Dahlan Iskan:

"Saya Betul-betul Ingin Melupakan Politik"

Reporter: Kukuh Bhimo Nugroho - Rabu, 21 Desember 2016 06:45 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Dahlan Iskan menyerang kejaksaan melalui eksepsi. Mantan menteri BUMN itu bahkan mengaku mendengar informasi bagaimana para jaksa dikerahkan buat menjeratnya.
tirto.id - Dahlan Iskan tetap menampilkan diri sebagai sosok bersahaja. Mengenakan celana training dan kaos, dia keluar dari pintu samping rumah. Menjelang Selasa petang, 13 Desember 2016, dia baru terbangun setelah pagi sampai siang duduk di kursi pesakitan Pengadilan Tipikor Surabaya.

Setelah itu Dahlan menemani Yusril Ihza Mahendra, ketua tim pengacaranya, membesuk saudara yang dirawat di Rumah Sakit Haji Surabaya. Sesampai di rumah, di salah satu perumahan mewah Sakura Regency, dia masih harus menemani para tamu yang berkumpul setelah mengikuti proses persidangan.

Tamu dari Jakarta yang ikut bersantap siang di rumahnya adalah mantan ketua KPK Abraham Samad, ekonom Faisal Basri, dan akademisi Effendi Gazali. Berserta beberapa wartawan senior Jawa Pos Group, mereka bersantap rujak cingur dan tahu campur, hidangan khas Surabaya.

“Waduh, maaf ya. Maaf membiarkan Anda menunggu sampai hampir magrib begini. Badan saya mudah capek, tidak seperti dulu,” katanya saat menemui Kukuh Bhimo Nugroho dari Tirto di teras garasi.

Pada wawancara lesehan itu, Dahlan mengungkapkan perasaannya menjadi pesakitan untuk sebuah kasus korupsi. “Ya, saya terima saja sebagai bagian dari hidup yang harus dijalani,” katanya sembari menjelaskan pernah setahun di Amerika Serikat usai menjabat menteri untuk belajar tentang thorium, energi pengganti minyak bumi dan batu bara.

Dahlan sempat mengeluh soal statusnya sebagai tahanan kota, yang membuatnya harus terlambat sebulan untuk periksa rutin kesehatan ke negeri Tiongkok. “Obat yang rutin saya konsumsi ini sudah harus dikonsultasikan lagi ke dokter di Cina yang dulu mengoperasi saya. Apakah masih tetap, atau harus diganti,” katanya yang pernah menjalani transplantasi hati pada 6 Agustus 2007.

Berikut wawancara dengan Dahlan Iskan:

Bagaimana Anda menjalani persidangan seperti saat ini?

Ya saya kebetulan sudah tua, kemudian anak-anak sudah mentas semua. Saya juga sudah tidak aktif di perusahaan. Saya sudah tidak jadi direksi atau komisaris. Saya sudah tidak aktif. Ya, saya terima saja sebagai bagian dari hidup yang harus dijalani.

Terpikir sebelumnya bakal jadi pesakitan?

Enggak pernah terpikir, karena Anda tahu saya tidak pernah punya niat untuk melakukan korupsi. Anda juga tahu saya seperti ini. Sehingga sama sekali tidak membayangkan.

Mengapa eksepsi Anda bernada emosional?

Ya lega karena saya sudah bisa mengungkapkan apapun yang menjadi isi hati, meskipun sebenarnya tidak ingin mengungkapan, misalnya jasa-jasa saya. Saya sebetulnya merasa, 'Aduh, kenapa saya harus ungkapkan?' Padahal dulu niatnya mengabdi. Tapi karena tuduhan kepada saya cukup serius, ya terpaksa sebagian saya ungkap. Tidak semuanya saya ungkap, supaya niat untuk mengabdi tidak terkikis.

Dalam eksepsi, Anda menyebut "jangan membuat bingung masyarakat". Maksudnya?

Banyak sekali berita-berita di media, orang yang mestinya jadi tersangka ternyata hanya diusut-usut, tapi kemudian tidak jadi tersangka. Tapi orang seperti Bawaslu yang bekerja seperti itu jadi tersangka hanya karena jaksanya diberi target. Pada akhirnya, pengadilan harus membebaskan karena tidak terbukti.

Kemudian seperti saya, seperti saya uraikan tadi, masak jadi terdakwa? Sehingga masyarakat bingung karena pengertian korupsi itu, kan, orang yang makan uang. Atau kongkalikong. Penyalahgunaan wewenang untuk tujuan menguntungkan diri sendiri atau gengnya.

Dalam kasus saya, masa seperti itu korupsi? Masyarakat, kan, bingung, korupsi itu seperti apa, sih? Langkah-langkah seperti itu saya anggap membingungkan masyarakat. Saya respek kepada KPK, karena kalau tidak ada aliran uang, tidak ada barang bukti yang cukup, mereka tidak akan tangani.

Tapi seperti saya begini, saya dapat apa dari PWU? Barang buktinya juga apa? Masyarakat, kan, bingung, kok jadi terdakwa seperti nasib-nasiban, selera-seleraan, main kuasa?

Maksudnya, Anda melihat diri Anda tidak bersalah?

Ya tentu saya sama sekali tidak merasa bersalah. Bahkan saya berkorban banyak sekali di situ. Termasuk kekayaan pribadi saya korbankan di situ, karena amanat bahwa perusahaan harus maju. Sementara perusahaan tidak punya uang, kemudian pemerintah daerah juga sudah tidak mau memberi modal karena dulu-dulunya sudah banyak menghabiskan uang. Bank juga tidak mau memberi kredit.

Tapi, kan, saya sudah telanjur menerima jabatan sebagai direktur utama, sehingga mau tidak mau ya harus maju. Sehingga segala cara harus saya tempuh, termasuk menjaminkan harta pribadi untuk kepentingan PWU yang tidak ada hubungan sama sekali dengan kepemilikan saya.

Termasuk reputasi sebagai jaminan?

Betul, nama baik dan reputasi saya pertaruhkan. Akhirnya, kok, ya, masih jadi pesakitan. Berarti, kan, saya ini sengaja ditarget.

Apakah itu yang Anda sebut "dimangsa" dalam eksepsi?

Hehehe... Istilahnya, sudah salah mongso (waktu), dimangsa pula. Hahaha.

Kalau Anda merasa dimangsa, siapa yang memangsa?

Ya orang yang lagi berkuasalah. Karena kalau tidak lagi berkuasa, kan, pasti tidak mungkin bisa memangsa saya seperti ini.

Kenapa Anda mengira dimangsa?

Saya betul-betul mengintrospeksi diri dengan sungguh-sungguh, kenapa, ya, kok saya dimangsa seperti ini? Cerita, sih, macam-macam. Ada karena politik, ada karena saya dulu memberantas korupsi di PLN dan waktu jadi menteri terlalu kencang, terlalu keras, sehingga beberapa pihak merasa rezekinya terpangkas. Beberapa pihak merasa kesempatan untuk ngobjek-nya hilang.

Kemudian juga ada yang bilang, supaya reputasi saya dan nama saya hancur dan habis, sehingga saya tidak punya masa depan. Nah, apakah karena politik, apakah karena balas dendam karena dulu saya keras berantas korupsi, ataukah karena ingin menghancurkan nama pribadi, saya serahkan kepada Yang di Atas sajalah. Saya tidak mau menyelidiki atau serius mencari tahu. Nanti merusak hati saya. Mencemari batin saya. Jadi biarlah itu menjadi urusan saya dengan Yang di Atas.

Jika terkait politik, apakah soal Pilpres 2019 nanti?

Ada yang bilang begitu. Tapi saya tidak memikirkan lebih jauh lagi. Ya sudahlah. Padahal saya sendiri sudah meneguhkan diri. Sejak sudah tidak menjadi menteri, saya merasa sudahlah, saya merasa sudah tua. Sudah tidak mungkin lagi bergerak di bidang politik. Kemudian saya memutuskan belajar sesuatu di Amerika hampir setahun.

Saya betul-betul ingin melupakan politik. Ingin melupakan lingkungan politik yang pernah sebentar saya masuki. Dan saya sudah mengambil kesimpulan, saya ini ternyata tidak cocok di politik, karena batin saya seperti itu, tingkah laku saya seperti itu, sementara politik kayak begitu. Sehingga saya mengambil kesimpulan berhenti.

Tetapi, kan, mungkin orang masih menghitung-hitung bahwa saya masih punya banyak kesempatan di politik. Mungkin mereka menghitung, saya memiliki media yang cukup besar sehingga kecenderungannya digunakan untuk politik. Padahal saya memutuskan, saya merasa tua, biarlah politik untuk yang lebih muda. Eh, ternyata diincar juga.

Anda dalam eksepsi menyerang kejaksaan. Apa karena diincar tiga kali dalam kasus korupsi?

Dan kayaknya masih banyak lagi.

Mengapa?

Iya. Kalau tidak, kan, tidak mungkin. Misalnya dicari-cari kesalahan saya di PLN, meski ternyata tidak terbukti. Kemudian dicari-cari lagi, apa yang lebih baru seperti mobil listrik. Tapi, kan, tidak ketemu. Kemudian dicari yang lebih lama lagi, 13 tahun lalu di PWU. Sehingga kalau ada orang yang mengatakan bahwa memang diincar-incar dan dicari-cari, ya, iya. Kalau enggak, ngapain mencari-cari sesuatu yang jaksanya pun saat itu masih remaja.

Bagaimana dengan polisi yang menjerat kasus pencetakan sawah baru?

Saya kira inilah yang membuat saya berkesimpulan ada yang nimbrung. Bukan polisinya, tapi mereka nimbrung dalam kasus itu.

Menjelang Pilpres 2014, suara dukungan Anda dialihkan pada Jokowi. Apakah Jokowi menaruh perhatian pada kasus Anda?

Saya kira beliau punya banyak sekali pekerjaan. Sehingga saya tidak ge-er bahwa ini diperhatikan presiden. Dan saya juga tidak minta tolong beliau, karena saya tahu saya ini siapa. Apalagi presiden, kan, punya posisi begitu tinggi dan persoalan negara begitu banyak. Masak saya ngrepotin beliau dengan minta tolong dan seterusnya. Ya saya serahkan kepada beliau, apakah saya ini kategori yang perlu diperhatikan atau tidak. Saya serahkan kepada beliau.

Bagaimana dengan SBY yang pernah menjadi bos Anda?

Saya juga tidak ingin merepoti Pak SBY. Saya tidak pernah menelepon beliau untuk curhat atau minta tolong, atau mengeluh. Tidak. Saya tidak menghubungi beliau dan beliau tidak menghubungi saya. Karena saya tahu, beliau sedang repot. Beliau sekarang menjadi ketua umum sebuah partai besar yang pasti pekerjaannya banyak.

Dan saya tahu bagaimana Pak SBY bersikap terhadap para mantan anak buahnya. Sehingga kalau saya berharap beliau membantu saya dan ternyata nanti tidak membantu, saya bisa kecewa. Jadi lebih baik saya tidak minta tolong beliau, tidak merepoti beliau.

Anda melihat kasus yang menjerat Anda sekarang bagaimana?

Ya tentu mungkin jaksa akan memaksakan bahwa saya akan divonis bersalah. Tapi saya lega karena masyarakat secara umum menganggap saya tidak bersalah. Bagi saya itu sangat menghibur dan menenangkan batin. Karena bagi saya yang penting pengakuan masyarakat itu.

Kalau memang nanti divonis bersalah?

Ya harus dijalani. Kemarin ditahan pun saya jalani. Saya waktu mau ditahan juga tidak melawan. Tidak membantah. Juga tidak protes, 'Kok saya ditahan?' Saya jalani saja.

Kebetulan di tahanan, ternyata saya juga tidak terlalu merasa menderita. Ternyata di sana terlalu banyak orang yang lebih menderita. Saya menyaksikan, di tahanan begitu banyak orang yang lebih diperlakukan tidak adil dibanding saya, karena tidak punya uang, enggak punya kemampuan, enggak punya pengetahuan yang cukup, sehingga menjadi korban ketidakadilan.

Di tahanan, mulai pagi sampai sore, penuh dengan orang yang curhat kepada saya. Sampai saya dikeluarkan menjadi tahanan kota.

Baca juga artikel terkait DAHLAN ISKAN atau tulisan menarik lainnya Kukuh Bhimo Nugroho
(tirto.id - Wawancara)

Reporter: Kukuh Bhimo Nugroho
Penulis: Kukuh Bhimo Nugroho
Editor: Fahri Salam

Artikel Lanjutan
DarkLight