelompokan dan penggolongan atas dosa-dosa atau tindakan-tindakan tercela yang dilakukan oleh seseorang. Tentunya, tindakan tersebut dapat merugikan bahkan menyengsarakan individu lainnya.
Seven Deadly Sins dalam Drakor S Line
Drakor S Line menjadi drama Korea yang pertama kali mempopulerkan tren garis merah alias S Line. Selain menjadi pengungkap seseorang pernah melakukan hubungan seksual dengan individu lainnya, ternyata S Line ini dapat mengungkap tindakan buruk lainnya yang tergolong dalam Seven Deadly Sins alias Tujuh Dosa Besar.
Seven Deadly Sins yang terungkap dalam drakor S Line diantaranya mencakup:
1. Lust (Nafsu)
Dosa pertama yang terungkap yakni Lust atau Nafsu. Seberapa banyak garis merah yang muncul di atas kepala seseorang menjadi penanda seberapa besar nafsu yang dimiliki seseorang tersebut.Nafsu tersebut kemudian dikaitkan dengan tindakan berikutnya yang dilakukan individu tersebut, salah satunya yakni tindakan seksual yang dilakukan secara terpaksa, dipaksa, maupun atas keinginan sadar kedua individu.
2. Wrath (Amarah)
Dosa kedua yang terungkap dari garis S Line ini yakni menjadi simbol kemarahan dari seseorang. Hal itu terbukti saat Ibu Hyun Heup melakukan tindakan pembunuhan lantaran merasa dikhianati suami dan adiknya sendiri.3. Envy (Iri)
Dosa berikutnya yakni tergolong Envy alias Iri. Dalam drakor S Line dosa ini terlihat jelas pada staf admin sekolah yang membunuh guru musik hanya karena melihatnya tidur dengan aktris. Secara tidak langsung, hal tersebut menunjukkan bahwa staf itu melakukan tindakan pembunuhan yang didasari iri hati.4. Greed (Keserakahan)
Dosa besar keempat yakni Greed atau Keserakahan. Dalam drakor ini dosa tersebut terlihat saat orang-orang banyak yang ingin mengetahui segalanya, termasuk dosa-dosa orang lain, maupun privasinya sekalipun.5. Sloth (Kemalasan Moral)
Selanjutnya drakor S Line memberikan gambaran bahwa garis merah tersebut mengungkap Sloth atau Kemalasan. Hal itu terungkap saat banyaknya orang yang tahu tapi tetap diam, seperti seorang guru yang berhubungan seks dengan muridnya sendiri, tapi tetap dibiarkan saja meskipun bertentangan dengan norma dan moral.6. Gluttony (Rakus)
Dalam drakor S Line terdapat skin seseorang membunuh demi "garis merah" yang ada di kepalanya menghilang. Tindakan tersebut mengarah pada tindakan rakus akan skandal.7. Pride (Kesombongan)
Dosa terakhir yang diungkap oleh garis merah dalam drakor S Line adalah kesombongan. Hal tersebut terungkap saat banyaknya orang-orang yang mencibir hingga menghakimi garis merah orang lain, namun mereka justru menyembunyikan garis merah mereka sendiri.Bagi pembaca yang ingin mengakses artikel drakor S Line atau lainnya dapat cek tautan yang ada di sini.
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Wisnu Amri Hidayat
Masuk tirto.id




























