Menuju konten utama

Rupiah dan IHSG Hari Ini 24 Agustus 2026: Kompak Menguat

Rupiah dibuka menguat ke Rp17.690 per dolar AS, sementara IHSG naik 0,28 persen ke 6.544. Pasar mencermati kebijakan BI, The Fed, dan Asia.

Rupiah dan IHSG Hari Ini 24 Agustus 2026: Kompak Menguat
Karyawan memperlihatkan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/nym.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pada pembukaan perdagangan Senin (24/8/2026), nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Rupiah dibuka di level Rp17.690 per dolar AS, menguat 4 poin atau 0,02 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya pada Rp17.694 per dolar AS. IHSG juga menguat ke level 6.544,00.

Penguatan rupiah terhadap dolar AS tersebut melanjutkan tren positif yang sudah terlihat pada perdagangan Jumat (21/8), ketika rupiah menguat 54 poin atau 0,30 persen, dari sebelumnya Rp17.748 menjadi Rp17.694 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menilai penguatan rupiah salah satunya mendapat dukungan dari keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75 persen.

“Kebijakan tersebut tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, sekaligus memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi,” terangnya dikutip Antara News, Jumat (21/8/2026).

Kebijakan suku bunga BI menjadi salah satu faktor domestik yang diperhatikan pasar karena memengaruhi daya tarik aset berdenominasi rupiah serta ekspektasi investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Pergerakan rupiah juga masih sangat dipengaruhi oleh dinamika dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury. Dolar AS sempat berada di bawah tekanan setelah Pemerintah AS mengumumkan peningkatan pembelian kembali obligasi jangka panjang.

Namun, tekanan terhadap dolar tersebut tidak berlangsung lama karena imbal hasil Treasury kembali meningkat. Kondisi tersebut membuat pasar tetap mencermati perkembangan inflasi dan posisi fiskal Amerika Serikat, yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed) serta arus modal global, termasuk ke pasar negara berkembang seperti Indonesia.

Faktor lain yang menjadi perhatian investor adalah risalah Federal Open Market Committee (FOMC).

“Risalah Federal Open Market Committee (FOMC) juga menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara pejabat The Fed mengenai arah suku bunga, sehingga prospek kebijakan moneter AS masih menjadi perhatian pasar,” ungkap Amru.

IHSG Menguat 0,28 Persen ke Level 6.544,00 Pagi Ini

Pada pembukaan perdagangan Senin (24/8/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) melanjutkan penguatan 18,31 poin atau 0,28 persen ke level 6.544,00, dari posisi penutupan perdagangan Jumat (21/8) di 6.525,69.

Penguatan juga terjadi pada indeks saham unggulan, dengan LQ45 naik 1,41 poin atau 0,22 persen menjadi 646,00. Kinerja positif tersebut meneruskan penguatan pada akhir pekan sebelumnya, ketika IHSG ditutup naik 24,10 poin atau 0,37 persen seiring dengan sentimen positif dari bursa saham kawasan Asia.

Penguatan bursa domestik tersebut tidak terlepas dari perkembangan positif di sejumlah pasar Asia. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan pelaku pasar merespons rilis data ekonomi Jepang sekaligus menantikan pertemuan Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional Cina pada 25-28 Agustus 2026.

Salah satu data yang menjadi perhatian adalah PMI Manufaktur S&P Global Jepang, yang meningkat menjadi 55,1 pada Agustus 2026 dari 54,5 pada Juli. Angka tersebut menandai bulan kedelapan berturut-turut aktivitas manufaktur Jepang berada dalam fase ekspansi dan menjadi pertumbuhan sektor manufaktur terkuat sejak April 2026.

Peningkatan terutama didorong oleh kenaikan pekerjaan baru yang menjadi yang tercepat sejak Januari 2018 serta pertumbuhan penjualan luar negeri yang juga mencapai laju terkuat sejak awal 2018.

Dari Cina, investor menunggu hasil pertemuan Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional yang digelar di Beijing pada 25-28 Agustus 2026. Pertemuan tersebut dinilai penting karena pasar mengharapkan adanya petunjuk mengenai kebijakan ekonomi tambahan setelah sejumlah data ekonomi Cina untuk Juli menunjukkan pelemahan.

Ekspektasi terhadap stimulus atau dukungan kebijakan baru dari pemerintah Cina menjadi salah satu sentimen yang dapat memengaruhi pasar saham Asia, termasuk Indonesia, mengingat Cina merupakan salah satu kekuatan ekonomi utama dunia dan memiliki hubungan perdagangan yang erat dengan Indonesia.

"Pasar berharap mendapatkan panduan kebijakan tambahan setelah serangkaian data ekonomi lemah yang dilaporkan untuk bulan Juli 2026," ujar Nico.

Selain itu, pergerakan Wall Street yang masih volatil di tengah keputusan dan kebijakan Departemen Keuangan AS yang kembali menyoroti kekhawatiran mengenai tingginya imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang turut menjadi perhatian investor.

Imbal hasil yang tinggi dapat meningkatkan biaya pembiayaan pemerintah sekaligus memberikan tekanan lebih luas terhadap perekonomian dan pasar saham. Tingginya biaya pendanaan dapat memengaruhi valuasi aset berisiko dan membuat investor melakukan penyesuaian portofolio.

Pasar saham domestik disebut juga menaruh perhatian pada rencana BEI untuk menghapus ketentuan harga minimum saham Rp50. Kebijakan tersebut ditujukan untuk meningkatkan likuiditas dan efisiensi perdagangan, sekaligus menghilangkan batasan yang selama ini dinilai dapat mendistorsi mekanisme harga pada saham berharga rendah.

Penghapusan batas minimum tersebut berpotensi membuat harga saham lebih mencerminkan mekanisme permintaan dan penawaran, meskipun di sisi lain dapat meningkatkan risiko spekulasi pada saham-saham berharga rendah.

"Penghapusan tingkat minimum akan memungkinkan harga untuk mencerminkan penawaran dan permintaan dengan lebih baik, dan langkah ini sejalan dengan upaya regulasi yang lebih luas untuk memperkuat likuiditas di pasar ekuitas Indonesia. Namun berpotensi meningkatkan risiko spekulasi pada saham-saham berharga rendah," ujar Nico.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra