Profil Jabir Bin Hayyan, Sang Alkemis Bapak Ilmu Kimia Modern

Kontributor: Yuda Prinada, tirto.id - 21 Nov 2022 10:07 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Profil dan biografi Jabir Bin Hayyan yang dikenal sebagai bapak ilmu kimia modern. Berikut sejarah singkatnya.
tirto.id - Jabir Bin Hayyan dikenal sebagai bapak ilmu kimia modern. Ilmuwan Muslim yang bernama Jabir Al-Hayyan ini kerap disapa lengkap Abu Musa Jabir Ibn Hayyan Al-Azdi. Penyebutan nama pria ini di daerah Barat adalah Geber.

Menurut situs Universitas Darussalam Gontor, Jabir Al-Hayyan hidup di dua pemerintahan dinasti Islam. Di antaranya pernah hidup sejak Kekhalifahan Umayyah hingga periode awal Kekhalifahan Abbasiyah.

Lebih lanjut dari itu, pria ini diklaim berkontribusi dalam pengembangan ilmu kimia berupa kristalisasi, distilasi, sublimasi, kalsinasi, hingga penguapan. Semua pengetahuan tentang kimiawi membawa Jabir disebut-sebut sebagai Bapak Ilmu Kimia Modern.

Lalu, bagaimana profil singkat Ilmuwan Muslim ini?



Kontroversi Kelahiran dan Karya Jabir Al-Hayyan

Berdasarkan Encyclopedia Britannica dan National Library of Medicine, bapak Kimia Arab, Jabir Ibn Hayyan, lahir pada 721 Masehi di daerah Tus, Iran.

Masih mengutip sumber yang sama disebutkan bahwa Jabir Al-Hayyan wafat pada 815 Masehi di daerah Kufah, Irak.

Sementara, di laman resmi Universitas Darussalam Gontor disebut bahwa Jabir lahir di Kufah, Irak, pada 750 Masehi.

Terlepas dari dua data berbeda tersebut, selama hidup ia diklaim sudah membuat karya yang mengandung ilmu pengetahuan sekitar 3.000 buah jumlahnya. Seorang sejarawan bernama Paul Kraus, menyebut bahwa kemungkinan karya ditulis oleh satu orang adalah suatu “ketidakmungkinan”.

Beberapa di antaranya disebut Paul baru ditulis sekitar abad ke-9 sampai abad ke-10. Dengan begitu, Jabir Al-Hayyan sudah tidak ada di masa tersebut lantaran sudah tutup usia pada 815 Masehi.



Kehidupan, Karya, dan Pemikiran Jabir Al-Hayyan Sang Alkemis

Infografik Jabir ibn Hayyan
Infografik Jabir ibn Hayyan


Jabir Al-Hayyan diklaim sebagai bapak kimia Arab dan salah satu tokoh yang berpengaruh terhadap perkembangan dunia farmasi modern. Di daerah Yaman, ia sempat mengemban pendidikan dengan ulama Harbi Al-Himyari.

Kala dinasti Abbasiyah berkuasa, Jabir pergi ke daerah Kufah, Irak. Di tempat tersebut, alkemis ini mempelajari ilmu dari guru Imam Jafar Al-Sadiq. Ajaran yang diterima kala itu meliputi farmasi, kimia, filsafat, kedokteran, dan astronomi.

Sezgin F dalam Geschichte des arabischen Schrifttums (1971), menyebut pria ini sangat produktif dalam menulis. Di antaranya ada 300 buku filsafat, 1300 buku alat-alat mekanik, dan sisanya yang lebih banyak berisi tentang kimia.

Ketika masih hidup, ia sempat mengungkapkan pendapat bahwa logam bisa diubah menjadi emas atau perak lewat perubahan kimia tertentu. Lebih lengkap, ia menjabarkan tiga zat berdasarkan kategori.

Pertama, ada zat roh yang dapat menguap saat terkena panas. Misalnya, amonium klorida, kamper, arsenik, dan sulfur. Kedua, ada zat logam yang dibagi atas tembaga, emas, perak, timah, dan besi. Terakhir, ada zat nonlunak yang terdiri dari arang dan batu.

Terlepas dari itu, beberapa buku terkenalnya di dunia kimia meliputi Kitab al-Kimya, Kitab At-Tajmi’, Az-Zi’baq As-Syarqi, Kitab Ar-Rahmah, hingga Kitab al-Sab-een (Seventy Books atau Kitab Tujuh Puluh). Di antaranya, ada beberapa yang diterjemahkan ke bahasa Latin setelah tahun 1000-an.


Baca juga artikel terkait PROFIL ILMUWAN MUSLIM atau tulisan menarik lainnya Yuda Prinada
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Yuda Prinada
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Yulaika Ramadhani

DarkLight