tirto.id - Puluhan rumah warga di Desa Pante Lhong, Kecamatan Peusangan, Bireuen, Aceh, luluh lantah diterjang banjir, Kamis (26/11/2025). Meski sudah lewat berhari-hari pascabanjir, kondisi desa itu masih sunyi, penuh lumpur dan pasir menggunung, baik di dalam maupun area luar rumah.
Tirto bersama Yayasan Plan Internasional Indonesia berkesempatan mengunjungi desa tersebut pada Kamis (7/12/2025), kemudian menyisir dari satu rumah ke rumah lain.
Lumpur dan pasir menyambut tiap langkah kami mengelilingi desa. Beberapa warga memang terlihat mulai membersihkan pasir dan lumpur yang masuk ke dalam rumahnya. Kondisinya memprihatinkan sehingga sulit ditempati dalam waktu dekat lantaran pasir dan lumpur yang menebal.

Kesaksian Warga di Detik-Detik Banjir Melanda
Munawir (39) belum benar-benar lelap saat banjir menerjang rumahnya di Desa Pante Lhong, Kecamatan Peusangan, Bireuen, Aceh, pada Kamis (26/11/2025). Hujan berintensitas tinggi pada malam harinya membuat mereka sekeluarga diselimuti rasa waswas. Tidur menjadi tak nyenyak.
"Posisi hujan, terus air naik cepat," kenang Munawir, sembari sesekali menyeka keringat usai membersihkan lumpur dan pasir di rumahnya, kepada Tirto, Minggu (7/12/2025).
Teriakan warga tentang datangnya banjir membuat Munawir sekeluarga beranjak dari kasur, lalu pergi meninggalkan rumah.
"Kami, kan, waktu itu lagi tidur. Cuma orang ada sorak-sorak. Keluar semua [karena] ada yang teriak. Ada apa, nih, kita tengok. Ada air. Kami sekeluarga bangun. Berangkat ke meunasah [musala]," kata dia menceritakan momen nahas itu.
Air yang terus meninggi memaksa Munawir sekeluarga mengungsi ke ruko berlantai dua. "Kondisi enggak ada makanan. Kebetulan di ruko itu ada jualan snack, kita beli," ungkapnya.
Selaras dengan pantauan lapangan Tirto, Murizal, Kepala Desa Pante Lhong, mengatakan bahwa kondisi rumah warga sudah susah ditempati karena tertimbun lumpur dan pasir pascabanjir.
"Di sini kita melihat kondisi rumah sudah rusak dan tidak bisa ditempati karena tertimbun pasir. Ada beberapa rumah yang di pinggir sungai hilang," tambahnya.
Murizal menyebut, banjir di desanya telah memakan beberapa korban jiwa. Tak cuma orang dewasa, tapi juga balita.
"Ada dua yang menjadi korban tewas. Satu orang tua dan satu bayi," tukasnya.
Penulis: Fransiskus Adryanto Pratama
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































