Menuju konten utama

Pneumonia Jadi Penyakit yang Paling Banyak Diderita Jemaah Haji

PPIH menyebut bahwa kondisi lingkungan dan cuaca ekstrem turut memicu tingginya angka penyakit.

Pneumonia Jadi Penyakit yang Paling Banyak Diderita Jemaah Haji
Petugas memeriksa kesehatan jamaah calon haji kelompok terbang (kloter) pertama embarkasi Palembang setibanya di Asrama Haji Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (2/5/2025). Sebanyak 363 jamaah calon haji asal Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur tiba di Asrama Haji Palembang dan akan diterbangkan ke Tanah Suci pada Sabtu (3/5). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/rwa.

tirto.id - Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengumumkan pneumonia sebagai penyakit yang paling banyak diderita oleh jemaah haji Indonesia selama berada di Tanah Suci.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Kesehatan PPIH Arab Saudi, Mohammad Imran, dalam siaran pers resmi, Senin (19/5/2025).

“Pneumonia ini sendiri saat ini juga merupakan penyakit terbanyak yang menyebabkan jemaah kita harus menjalani perawatan di rumah sakit Arab Saudi,” ujar Imran dalam siaran pers di kanal YouTube Kemenag RI, Senin.

Hingga Minggu (18/5/2025) pukul 16.00 waktu Arab Saudi, kata Mohammad, tercatat 270 jemaah haji Indonesia dirawat di rumah sakit. Dari jumlah tersebut, Imran menyebut sebagian besar mengalami komplikasi akibat infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang berkembang menjadi pneumonia.

“ISPA yang tidak ditangani dengan baik bisa berkembang menjadi radang paru atau pneumonia,” ucap Imran.

Selain pneumonia, Imran menyebut paru kronis dan jantung koroner juga lazim membuat jemaah haji harus menjalani perawatan di rumah sakit.

“Pneumonia, penyakit paru kronis, dan penyakit jantung koroner adalah tiga penyakit terbanyak yang membuat jemaah harus dirawat di rumah sakit Arab Saudi,” kata Imran.

Imran menyebut bahwa kondisi lingkungan dan cuaca ekstrem turut memicu tingginya angka penyakit. Kepadatan jemaah yang semakin meningkat menjelang puncak haji, serta suhu udara yang menyentuh 46 derajat celcius, memperburuk kondisi fisik jemaah, terutama mereka yang memiliki penyakit penyerta.

“Cuaca panas ini akan kemudian juga berdampak langsung kepada kesehatan jemaah haji. Di antaranya adalah kelelahan maupun juga dehidrasi. Dehidrasi dan kelelahan, ini merupakan dua faktor utama yang dapat memicu terjadinya kejadian akut dari penyakit-penyakit kronis,” terangnya.

Selain itu, Imran menyebut jumlah jemaah yang wafat di Tanah Suci telah mencapai 28 orang, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama di tahun lalu. Penyebab utama kematian adalah penyakit jantung dan sepsis, yakni infeksi menyeluruh akibat penurunan daya tahan tubuh.

“Penyebab kematian terbanyak juga masih didominasi oleh penyakit jantung dan sepsis, atau infeksi menyeluruh akibat penurunan daya tahan tubuh dan juga penyakit yang sudah berat,” sebut Imran.

Melihat situasi tersebut, Imran mengimbau jemaah untuk lebih menjaga kesehatannya. Ia menyarankan agar jemaah cukup beristirahat setelah tiba di Mekah dan tidak memaksakan diri langsung menjalani umrah wajib. Jemaah juga diingatkan untuk tidak beraktivitas di luar hotel pada pukul 10 pagi hingga 4 sore, demi menghindari paparan suhu ekstrem.

Imran juga menekankan pentingnya bagi para jemaah menjaga asupan cairan. Dia juga mengimbau jemaah harus minum air putih minimal 1 gelas setiap jam saat beraktivitas di luar ruangan.

“Minum air putih atau zamzam yang cukup dan jangan menunggu haus. Upayakan 1 gelas atau 200 cc air setiap jam pada saat jemaah haji melakukan aktivitas di luar,” jelasnya.

Selain itu, Imran menganjurkan penggunaan masker, terutama bagi jemaah yang sedang batuk atau pilek, guna menghindari penularan penyakit pernapasan.

Bagi jemaah lanjut usia dan penderita penyakit kronis, Imran menyarankan untuk memanfaatkan fasilitas keringanan dalam beribadah seperti menggunakan kursi roda saat tawaf atau sai, serta tidak bepergian sendiri.

“Bagi jemaah lansia dan komorbid, ketika harus menjalani rukun dan wajib haji, ini kami juga ingatkan untuk menggunakan fasilitas keringanan, mengambil rukhsah dalam pelaksanaan ibadah. Misalnya, menggunakan kursi roda pada saat tawaf maupun pada saat sai,” tuturnya.

Dia mengingatkan agar petugas dan jemaah secara mandiri menjaga kesehatannya masing-masing, demi kelancaran pelaksanaan ibadah haji 2025.

“Ini agar supaya kita bersama-sama, baik petugas maupun jemaah haji secara mandiri, agar menjaga kesehatannya demi kelancaran ibadah selama berada di tanah suci,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait HAJI 2025 atau tulisan lainnya dari Naufal Majid

tirto.id - Flash News
Reporter: Naufal Majid
Penulis: Naufal Majid
Editor: Fadrik Aziz Firdausi