Menuju konten utama

Purbaya: Pembiayaan Lewat Panda Bond Lebih Murah dari Dolar AS

Purbaya mengatakan, pembiayaan melalui Panda Bond menjadi alternatif strategis di tengah tingginya suku bunga global yang didominasi kebijakan moneter AS.

Purbaya: Pembiayaan Lewat Panda Bond Lebih Murah dari Dolar AS
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersiap mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (11/6/2026). Dalam rapat tersebut Komisi XI DPR dan pemerintah resmi menyepakati Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/sgd
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menjajaki diversifikasi sumber pembiayaan melalui penerbitan surat utang berdenominasi yuan di Cina atau Panda Bond.

Menurut Purbaya, bunga yang ditawarkan jauh lebih kompetitif dibandingkan instrumen berbasis dolar AS. Langkah ini diambil untuk mengurangi tekanan terhadap anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sekaligus memberikan ruang fiskal yang lebih leluasa dalam membiayai defisit.

"Kemarin kami ke Cina untuk melakukan diversifikasi sumber pembiayaan, supaya tekanan kita berkurang sedikit. Di Cina, Panda Bond kita ekspektasinya lebih murah ya bunganya dibanding Amerika. Dolar base," ujar Purbaya dalam rapat kerja dengan Komite IV DPD RI, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (22/6/2026).

Mantan Kepala LPS ini menjelaskan, pembiayaan melalui Panda Bond menjadi alternatif strategis di tengah tingginya suku bunga global yang didominasi oleh kebijakan moneter AS.

Dengan bunga yang lebih rendah, Purbaya berharap bisa menekan biaya utang dan menjaga defisit anggaran tetap terkendali di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

"Jadi kita harapkan nanti ada alternatif pembiayaan dari kita yang membuat kita agak leluasa ketika melakukan pembiayaan untuk defisit anggaran kita," imbuhnya.

Meskipun optimistis terhadap potensi Panda Bond, Purbaya mengatakan bahwa pemerintah tetap berkomitmen menjaga disiplin fiskal. Ia memaparkan sembilan kebijakan strategis yang dijalankan, mulai dari menjaga stabilitas harga BBM, pangan, dan energi, hingga memperkuat sinergi fiskal dan moneter.

Ia juga menyoroti pentingnya efisiensi belanja dan percepatan penyerapan anggaran agar lebih merata sepanjang tahun, bukan hanya terkonsentrasi di akhir periode.

Hal ini, menurutnya, sempat menimbulkan kekhawatiran defisit melonjak di awal tahun, namun secara keseluruhan tetap terkendali. “Makanya di awal tahun, ketika belanjanya kencang, defisit akan agak tumbuh besar. Normal karena banyaknya belum masuk. Itu yang menimbulkan waktu itu kekhawatiran kita akan menembus 3 persen PDB defisitnya,” ujarnya.

Namun, Purbaya menilai hal itu sebagai hal yang wajar karena para ekonom dan lembaga internasional menghitung proyeksi defisit Indonesia berdasarkan pada angka defisit kuartal I-2026 yang mencapai 0,9 persen. Para ekonom dan lembaga internasional mengalikan angka defisit itu dengan 4 kuartal yang menghasilkan angka defisit sebesar 3,6 persen.

“Jadi ada ketidakkonsistenan ketika memprediksi defisit kita. Tapi nggak apa-apa. Sampai akhir tahun ini kita akan tetap stabil defisitnya di bawah 3 persen,” katanya.

Purbaya juga mengingatkan bahwa berbagai kebijakan yang diambil pemerintah, termasuk subsidi BBM, pangan, dan energi, memiliki dampak besar terhadap anggaran, namun tetap diperlukan untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas sosial.

"Padahal ini dampaknya ke anggaran cukup besar. Jadi pemerintah sudah menganggarkan uang untuk harga BBM, harga pangan, dan energi untuk menjaga daya beli masyarakat. Ini yang kadang-kadang masyarakat lupa," tuturnya.

Baca juga artikel terkait PEMERINTAHAN PRABOWO-GIBRAN atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Andrian Pratama Taher