tirto.id - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, akan memaksa pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6 persen pada tahun 2026. Target ini lebih ambisius dibandingkan asumsi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 yang berkisar di angka 5,4 persen.
Purbaya mengungkapkan bahwa probabilitas mencapai target tinggi didukung oleh sinkronisasi kebijakan yang semakin erat antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI).
"Jadi sekarang bisa ngomong dengan lebih yakin bahwa tahun depan 6 persen walaupun di APBN (asumsi) 5,4 persen ya. Saya akan paksa dorong ke 6 persen dan probability itu terjadi semakin terbuka lebar karena kami semakin sinkron dengan bank sentral," kata Purbaya dalam media briefing di Kemenkeu, Jakarta, Rabu (31/12/2025).
Sinkronisasi dengan BI, menurutnya, telah semakin baik. Ia merujuk pada pertumbuhan base money atau M0 yang menunjukkan tren positif.
“Tadi begitu saya injek naik ke 13 persen, lalu turun ke 7 persen, turun ke 6 persen, ke 5 persen. Mungkin data sekarang sudah 13 persen lagi. Jadi itu menunjukkan kontribusi yang real dari bank sentral ke perekonomian,” ujarnya.
Di sisi fiskal, pemerintah mengklaim tidak ada masalah dalam mengeksekusi belanja negara.
"Artinya dari belanja enggak ada masalah, kita bisa belanja dengan baik," ujarnya.
Meski demikian, Purbaya mengakui bahwa penerimaan negara berada sedikit di bawah prediksi, sehingga defisit anggaran diperkirakan lebih lebar dari outlook defisit APBN 2,78 persen.
Untuk mewujudkan target 6 persen di tahun depan, Purbaya menyebutkan dua upaya utama. Pertama, percepatan belanja fiskal di awal tahun. Kedua, koordinasi yang lebih baik dengan otoritas moneter.
"Terus kami sinkroni kebijakan moneter lebih baik. Dengan moneter ya, bukan saya intervensi ya, kita komunikasi lebih baik dengan Pak Gubernur dari Bank Sentral," jelasnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id





































