Prospek Industri Gaming yang Semakin Menggiurkan

Penulis: Dwi Ayuningtyas, tirto.id - 23 Feb 2023 10:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Pada musim semi 2020, bermain game jadi salah satu aktivitas paling populer pada periode awal pandemi Covid-19
tirto.id - Badai pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada aktivitas perekonomian, tetapi juga secara tidak langsung mengubah pola hidup masyarakat. Kebijakan stay at home, working from home, membuat orang berada di rumah lebih lama. Ini menyebabkan timbulnya hobi atau kegiatan baru untuk mengisi waktu luang.

Laporan dari Statista menyebutkan pada musim semi 2020, bermain game muncul sebagai salat satu aktivitas paling populer pada periode awal wabah pandemi Covid-19 yang ditandai dengan melonjaknya interaksi dan pengeluaran pengguna.

Pengeluaran atas game digital secara global untuk konten dalam game dan unduhan berbayar tercatat meningkat masing-masing sebesar 12 persen dan 21 persen.

“Orang-orang mencari cara untuk menghibur diri dan mempertahankan hubungan sosial mereka,” ujar Bartosz Skwarczek, salah satu pendiri situs penjualan game G2A.com kepada World Economic Forum.

Dari survei yang dilakukan Statista di beberapa negara Eropa, sekitar sepertiga responden bilang bahwa main video game membuat mereka merasa tak terlalu terisolasi, mengurangi kecemasan, bahkan membuat mereka merasa lebih bahagia.

Gaming Industry
Gaming Industry. foto/istimewa



Prospek Industri Game Global

Perusahaan bank investasi terkemuka, Morgan Stanley, merekomendasikan saham-saham industri game untuk diinvestasikan pada tahun ini. Hal ini dengan pertimbangan bahwa di tahun 2023 akan banyak perusahaan yang merilis konten baru.

“Kami melihat banyaknya konten berkualitas sebagai satu-satunya faktor terpenting di balik ekspektasi kami untuk pemulihan pasar yang kuat menjelang musim liburan mendatang,” ungkap Seyon Park, analis Morgan Stanley.

Selain itu, industri game secara historis tercatat lebih imun saat masa resesi ekonomi. Pasalnya, waktu yang dihabiskan untuk bermain game di rumah dan berinteraksi antara penggunanya jauh lebih murah dibandingkan dengan menghabiskan waktu di luar bersama teman dan keluarga.

“Penjualan game telah terbukti tahan terhadap siklus ekonomi yang menurun,” tegas Omar Sheikh, analis di time Media Eropa Morgan Stanley.

Merujuk pada grafis di bawah ini, Morgan Stanley mencatat selama periode resesi keuangan global pada 2008, konsumen malah menghabiskan lebih banyak anggaran untuk membeli video game konsol dan aksesorisnya.


Gaming Industry
Gaming Industry. foto/Istimewa




Newzoo, perusahaan data analis dan konsultan untuk industri game, dalam studinya yang berjudul “2021 Global Games Market Report” menyebutkan bahwa ada sekitar 3 miliar orang yang bermain game di seluruh dunia. Mayoritas pengguna berada di kawasan Asia Pasifik, dan China memiliki jumlah pemain paling banyak.

Gaming Industry
Gaming Industry. foto/istimewa


Hasil studi juga menyebutkan bahwa wilayah Asia Pasifik akan terus menunjukkan tren positif dalam industri. Perusahaan pengembang game menaruh minat yang cukup tinggi pada pasar di China, India, dan Asia Tenggara.

Lebih lanjut, Statista memproyeksi bahwa pada 2023, pemasukan dari industri video game akan mencapai USD365,1 miliar atau setara Rp5.476,5 triliun dengan kontribusi terbesar berasal dari mobile games yang diperkirakan menorehkan pendapatan USD315,9 miliar atau Rp4.738,5 triliun (asumsi kurs Rp15.00/USD).

Statista juga memprediksi perolehan pendapatan akan menunjukkan tren positif setidaknya dalam 5 tahun mendatang dengan tingkat pertumbuhan tahunan berada di level 7,24 persen. Alhasil, pada 2027 nanti, pangsa pasar industri ini diperkirankan akan tumbuh ke level USD482,9 miliar atau Rp7.243,5 tirliun.

Indonesia, Pasar Industri Game Terbesar di Asia Tenggara

Merujuk Statista, game di Indonesia merupakan salah satu industri yang menunjukkan pertumbuhan cukup stabil dengan pangsa pasar domestik 2021 mencapai USD1,92 miliar atau setara Rp28,8 triliun.

Karena itu tak mengejutkan kalau ternyata lebih dari setengah populasi di Indonesia tercatat merupakan gamers. Hal ini berarti Indonesia tidak hanya menempatkan posisinya sebagai pemimpin industri game di Asia Tenggara dari sisi pangsa pasar, namun juga dari banyaknya pengguna.

Faktor lainnya yang menyokong potensi besar di industri ini adalah temuan yang menyebutkan bahwa gamers di Indonesia menghabiskan waktu 1-2 jam dalam sekali sesi per mainan.

Survei dari Asosiasi Game Indonesia (AGI) bahkan menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan sekitar 8,54 jam dalam seminggu untuk bermain video games. Jumlah tersebut lebih tinggi dari rerata global yang ada di level 8,45 jam per minggu.

Lebih lanjut, potensi Indonesia sebagai pemain kunci industri game di Asia Tenggara juga disetujui oleh salah satu pimpinan di Google.

“Indonesia kini menjadi pasar game terbesar kelima di Asia. Yang pertama adalah China, diikuti oleh Jepang, Korea Selatan, dan India,” ujar Sami Kizilbash, Global Head of Accelerator and Experts Teams di Google, dikutip dari Tempo.

Sami menambahkan Indonesia tidak hanya berpotensi menduduki posisi kunci dari segi pangsa pasar, namun dari banyaknya jumlah studio game, baik yang berukuran besar atau kecil.

Google mencatat terdapat lebih dari 10.000 perusahaan pengembang game asal Indonesia yang terdaftar di Google Play. Selain itu, sekitar 150 juta penduduk Indonesia mengunjungi segmen games di Google Play tiap bulannya.

Statista memprediksi industri game Ibu Pertiwi akan tumbuh secara tahunan di level 7,04 persen yang mendorong kenaikan pemasukan di kisaran USD1,4 miliar di tahun 2027. Permainan jenis action, role-playings, dan strategi akan menjadi segmen yang paling favorit dengan proyeksi nilai pendapatan tertinggi.

Pemerintah Indonesia menyadari potensi besar yang dimiliki oleh industri ini. Oleh karena itu pemerintah menyediakan beberapa insentif fiskal untuk investor asing yang berkeinginan terjun di industri game Tanah Air.

Cekindo menjelaskan insentif yang diterima termasuk tax holiday (potongan pajak 100 persen) hingga maksimal 20 tahun untuk perusahaan dengan modal investasi di atas Rp500 miliar. Kemudian juga ada pemotongan pajak penghasilan hingga 50 persen untuk investasi sebesar Rp100-500 miliar.

Kemudian, terdapat keringanan dan bahkan pembebasan pajak jika perusahaan melakukan investasi di bidang vokasi dan penerbitan paten domestik.

Berdasarkan penjabaran di atas, tampaknya berinvestasi dan terjun ke bisnis industri game bisa menjadi pilihan bagi para investor domestik dan wirausaha di Indonesia.

Populasi yang besar dibarengi dengan penetrasi pengguna smartphone dan internet yang meningkat tiap tahunnya, membuat industri game di Indonesia memiliki prospek yang cukup menggiurkan.

Baca juga artikel terkait GAMING atau tulisan menarik lainnya Dwi Ayuningtyas
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Dwi Ayuningtyas
Editor: Nuran Wibisono

DarkLight