Segala yang Baik dan Buruk dari Ganja

Oleh: Tony Firman - 9 Agustus 2018
Dibaca Normal 3 menit
Beberapa kandungan ganja bermanfaat untuk kesehatan. Namun, konsumsi ganja jangka panjang bisa menyebabkan lemah pikir dan gangguan kardiovaskular.
tirto.id - Di Indonesia, ganja lebih dipercaya sebagai spesies tanaman yang dapat menyebabkan efek buruk seperti kecanduan dan perilaku negatif lainnya, sehingga dianggap tak berguna, tak bisa dikonsumsi dalam bentuk apapun, dan akhirnya dikriminalisasi.

Namun, beberapa tahun terakhir, pandangan terhadap ganja mengalami pergeseran secara global. Stigma ganja sebagai narkotik pun lambat-laun mulai terkikis. Pasalnya, banyak riset telah menguak manfaat kandungan ganja untuk mengobati sejumlah penyakit tertentu, termasuk penyakit kelas berat. Beberapa jajak pendapat publik juga melaporkan perubahan persepsi publik tentang ganja yang semakin positif.

Survei yang dilakukan Pew Research di Amerika Serikat (AS) Oktober 2017 lalu, misalnya. Survei ini melaporkan bahwa enam dari sepuluh orang Amerika (61 persen) mengatakan penggunaan ganja harus dilegalkan. Sebagian besar pendukung legalisasi ganja di AS adalah orang dewasa. Sebelumnya, pada 2000, hanya 31 persen saja warga AS yang mendukung legalisasi ganja.

Umumnya ada tiga kategori pelegalan ganja, untuk rekreasi karena memberikan sensasi "tinggi", untuk kebutuhan medis, dan untuk budidaya itu sendiri.

Di sejumlah negara, termasuk Jerman, Portugal, dan Argentina, ganja boleh dikonsumsi dengan aturan-aturan yang ketat. Kepemilikan ganja dalam takaran ringan tak akan membuat orang dipenjara atau didenda.


Di beberapa negara lainnya seperti Australia, Belgia, Perancis, Meksiko, Selandia Baru, Slovenia, Spanyol, dan Sri Lanka, ganja hanya legal untuk konsumsi medis. Adapun Amerika Serikat, ganja legal di beberapa negara bagian.

Tanaman Ajaib

Tak berlebihan jika ganja atau mariyuana yang bernama latin Cannabis Sativa ini kerap disebut tanaman ajaib. Di luar psikoaktif yang memberikan efek melayang, ganja mengandung zat-zat lain yang berguna. Sebanyak 483 konstituen kimia yang berbeda tercatat ada pada Cannabis Sativa; 66 di antaranya disebut sebagai cannabinoid, senyawa yang menjadikan ganja bisa digunakan sebagai obat.

Ada seabrek zat lain dalam ganja yang mendatangkan manfaat medis. Misalnya THC (Delta-9 tetrahydrocannabinol) yang memiliki efek analgesik atau penghilang rasa sakit, sifat anti-spasmodik atau menghilangkan kejang-kejang, anti-tremor, anti-inflamasi dan lainnya. Zat lain bernama (E)–BCP (Beta-caryophyllene) dapat digunakan sebagai pengobatan nyeri, arthritis (peradangan sendi), sirosis (peradangan dan fungsi buruk pada hati), mual, dan lainnya. Cannabidiol (CBD) mengandung sifat anti-inflamasi, anti-biotik, anti-depresan, anti-psikotik, anti-oksidan, serta berefek menenangkan.

Dilansir dari Scientific American, pada 1994, National Institute on Drug Abuse di AS meminta lebih dari 8.000 orang berusia 15-64 tahun untuk menyampaikan kesan setelah mencicipi ganja. Hasilnya, hanya sekitar sembilan persen saja yang akhirnya cocok dan menjadi pecandu. Persentase ini terbilang kecil jika dibandingkan dengan kecanduan alkohol (15%), kokain (17%), heroin (23%), dan nikotin (32%). .


Yang Buruk dari Ganja

Di sisi lain, ganja juga punya beberapa efek samping bagi kesehatan. Ganja secara khusus memengaruhi memori episodik penggunanya. Memori episodik adalah kemampuan otak untuk merencanakan sesuatu di masa depan. Hal itu dipaparkan dalam artikel berjudul "Episodic foresight deficits in regular, but not recreational, cannabis users" (2018) karya Kimberly Mercuri dkk.

Penelitian ini membandingkan 57 perokok ganja dengan 57 non perokok ganja. Para responden diminta menceritakan pengalaman di masa lalu dan rencana masa depan mereka. Hasilnya, responden yang merokok ganja lebih dari tiga kali dalam seminggu merasa lebih sulit membayangkan perencanaan masa depan dibandingkan dengan kelompok yang tidak merokok ganja, serta responden yang hanya merokok ganja dua kali seminggu atau kurang.

Meski begitu, menurut Mercuri dkk, kondisi neurologis perokok ganja dan kaitannya dengan memori jangka panjang masih perlu dipelajari lebih jauh.

Efek merokok ganja mungkin mirip dengan merokok tembakau. Dilansir dari National Institute on Drug Abuse, asap ganja dapat memicu masalah kesehatan pernapasan dan meningkatkan risiko infeksi paru-paru. Jantung pemakai ganja juga cenderung berdetak lebih cepat dan dikhawatirkan memicu serangan jantung, terutama bagi pengidap penyakit kardiovaskular. Bagi wanita hamil, dampak dari pemakaian ganja juga berpengaruh bagi pertumbuhan anak selama dan setelah kehamilan.


Penghisap ganja jangka panjang pun dapat terkena sindrom Hiperemesis Cannabinoid. Penderita sindrom ini mengalami rasa mual, muntah dan dehidrasi parah.


Mengintip Penerapan Legalisasi Ganja

Meski memberikan kelonggaran konsumsi ganja di luar kebutuhan medis, sejumlah negara menerapkan batasan-batasan tertentu yang berbeda dan cukup ketat.

Kanada, misalnya. Pada 17 Oktober 2018 nanti, Kanada akan melegalkan ganja secara penuh untuk tiga kategori: medis, rekreasi, dan budidaya. Petani ganja bisa memperoleh lisensi pemerintah untuk memproduksi ganja. Masing-masing provinsi akan berembuk terkait pendistribusian dan penjualan produk. Pemerintah juga tidak secara eksplisit berkampanye mendukung; alias hanya akan menandatangani legalisasi tanpa mempromosikan.

Spanyol juga melegalkan ganja di tiga kategori. Namun, ada aturan tertentu yang tetap harus dipatuhi oleh pengguna ganja. Di kategori rekreasi, ganja hanya legal jika dinikmati di area privat dan penggunanya harus mendaftar ke sebuah perkumpulan. Jika nekat merokok ganja di ruang publik, pengguna dapat dipidana sesuai produk hukum yang berlaku. Tiap pengguna hanya boleh memiliki maksimal 60-100 gram ganja per bulan.

Infografik Baik Buruk Ganja


Uruguay masuk dalam negara yang secara penuh melegalkan ganja. Namun, orang di bawah usia 18 tahun tak boleh mengkonsumsinya. Barang siapa ingin menjual, membeli, hingga membudidayakan ganja juga harus mendaftarkan diri ke pemerintah.

Bagaimana dengan Jamaika? Pemerintah melonggarkan konsumsi ganja untuk penganut Rastafaria. Di luar itu, ganja hanya boleh digunakan untuk keperluan medis dan budidaya.


Kontrol penggunaan ganja pasca-legalisasi menjadi perhatian di kalangan akademisi. Dalam artikel bertajuk "Implications of Marijuana Legalization for Adolescent Substance Use" (2014), psikiater dari University of Colorado Christian Hopfer menyoroti efek potensial legalisasi ganja, yakni meningkatnya konsumsi ganja di kalangan remaja. Peningkatan ini didukung faktor-faktor pendukung seperti penerimaan sosial yang lebih besar atas penggunaan ganja dan harga yang semakin terjangkau. Hopfer berharap ganja akan tetap diawasi secara ketat layaknya alkohol dan tembakau.




Harga ganja memang turun setelah legalisasi. Dari semula ilegal dan diperjualbelikan di pasar gelap dengan harga tinggi, kini ganja menjadi barang dengan harga terjangkau di negeri-negeri yang melegalkannya.

Legalisasi ganja di beberapa negara bagian AS pada 2015 juga menurunkan harga ganja, bahkan yang kualitasnya tinggi sekalipun. Negara bagian seperti California dan Nevada bahkan memiliki harga ganja termurah seiring legalisasi untuk kebutuhan medis.

Hal yang sama berlaku pula di Kanada. Sejak kampanye dekriminalisasi ganja pada 2015 yang berujung pada legalisasi untuk kebutuhan medis hingga legalisasi penuh tahun ini, harga ganja terus anjlok. Dilansir dari Bloomberg, pada 2015 ganja per gram dihargai 8,43 dolar Kanada. Harga ini turun ke angka 6,05 dolar per gram pada 2017. Kanada yang awalnya negara importir ganja kini jadi eksportir. Tahun lalu, total nilai ekspor ganja Kanada mencapai 1,2 miliar dolar Kanada.

Baca juga artikel terkait GANJA atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Tony Firman
Editor: Windu Jusuf