tirto.id - Bank Indonesia (BI) mencatat, transaksi QR Indonesia Standard alias QRIS sudah mencapai 10,33 miliar transaksi per September 2025. Dari total transaksi tersebut, QRIS sudah sudah digunakan oleh 58 juta pengguna dan 41 juta merchant atau pedagang yang tersebar di seluruh Indonesia.
“Hingga 2025 September, transaksi QRIS telah mencapai 10,33 miliar transaksi atau 158 persen dari target yang kita tetapkan. Dan ini sudah menjangkau 58 juta pengguna di Indonesia dan 41 juta merchant atau pedagang di seluruh Indonesia. Dan kalau kita lihat, dari 41 juta merchant itu, mayoritas 90 persen lebih adalah UMKM,” kata Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, dalam Pembukaan Bulan Fintech Nasional (BFN) 2025, di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, Selasa (11/11/2025).
Tidak ingin hanya sekadar mengekor, Bank Indonesia terus berupaya menjadikan QRIS sebagai alternatif sistem pembayaran yang dapat digunakan di berbagai negara di dunia. Menurut Fili, sapaan Filianingsih, inisiatif tersebut berlanjut dengan telah diimplementasikannya QRIS antarnegara atau Cross Border out bond yang sudah bisa digunakan di Malaysia, Thailand, Singapura, dan Jepang.
“Ini baru outbound ya. Bapak, Ibu, orang Indonesia yang ke Jepang bisa memakai QRIS-nya untuk men-scan JPQR (Japanese QR). Tetapi, orang Jepang masih belum bisa karena kita lagi menunggu lisensi dari OJK Jepang untuk hal tersebut,” terangnya.
Pada saat yang sama, Indonesia juga tengah mengupayakan penggunaan QRIS Cross Border secara out bond dan in bond dengan Cina dan Korea Selatan. Bank Indonesia menarget, QRIS Cross Border sudah dapat digunakan untuk bertransaksi di Negeri Gingseng setidaknya sebelum pertengahan tahun depan.
“Ini sekali lagi menegaskan bahwa peran Indonesia sebagai pioneer integrasi pembayaran cross-border di regional. Kita bukan pengikut, tetapi kita pioneer. Dan ke depan, prospek digitalisasi sistem pembayaran ini akan terus kita dorong,” tambah Fili.
Bank Indonesia memperkirakan, volume transaksi pembayaran digital bisa mencapai 147,3 miliar transaksi pada 2030. Jumlah tersebut meningkat empat kali lipat dibandingkan jumlah transaksi 2024.
“Dan ini karena apa? Paling tidak ada dua hal: partisipasi generasi muda, lalu juga derasnya inovasi teknologi,” tukas Fili.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id





































