Piala Dunia 2018

Rusia vs Arab: (Bukan) Duel Komunisme vs Wahabisme

Oleh: Aqwam Fiazmi Hanifan - 14 Juni 2018
Dibaca Normal 6 menit
Rusia dan Arab Saudi sama-sama membuka diri kepada reformasi di bidang sepakbola. Mereka mencoba tidak sekaku komunis atau wahabi di masa silam.
tirto.id - Pertandingan pembukaan Piala Dunia 2018 antara Rusia dan Arab Saudi menarik untuk disimak. Laga tersebut mungkin bukan laga yang ditunggu-tunggu banyak orang, dibandingkan laga Spanyol vs Portugal keesokan harinya, misalnya. Sebagai dua negara dengan ranking FIFA terendah dari seluruh 32 peserta Piala Dunia, tak heran jika beberapa orang bahkan menganggap laga ini sebagai pembukaan paling tidak menarik.

Selain sama-sama berperingkat rendah dalam daftar ranking FIFA terbaru, keduanya juga dikenal sebagai negara yang begitu kental mempraktikkan ideologi masing-masing. Rusia dikenal sebagai negara yang menjadi dedengkot ideologi komunisme, sedangkan Saudi merupakan yang menjadi dedengkot ideologi Islam konservatif, wahabi. Jika Rusia adalah kiri, Saudi adalah kanan.

Kontras di antara keduanya ini ternyata tidak mampu membendung pengaruh sepakbola. Keduanya belakangan mulai berkompromi terhadap arus pasang kapitalisme, bahkan reformasi gender, yang datang dengan dalih sepakbola.

Ketimpangan Parah di Rusia pasca Soviet Bubar

Laporan Credit Suisse pada 2017 menyebut kesenjangan ekonomi di Rusia lebih tinggi ketimbang negara maju lain. Hampir 10% orang terkaya Rusia memiliki 87% dari seluruh kekayaan negara. Persentase ini lebih besar ketimbang Amerika Serikat (76 persen) atau China (66 persen).

Laporan dari VTB Capital bahkan menyebut 1% penduduk Rusia memegang kendali 46 persen dari semua deposito bank pribadi yang ada di negara tersebut. Hal ini sangat ironis sebab sekitar 23 juta orang Rusia atau sekitar 16% populasi penduduk berada di bawah garis kemiskinan,

Ketimpangan ini tidak bisa dilepaskan dari gelombang perubahan yang terjadi sejak bubarnya Uni Sovyet pada 26 Desember 1991. Pelan tapi pasti, perubahan terhadap ideologi lama negara, komunisme, tidak terhindarkan. Setelah menjadi Rusia, apalagi di era kepemimpinan Vladimir Putin, privatisasi semakin tidak terbendung.


Kepala Biro The Guardian di Rusia, Shaun Walker, dalam artikel berjudul "Unequal Russia: is Anger Stirring in the Global Capital of Inequality?" menyebut tingkat ketidaksetaraan yang muncul pada 1990-an di Rusia memang berlangsung dengan dramatis dan mengejutkan.

Putin mengambil alih kepemimpinan pada 2000. Ia berjanj menyatukan negara dan mengakhiri kekacauan yang terjadi pada 1990-an. Sejak era Putin inilah kelas baru miliarder muncul. Banyak miliarder yang secara pribadi punya relasi erat dengan Putin. Hubungan para elit ini dikombinasikan dengan pengultusan Putin yang dilakukan secara berlebihan. Propaganda pentingnya stabilitas pemerintah terus dipropagandakan kepada publik yang membuat masyarakat jadi pasif dan tidak berani mengkritik.

Haluan ekonomi yang kini lebih condong ke kapitalisme ini merembet juga dalam tata kelola sepakbola mereka.

Sepakbola Rusia: Habis Komunis terbitlah Sistem Kapitalis

Di Uni Soviet, negara merambah segala aspek, termasuk sepakbola. Sepakbola dilabeli masyarakat Uni Soviet sebagai narodnaja igra atau The game of the peoples.

Seperti kebanyakan olahraga lainnya, perkembangan permainan ini berakar di program pendidikan militer. "Olahraga secara terbuka menjadi sarana untuk memberikan pelatihan pra-militer dan mencapai standar kebugaran nasional dan imunitas yang relatif tinggi," tulis sejarawan olahraga James Riordan dalam esai Totalitarianisme Dan Olahraga Di Rusia.

CSKA Moscow adalah klub tertua yang didirikan pada 1911. Tim ini merupakan klub resmi tentara Soviet. Tetangganya, Dynamo Moscow, hadir dari kelompok Polisi Militer dan dan badan intelijen Soviet, Cheka. Begitu juga Locomotif Moskow, klub yang disokong perusahaan jawatan kereta api negara. Hampir mayoritas klub di era Soviet, dari sisi finansial dan teknis, dikontrol oleh negara dan perpanjangannya.


Ketika Uni Soviet runtuh, klub-klub Rusia mengalami privatisasi secara besar-besaran. Manuel Veth dalam tesis berjudul Football's Transition from Communism to Capitalism in the Soviet Union memaparkan hal menarik. Kata dia, pada akhirnya banyak klub yang terbelit patronase dengan para oligarki penguasa dan pengusaha.

Oligarki di sini, kata dia, berasal dari evolusi para elit komunis di zaman Sovyet yang menjadi kaya raya berkat ekonomi pasar bebas yang muncul pasca Soviet hancur. Setelah itu, praktik pengelolaan klub sepakbola mulai mengadopsi gaya yang terjadi di Italia, Jerman dan Inggris.

Veth mengatakan puncak praktik ini terjadi setelah 1998, terutama setelah sumber ekonomi Rusia beralih dari sektor perbankan ke pasar yang berfokus pada sumber daya alam.

Pada awal tahun 2000-an, sepakbola Rusia mengalami kebangkitan besar, sebagian besar didorong oleh keuntungan minyak dan gas. Hal ini tercermin dari, di antaranya, salah satu oligark terkaya Rusia Roman Abramovich yang membeli Chelsea. Analisis Veth menyebut, pembelian klub oleh oligark Rusia dipahami sebagai sarana mendiversifikasi portofolio keuangan mereka.

Hal yang sama dapat dikatakan untuk Leonid Fedun, raja minyak kaya raya yang membeli Spartak Moscow pada awal 2000-an. Pola ini juga diikuti perusahaan besar minyak Rusia, Gazprom, yang membeli Zenit St Petersburg pada 2000. Ekspansi Gazrprom di dunia sepakbola semakin meluas setelah mensponsori berbagai klub di Eropa, dan turnamen besar macam Liga Champions, Piala Eropa dan Piala Dunia.

Masih kata Veth, apa yang dilakukan Gazprom dalam sepakbola tidak hanya memperkuat persepsi bahwa organisasi Rusia melakukan diversifikasi investasi mereka melalui olahraga, tetapi juga menggambarkan bahwa mereka menggunakan sepakbola untuk meningkatkan kehadiran mereka di luar negeri.

Oleh karena itu, para oligarki di Rusia menjadikan investasi di sepakbola sebagai portal masuk ke pasar barat. "Ini menunjukkan bahwa sepakbola juga digunakan sebagai kampanye gambar yang melampaui kepentingan komersial belaka," tukasnya.

Di sisi lain, Kekayaan yang tumbuh dari oligarki, dan perusahaan-perusahaan multinasional milik negara ini juga membuat kini banyak klub-klub Rusia mampu membeli pemain dari Eropa, Amerika Selatan, Afrika atau Asia. Padahal sebelumnya tidak, sebab sepakbola di era Soviet lebih bertumpu pada hal-hal nasionalisme bukan bisnis.

Dibukanya kran pemain impor membuat para oligark ini berinvestasi banyak untuk mendatangkan bintang-bintang pemain asing. Dengan segera gaji para pemain di Liga Rusia melonjak drastis hingga menempati peringkat keenam setelah Jerman, Inggris, Italia, Spanyol dan Perancis.

Upah rata-rata para bintang di Liga Rusia pun melonjak drastis bahkan lebih tinggi ketimbang Liga Inggris. Bek Branislav Ivanovic bisa mendapat gaji 4,5 juta dollar per tahun di Zenit, angka ini lebih besar ketimbang saat ia bermain untuk Chelsea yang hanya 3 juta dollar. Gaji fantastis juga didapati pemain-pemain lokal.


Kegagalan di Piala Eropa 2016 membuat Rusia mengambil aturan lebih ketat terkait pemain asing. Jatah pemain asing dibatasi hanya 6 pemain per klub. Saat ini komposisi pemain asing di Rusia hanya 38 persen. Minimnya pemain asing ini, bagi pemain lokal, tentu menjadi berkah. Sebab bakat mereka bisa dihargai lebih tinggi.

Ide pengurangan pemain asing diusulkan kali pertama oleh para politikus dari Partai Federasi Komunis Rusia. Baru dua tahun berjalan, ide ini malam membuat gaji para pemain lokal semakin menggila.

"Gaji di Liga Rusia sangat tinggi, sering sebanyak $4 juta per tahun," Ilya Zubko, Asisten Editor Olahraga di Rossiyskaya Gazeta, menjelaskan. "Tapi karena batasan pemain asing pula, persaingan antar pemain jadi tidak terlalu ketat."

Itulah mengapa pada musim depan keran pemain asing akan kembali dibuka menjadi maksimal 10 pemain. Politikus Partai Komunis Rusia, Yuri Afonin, kembali mengeluarkan gagasan membebaskan penggunaan pemain asing asalkan tidak menggunakan uang negara.

infografik peran politik sepak bola arab dan rusia

Rezim Konservatif Saudi Tak Bisa Menghadang Sepakbola

Globalisasi sepakbola yang menyusup ke Rusia ini juga tak bisa dihentikan di Arab Saudi. Semuanya bermula pada November 2016. Saat itu, Kerajaan Arab Saudi memutuskan untuk mulai berinvestasi besar-besaran di dunia olahraga. Secara historis, Arab Saudi memang membatasi keterlibatannya di ajang olahraga internasional, terutama partisipasi perempuan dalam kegiatan tersebut.

Orang yang yakin bahwa Saudi harus berinvestasi di bidang olahraga adalah Pangeran Mohammed Bin Salman. Ia mencoba meyakinkan publik di Saudi jauh sebelum menjadi putera mahkota kerajaan. Saat itu, Mohammed Bin Salman, yang baru berusia 31 tahun, adalah wakil putra mahkota merangkap Menteri Pertahanan, sekaligus Presiden Dewan Urusan Ekonomi dan Pembangunan. Peran itu tetap ia pegang sejak April 2015 hingga hari ini.

Investasi Saudi di bidang olahraga ini merupakan bagian dari visi 2030 yang dicanangkan sebelumnya. Proposal masa depan ini akan membuat Saudi bebas dari ketergantungan minyak saat 2030 nanti.

Sebagai langkah awal, Saudi langsung menyelenggarakan event olahraga berskala internasional mulai dari motorsport hingga kejuaraan tinju dunia. Dalam konteks sepakbola, perubahan dilakukan Bin Salman saat mencabut larangan perempuan ke stadion.


Ada prakondisi tertentu yang membuatnya mencabut aturan ini. Ketika Mohammed bin Salman naik jadi Putra Mahkota pada pertengahan 2017, dia mulai membina sekelompok anggota muda dan ambisius dari keluarga Al-Saud. Ia mengangkat kerabat dekatnya ini ke posisi kekuasaan yang sejalan dengan keinginnanya. Salah satu hal yang ia lakukan adalah mengangkat Putri Reema binti Bandar bin Sultan sebagai presiden perempuan pertama Federasi Olahraga Rekreasi Saudi.

Saat dilantik, putri ini berjanji bahwa ia akan mengupayakan perempuan agar diizinkan masuk ke dalam stadion. Dan benar saja, pada Jumat 12 Januari lalu, ribuan perempuan berbondong-bondong ke stadion sepakbola di Jeddah untuk menghadiri pertandingan Liga Premier Saudi antara Al Ahli dan Al Batin. Media sosial menjadi etalase tempat beredarnya foto-foto stadion di Saidi yang diperbarui, stadion yang kini mulai memiliki toilet untuk perempuan.

Mohammed bin Salman melakukan reformasi dengan cara yang cukup dramatis, walau pun sebenarnya ia cukup berhati-hati. Tidak semua stadion diizinkan menerima suporter perempuan. Izin untuk menonton sepakbola di stadion hanya berlaku untuk tiga stadion yang ditunjuk kerajaan.


Kendati demikian, situasi ini pun sudah cukup untuk menegaskan sedang terjadi arus perubahan di Saudi. Biar bagaimana pun, izin menonton sepakbola kepada kaum hawa ini bergesekan dengan ajaran wahabi. Namun segalak apa pun fatwa sebagian ulama di Saudi, mereka tak berkutik saat dihadapkan pada kehendak penguasa.Sebelumnya, ulama saudi selalu bersikap keras terhadap gagasan mengizinkan perempuan menonton sepakbola.

Sejauh ini mayoritas ulama di Saudi tidak ada yang mencerca izin ini. Dari yang sedikit itu, salah satu yang berani mengkritik adalah Syeikh Saad Al Hijiri. Ia seorang ulama terkemuka di provinsi Asir. Dalam fatwanya ia melarang perempuan menonton sepakbola, baik itu secara langsung maupun lewat televisi, sebab dalam sepakbola mempertontonkan aurat para pria.

Seperti diketahui, dalam islam aurat seorang pria ada di pusar hingga lutut. Para pemain sepakbola yang sering memperlihatkan paha, katanya, sangatlah buruk dan berpotensi menjadi dosa jika ditonton oleh perempuan.

Syeikh satu ini memang sering membuat kontroversi. Selain mencela stadion yang terbuka bagi kaum hawa, ia pun sempat menolak izin pemberian izin mengemudi pada perempuan yang mulai berlaku tahun lalu. Bedanya dengan kasus sepakbola, ujaran soal SIM ini membuat Saad Al Hijiri diganjar hukuman diskors tak boleh menjadi penceramah oleh kerajaan selama beberapa bulan (baca: Perempuan Saudi Kini Boleh Mengemudi, Tapi Hak-Hak Lain Nanti Dulu).


Ya, izin kepada perempuan untuk menonton sepakbola ini memang hampir berbarengan dengan izin kepada perempuan Saudi untuk menyetir mobil. Hal itu juga bisa dibaca satu paket dengan izin dibukanya kembali bioskop di Saudi. Hal-hal itu merupakan satu paket kebijakan yang menandai satu hal: perubahan sedang berlangsung di Saudi.

Kerajaan Saudi sadar bahwa terus mengandalkan minyak hanya akan membuat mereka sengsara di kemudian hari, sehingga mereka mulai berinvestasi ke bidang yang lain, salah satunya: dunia hiburan, dunia bersenang-senang. Dalam dunia satu ini, mereka tertinggal beberapa langkah dari Uni Emirat Arab.

Duel pembukaan Piala Dunia 2018 mungkin tidak terlalu menarik secara permainan, tapi menarik jika melihat latar belakang politik yang sedang berlangsung di masing-masing negara. Komunisme dan wahabisme boleh jadi adalah cerita yang tidak terlalu akurat jika mengabaikan perubahan-perubahan yang sedang berlangsung di Rusia dan Saudi.

Di malam takbiran nanti, kita akan menyaksikan keduanya berduel di partai pembukaan Piala Dunia 2018.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2018 atau tulisan menarik lainnya Aqwam Fiazmi Hanifan
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan
Editor: Aqwam Fiazmi Hanifan