tirto.id - Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Al Muzzammil Yusuf, memastikan partainya belum memutuskan menjadi bagian dari koalisi permanen yang bervisi mengusung kembali Presiden Prabowo Subianto di Pilpres 2029.
PKS tak ingin gegabah dalam menetapkan dukungan karena menurut Muzammil, partainya terikat aturan dalam pencalonan presiden harus dibahas dalam forum internal Majelis Syuro PKS.
"Ya kami terikat oleh Majelis Syuro, sehingga tidak bisa siapapun pimpinan PKS untuk bicara kalau tidak atas nama keputusan Majelis Syuro," kata Muzammil di sela agenda buka bersama di Kantor DPP Partai Nasdem, Jakarta Pusat, Kamis (19/2/2026).
Meski demikian, Muzammil menyampaikan partainya terus berkomitmen mendukung dan mensukseskan kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto hingga 2029.
Dia menegaskan bahwa dukungan kepada Prabowo diberikan demi kemaslahatan masyarakat walaupun partainya di Pilpres 2024 memilih Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar.
"Saat ini, kami fokus di koalisi, berjuang, mudah-mudahan Pak Prabowo sukses. Kesuksesan beliau adalah keberuntungan seluruh anak bangsa, kami fokus di situ," ungkapnya.
Dirinya juga mengingatkan kepada sejumlah pihak yang menghendaki terbentuknya koalisi permanen bahwasanya faksi politik tersebut harus berlandaskan pada kepentingan rakyat, bukan sekadar kepentingan elite semata.
Dia menjelaskan bahwa faksi politik yang hanya berfokus pada kepentingan elite akan menimbulkan kekecewaan masyarakat dan dikhawatirkan peristiwa demo Agustus 2025 lalu kembali terulang.
"Saya kira apa yang terjadi di Nepal itu seperti itu. Sekarang rakyat sudah sangat pandai, sangat kritis. Nepal bisa seperti itu, Bulgaria bisa seperti itu ya, kita juga mengalami di Agustus kemarin," tegasnya.
Dirinya juga menyampaikan bahwa hingga saat ini seluruh partai politik yang berada di Kabinet Merah Putih masih solid dan bekerjasama dengan azas gotong royong. Walaupun demikian, Muzammil tak menampik bila terdapat aksi saling koreksi maupun kritik di internal koalisi maupun kabinet.
"Tapi kalau semangat kita kan semangat gotong royong ya. Jadi memang landasan budaya kita punya, kita semangat gotong royong. Tapi dalam gotong royong itu kan ada koreksi, ada kritik saran, saya kira itu juga sejalan dengan politik kita," terangnya.
Penulis: Irfan Amin
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id





























