tirto.id - Kenaikan harga Pertamax yang diumumkan secara mendadak oleh Pertamina Patra Niaga pada Rabu (10/6/2026). Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) selalu terjadi hampir di setiap pemerintahan sejak era Presiden ke-1 RI Soekarno hingga Prabowo.
Publik cukup terkejut dengan kenaikan harga Pertamax 92 dan Pertamax Green yang lebih dari 30 persen hari ini. Hal ini dianggap akan berpengaruh pada pengeluaran bulanan rakyat yang menggunakan jenis BBM ini.
Harga Pertamax (RON 92) menjadi Rp16.250 per liter (naik sekitar 32 persen), sedangkan Pertamax Green 95 (RON 95) menjadi Rp17.000 per liter (naik sekitar 31,8 persen).
Rekam Jejak Harga BBM dari Era Soekarno hingga Prabowo
Berikut rekam jejak harga BBM di Indonesia mulai dari pemerintahan Presiden Soekarno hingga Presiden Prabowo Subianto:
1. Era Presiden Soekarno (1945-1967)
Harga BBM yang tercatat:- 1965: sekitar Rp0,30/liter
- Awal 1966: naik menjadi sekitar Rp1/liter
- Kemudian disesuaikan kembali sekitar Rp0,50/liter
- 1965: sekitar 300 persen
- 1966: sekitar 650 persen (hiperinflasi)
Akibatnya terjadilah hiperinflasi. Walaupun harga BBM terlihat sangat murah secara nominal, daya beli rakyat justru terus menurun karena harga kebutuhan pokok melonjak berkali-kali lipat dalam waktu singkat.
Perlu dicatat juga pada tanggal 13 Desember 1965 pemerintahan Soekarno melakukan penyederhanaan nilai rupiah (redenominasi) dari Rp1.000 menjadi Rp1.
2. Era Presiden Soeharto (1967-1998)
Harga Premium yang menonjol:- 1980: Rp150/liter
- 1991: Rp550/liter
- 1993: Rp700/liter
- 1998: Rp1.200/liter
- Awal Orde Baru: berhasil ditekan dari ratusan persen menjadi sekitar 10-20 persen
- Rata-rata 1970-1996: sekitar 8-12 persen
- 1998 (krisis moneter): sekitar 77 persen
3. Era Presiden B. J. Habibie (1998-1999)
Harga BBM:- Turun dari Rp1.200 menjadi Rp1.000/liter
- 1999: sekitar 2 persen
Harga BBM yang turun diperngaruhi oleh harga minyak dunia yang berada pada level sangat rendah, yaitu sekitar $14-15 per barel.
Menurut jurnal berjudul “Oil Price Crisis: Implications for Gulf Producers”, salah satu penyebab utama kondisi tersebut adalah Krisis Keuangan Asia 1997-1998.
4. Era Presiden Abdurrahman Wahid (1999-2001) Harga Premium:
- 1999: Rp600/liter
- 2000: Rp1.150/liter
- 2001: Rp1.450/liter
- Berkisar 9-12 persen per tahun
Harga BBM beberapa kali disesuaikan mengikuti kondisi fiskal negara dan harga minyak dunia. Walaupun terjadi kenaikan, inflasi masih jauh lebih rendah dibandingkan masa krisis 1998.
5. Era Presiden Megawati Soekarnoputri (2001-2004)
Harga Premium:- 2002: Rp1.550–Rp1.750/liter
- 2003: Rp1.810/liter
- Sekitar 5-11 persen per tahun
6. Era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2014)
Harga Premium:- Awal masa jabatan: Rp1.810/liter
- Maret 2005: Rp2.400/liter
- Oktober 2005: Rp4.500/liter
- Mei 2008: Rp6.000/liter
- 2013: Rp6.500/liter
- Normalnya 4-8 persen
- 2005 melonjak sekitar 17 persen
- 2008 sekitar 11 persen
Pemerintah mengurangi subsidi BBM secara bertahap sambil memperkenalkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai kompensasi bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
7. Era Presiden Joko Widodo (2014-2024)
Harga BBM penting:- 2014: Premium Rp8.500/liter
- 2015: turun ke kisaran Rp6.600-Rp7.600/liter
- 2022: Pertalite naik dari Rp7.650 menjadi Rp10.000/liter
- Solar subsidi naik menjadi Rp6.800/liter
- Umumnya 2-4 persen
- 2022 sekitar 5,5 persen
Walaupun terjadi beberapa kali penyesuaian harga BBM, tingkat inflasi Indonesia tetap termasuk rendah dibandingkan banyak negara berkembang lainnya.
8. Era Presiden Prabowo Subianto (2024-sekarang)
Harga BBM subsidi:- Pertalite: Rp10.000/liter
- Solar subsidi: Rp6.800/liter
- Sekitar 1,5-3 persen per tahun
Pada 10 Juni 2026, terjadi penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang dilakukan melalui mekanisme evaluasi berkala.
Menurut Pertamina Patra Niaga, penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah koordinasi dengan pemerintah sebagai regulator serta berdasarkan evaluasi berkala terhadap kondisi pasar global.
Per hari ini, harga Brent sempat naik ke sekitar $92 per barel dan WTI sekitar $88,8 per barel, dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id






































