Menuju konten utama

Senjata Laser AS Tak Sengaja Tembak Jatuh Drone Lembaga Sendiri

Sistem anti-drone AS menembak pesawat tanpa awak yang dioperasikan badan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan.

Senjata Laser AS Tak Sengaja Tembak Jatuh Drone Lembaga Sendiri
[Ilustrasi drone] Seorang pilot amerka serikat memandu pesawat drone angkatan udara amerika serikat mq-9 reaper saat mendarat di landasan di pangkalan udara kandahar, afganistan, 9 maret 2016. antara foto/reuters/josh smith/cfo/16

tirto.id - Amerika Serikat (AS) dilaporkan menembak jatuh drone patroli perbatasan milik mereka sendiri di Texas. Menurut anggota parlemen AS, pesawat tak berawak itu dioperasikan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS itu.

"Kepala kami meledak mendengar berita bahwa Kementerian Pertahanan dilaporkan menembak jatuh drone Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan menggunakan sistem anti-pesawat tak berawak berisiko tinggi," kata tiga anggota parlemen dari Partai Demokrat, dikutip dari CNN.

Informasi terkait waktu pasti penembakan itu tak dirilis. Kementerian Pertahanan AS juga belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait hal tersebut.

Namun, Ketua Partai Demokrat di Komite DPR AS, Rick Larsen, mendapatkan kabar sistem laser anti-drone telah menembak pesawat sendiri itu pada Kamis (26/2/2026). Sementara lokasi kejadian itu dipercaya terjadi di Fort Hancock, Texas.

Para politisi Partai Demokrat kemudian menyerukan penyelidikan atas disfungsi sistem laser anti-drone di Fort Hancock tersebut. Salah satunya adalah senator Tammy Duckworth.

"Situasinya mengkhawatirkan dan membutuhkan penyelidikan independen yang menyeluruh. Saya akan meminta Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan, Transportasi, dan Keamanan Dalam Negeri untuk meluncurkan penyelidikan bersama" kata Duckworth.

FAA Berlakukan Pembatasan Penerbangan Sementara

Peristiwa penembakan drone milik AS sendiri itu membuat pengelola penerbangan federal AS (FAA) memberlakukan pembatasan izin penerbangan sementara di dekat kawasan Fort Hancock. Pembatasan ini terjadi pada Kamis malam.

Dalam Pemberitahuan untuk Misi Udara (NOTAM), FAA menyebut bahwa penangguhan izin penerbangan berlaku karena "alasan keamanan khusus". Media yang terafiliasi dengan Pemerintah Rusia, RT, menyebut pembatasan ini akan berlaku hingga 24 Juni 2026, kecuali untuk penerbangan darurat seperti ambulans udara.

Sebelum peristiwa penembakan drone, FAA juga sempat melarang penerbangan kurang dari 18.000 kaki di atas kota El Paso pada dua minggu yang lalu. Larangan dikeluarkan FAA setelah Pentagon mulai menggunakan sistem laser anti-drone di dekat kawasan itu.

Larangan terbang di El Paso itu semula dikeluarkan dengan jangka waktu 10 hari. Namun, pelarangan dicabut setelah sekitar 8 jam berlaku.

Partai Demokrat AS mengkritik kelalaian ini sebagai dampak dari keputusan Gedung Putih untuk mengabaikan RUU bipartisan diusulkan parlemen. RUU itu disebut memuat pasal pelatihan operator sistem anti-drone.

"Kami telah mengatakan berbulan-bulan yang lalu bahwa keputusan Gedung Putih untuk mengabaikan RUU bipartisan dari tiga komite untuk melatih operator sistem anti-pesawat tak berawak secara tepat dan mengatasi kurangnya koordinasi antara Pentagon, DHS, dan FAA adalah ide yang picik. Sekarang, kita melihat hasil dari ketidakmampuannya," tulis keterangan bersama tiga anggota parlemen AS dari Partai Demokrat.

Baca juga artikel terkait DRONE atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar