Menuju konten utama

Prajurit TNI Akui Tendang Perut & Lilit Leher Kacab Bank BUMN

Serka Mochamad Nasir mengatakan tendangan ke arah Muhammad Ilham Pradipta itu agar korban diam dan tidak memberontak.

Prajurit TNI Akui Tendang Perut & Lilit Leher Kacab Bank BUMN
Terdakwa kasus dugaan penculikan dan pembunuhan kepala cabang (kacab) bank Serka Frengky Yaru (kiri), Kopda Feri Heriyanto (tengah) dan Serka Mochamad Nasir (kanan) memberikan keterangan saat mengikuti sidang lanjutan di Pengadilan Militer II-08, Jakarta, Jakarta, Selasa (5/5/2026). Sidang tersebut beragendakan pemeriksaan tiga terdakwa untuk mendalami kronologi peristiwa. ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Anggota TNI, Serka Mochamad Nasir, mengaku sempat menendang bagian perut dan dada kepala cabang sebuah bank BUMN di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Muhammad Ilham Pradipta, sebelum dibuang di wilayah Bekasi.

Hal itu disampaikannya dalam sidang pemeriksaan terdakwa yang digelar di Pengadilan Militer II-08 Jakarta, Senin (5/5/2026).

Awalnya, Nasir ditanyakan Oditur terkait perintah yang diberikan kepadanya. Dia mengatakan perintah hanya untuk menculik dan diserahkan.

“Awalnya perintahnya atau pekerjaan-pekerjaan apa yang diminta kepada Terdakwa 1 itu untuk dilaksanakan? Atau perintahnya bagaimana? Pekerjaan itu harus bagaimana?,” tanya Oditur Militer dari Oditurat Militer II-07 Jakarta, Mayor (Chk), Wasinton Marpaung, dalam persidangan.

“Izin, untuk perintah pekerjaan dari saudara Dwi dan Joko hanya untuk menculik,” jawab Nasir.

Korban kemudian dipindahkan ke dalam mobil Toyota Fortuner. Namun, tim penjemput yang dijanjikan tidak kunjung datang sehingga dia dan dua orang lainnya membawa korban berkeliling selama berjam-jam.

Di dalam mobil, korban ditempatkan di area bawah jok tengah dalam posisi miring dan tangan terikat. Dalam perjalanan korban disebut sempat berontak.

Nasir sebagai Terdakwa 1 mengaku melakukan penendangan terhadap korban dari posisi jongkok di atas jok tengah.

“Titik terakhirnya kan di Bekasi. Selama dalam perjalanan itu yang Terdakwa 1 lakukan di selama di dalam mobil?,” tanya Oditur.

“Izin, untuk korban sempat saya tendang dua kali,” jawab Nasir.

Tendangan pertama diarahkan ke bagian perut menggunakan kaki kiri, disusul tendangan kedua ke bagian dada menggunakan kaki kanan. Nasir menyebut tendangan itu agar korban diam dan tidak memberontak.

“Karena pas lagi korban seperti ini Oditur saya tendang karena 'Sudah kamu diam, jangan banyak ngomong', saya tendang korban,” katanya.

Selain itu, terdakwa juga mengakui melilitkan handuk ke tubuh korban. Awalnya handuk itu digunakan untuk menutup mulut karena lakban terlepas, namun kemudian lilitan tersebut dipindahkan ke leher saat korban hendak diturunkan dari mobil.

“Kalau sebagaimana keterangan saksi kemarin yang mengatakan bahwa ini ada juga keterangan terdakwa di sini, bahwa terdakwa memelintir atau melilitkan handuk di leher korban dan sambil menarik hingga kepala korban terangkat dan menekan bahu korban pakai kaki?,” kata Oditur.

“Untuk melilitkan itu betul. Betul kan?,” kata Nasir

“Melilitkan itu di bagian leher?," tanya Oditur.

“Bukan, di bagian mulut. Di bagian mulut karena lakban terbuka. Pas korban saya turunkan saya letakkan ke bawah itu baru saya lilit di bagian leher,” katanya.

Perjalanan itu berlangsung sekitar beberapa jam, hingga akhirnya korban dibawa ke wilayah Bekasi. Setibanya di lokasi, korban ditarik keluar dari mobil dan dibawa sejauh beberapa meter sebelum ditinggalkan. Terdakwa menyebut saat itu korban sudah tidak melakukan perlawanan.

Baca juga artikel terkait KASUS PEMBUNUHAN atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - Flash News
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Bayu Septianto