tirto.id - Presiden Prabowo Subianto menilai besarnya skala wilayah dan jumlah penduduk Indonesia membuat tantangan pembangunan yang dihadapi jauh lebih kompleks dibandingkan negara lain.
Sebagai contoh, dari sisi fasilitas pendidikan, negara tetangga Singapura diperkirakan memiliki sekitar 300 sekolah, sedangkan Indonesia memiliki lebih dari 300.000 sekolah yang tersebar di berbagai wilayah.
“Maaf, saya mau kasih perbandingan. Negara Singapura punya 300 sekolah, SD, SMP, SMA, 300. Indonesia lebih dari 300.000 sekolah,” kata Prabowo saat menghadiri perayaan HUT ke-25 Partai Demokrat sekaligus ulang tahun ke-77 Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Menurut Prabowo, perbedaan skala tersebut menggambarkan besarnya pekerjaan rumah pembangunan di Indonesia. Sekolah-sekolah di Tanah Air tidak hanya berada di kota besar, tetapi juga tersebar hingga wilayah terpencil.
“Ada yang di ujung gunung, di pulau yang jauh," imbuhnya.
Prabowo menilai kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan membuat pemerintah harus menghadapi persoalan pembangunan dengan tingkat kompleksitas yang tinggi.
"Jadi memang masalah kita besar, tantangan kita besar, dan kita berada di alam yang banyak tantangan juga,” ujar dia.
Meski begitu, menurutnya Indonesia memiliki modal yang kuat untuk menghadapi masa depan: kesatuan. Dia menyebut Indonesia tetap kokoh dan bersatu meski memiliki keragaman yang sangat besar.
“Tapi, alhamdulillah, bangsa kita di usia ke-81, kokoh, bersatu. Berbeda, tapi kita kokoh bersatu dan kita semakin kuat menghadapi masa depan,” kata dia.
Di tengah besarnya tantangan tersebut, Prabowo juga menyampaikan optimisme mengenai posisi Indonesia dalam tatanan ekonomi global. Tidak berasal dari klaim sendiri, sejumlah pakar dan institusi dunia memproyeksikan Indonesia akan menjadi negara dengan perekonomian terbesar keempat di dunia pada 2050.
Bahkan, Indonesia diproyeksikan akan menjadi salah satu kekuatan besar dunia alias one of the great powers.
“Intinya, masa depan kita cerah. Semua pakar, semua institusi dunia menyampaikan bahwa Indonesia tahun 2050 akan menjadi negara ke-4,” tutur Prabowo.
Namun, proyeksi tersebut bukan alasan bagi masyarakat Indonesia untuk bersikap sombong. Hanya saja, dia ingin masyarakat dapat menyadari besarnya potensi ekonomi yang dimiliki.
Dia bahkan menilai masih ada masyarakat Indonesia yang belum menyadari seberapa besar potensi yang dimiliki Indonesia.
“Kadang-kadang orang Indonesia ini tidak sadar betapa besar dan betapa potensi kuat kita,” kata Prabowo.
Dia lantas mengingatkan, target menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia bukanlah sesuatu yang terlalu jauh. Sebab, 2050 hanya berjarak 24 tahun dari sekarang.
Karena itu, dia memastikan potensi tersebut benar-benar terwujud. Prabowo dan SBY, kata dia, merupakan generasi yang menjadi bagian dari proses menuju estafet kepemimpinan tersebut.
“Pak SBY dan saya, ya, kita generasi ibarat kami adalah anak tangga yang akan digunakan oleh generasi lebih muda kita untuk naik, untuk mengambil alih tanggung jawab, untuk meneruskan kebangkitan bangsa Indonesia,” tukas Prabowo.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id

































