tirto.id - Presiden Prabowo Subianto menuntut akuntabilitas atas gugurnya prajurit TNI yang bertugas dalam misi perdamaian PBB di Lebanon dan menyerukan ASEAN satu suara dalam menegakkan hukum internasional.
Hal ini disampaikan Presiden Prabowo pada sesi pleno Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN di Mactan Expo, Cebu, Filipina, Jumat (8/5/2026).
"Kita telah kehilangan prajurit Indonesia yang bertugas bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan kita menuntut akuntabilitas bahwa tugas-tugas penjaga perdamaian harus dihormati oleh semua pihak," tegas Prabowo seperti disiarkan secara tertulis oleh Setpres, Jumat (8/5/2026).
Pernyataan itu merujuk pada serangkaian insiden yang menewaskan empat prajurit TNI dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon Selatan pada akhir Maret hingga awal April 2026.
Praka Farizal Rhomadhon gugur pada 29 Maret 2026 akibat ledakan proyektil yang menghantam posisi kontingen Indonesia di dekat Adchit Al Qusayr, Lebanon Selatan.
Sehari kemudian, Kapten Inf. Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ikhwan tewas akibat ledakan di pinggir jalan yang menghancurkan kendaraan konvoi mereka di dekat Bani Hayyan.
Praka Rico Pramudia, yang semula dilaporkan mengalami luka berat dalam insiden 29 Maret, kemudian juga gugur setelah nyawanya tidak terselamatkan.
Dalam forum yang sama, Prabowo menegaskan bahwa perlindungan warga negara yang berada di luar negeri harus menjadi perhatian bersama seluruh negara ASEAN. Hal itu, menurutnya, membutuhkan pendekatan kolektif yang terkoordinasi.
"Saya pikir kita harus memiliki pendekatan ASEAN yang sama. Indonesia bersedia bekerja sama erat dengan rekan-rekan kita dari ASEAN. Perlindungan warga negara kita harus tetap menjadi prioritas utama," tuturnya.
Prabowo menyambut baik solidaritas yang ditunjukkan sesama anggota ASEAN dalam isu evakuasi warga negara.
"Saya menyambut baik contoh Singapura yang menawarkan untuk juga bekerja sama dengan negara-negara lain jika kita harus mengevakuasi warga negara kita," ujarnya.
Dia menegaskan bahwa perlindungan warga sipil dan kepatuhan terhadap hukum internasional harus menjadi posisi kolektif ASEAN yang tegas.
"Dalam melindungi warga sipil kita, ASEAN harus berbicara dengan satu suara. Kita harus menuntut semua pihak untuk menjunjung tinggi hukum internasional dan memajukan akuntabilitas atas pelanggaran. Inilah saatnya bagi ASEAN untuk menunjukkan pengaruhnya. Kita harus memiliki suara politik kolektif yang kuat," tegasnya.
Prabowo juga mendorong ASEAN menjaga jarak dari rivalitas geopolitik yang dapat memecah persatuan kawasan. Dia menekankan bahwa dialog dan kerja sama harus tetap menjadi fondasi utama hubungan antarnegara di Asia Tenggara.
"Kita harus memberi contoh, kita harus benar-benar berkomitmen untuk memiliki ASEAN yang solid dan ASEAN yang menjaga perdamaian, menjaga stabilitas, yang menghargai dialog dan kolaborasi," ucapnya.
Presiden menutup pidatonya dengan pesan tentang keterkaitan antara perdamaian dan kemakmuran kawasan.
"Tidak akan ada kemakmuran tanpa perdamaian. Tidak akan ada perdamaian tanpa dialog dan kerja sama," tutupnya.
Seusai sesi pleno, Prabowo menghadiri sesi retreat KTT ke-48 ASEAN di Shangri-La Mactan, Cebu.
Setibanya di lokasi, Presiden Prabowo disambut Presiden Filipina Ferdinand Romualdez Marcos Jr. selaku tuan rumah, sebelum seluruh pemimpin ASEAN menuju Platform Ocean Pavilion untuk sesi foto bersama. Prabowo tampak berdiri di antara Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah Mu'izzaddin Waddaulah dan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet.
Dalam pidato pembukanya, Marcos Jr. mengingatkan bahwa dinamika global saat ini berdampak langsung pada kawasan ASEAN.
"Kita berkumpul di saat ketidakpastian, saat peristiwa yang terjadi jauh di luar wilayah kita, mengingatkan kita sekali lagi betapa eratnya keterkaitan kita. Baik jarak maupun kemitraan saja tidak dapat mengisolasi suatu negara dari dampak konflik yang terjadi di belahan dunia lain," ujar Marcos Jr.
Marcos Jr. memperkenalkan kerangka LEAD, SAIL, dan RISE sebagai strategi terintegrasi ASEAN untuk memperkuat tiga pilar utama komunitas ASEAN: politik-keamanan, ekonomi, serta sosial-budaya.
"Bersama-sama, kerangka kerja ini menerjemahkan visi jangka panjang ASEAN ke dalam tindakan yang saling memperkuat dalam hal perdamaian, kemakmuran, dan pemberdayaan masyarakat," ucapnya.
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id

































