tirto.id - Survei terbaru yang dirilis Media Survei Nasional (Median) menunjukkan dinamika sikap organisasi kemasyarakatan (ormas) terhadap keputusan Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BoP).
Hasilnya memperlihatkan kontras antara basis Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) dalam hasil survei, yang dipaparkan pada Senin (23/2/2026).
Di NU terjadi pembelahan antara yang setuju dan tidak setuju, sementara di Muhammadiyah mayoritas responden menyatakan penolakan terhadap keanggotaan Indonesia di forum internasional tersebut.
Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun, menjelaskan dari responden yang mengaku sebagai kader, anggota, atau simpatisan NU, lebih banyak yang mendukung kebijakan pemerintah Indonesia bergabung dengan BoP bentukan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
“Dari 100 persen mereka yang mengaku kader, anggota, atau simpatisan Nahdlatul Ulama, yang setuju sebesar 53,2 persen. Tetapi yang tidak setuju itu 36,3 persen. Dan yang tidak tahu atau belum menentukan sikap 10,5 persen,” kata Rico dalam pemaparan hasil survei secara daring, Senin (23/2/2026).
Rico menambahkan bahwa jika digabung, angka yang tidak setuju dan belum menentukan sikap cukup signifikan.
“Kalau kita total, angkanya sekitar 46,8 persen yang belum menentukan sikap atau tidak mau bergeser ke arah setuju. Jadi NU sendiri, walaupun dukungan dari PBNU cukup besar, tetapi di bawahnya memang ada sedikit pembelahan,”
ujarnya.
Situasi berbeda terlihat di kalangan warga Muhammadiyah, yaitu yang setuju hanya 13,9 persen. Sementara, yang tidak setuju 71,8 persen dan tidak tahu atau tidak jawab 14,3 persen.
Data tersebut memperlihatkan tingkat persetujuan maupun penolakan di masing-masing basis ormas.
“Ini menunjukkan bagaimana tingkat persetujuan atau tidak persetujuan dari simpatisan, kader, atau anggota ormas tersebut,” jelasnya.
======
Hanang Septioyudho berkontribusi terhadap penulisan artikel ini.
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id


































