tirto.id - Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) mendesak penghentian segera eskalasi kekerasan dan konflik bersenjata di Kabupaten Intan Jaya dan Kabupaten Yahukimo, Papua, yang kembali menelan korban jiwa serta memaksa ribuan warga sipil mengungsi.
Desakan ini disampaikan karena pendekatan militeristik yang diterapkan pemerintah selama ini dinilai gagal menghadirkan solusi damai dan justru melahirkan penderitaan panjang berulang bagi warga sipil di Papua.
“Bagi PGI, setiap nyawa yang hilang adalah tragedi kemanusiaan. Ketika kehidupan manusia direnggut, yang terluka bukan hanya keluarga korban, tetapi juga martabat kemanusiaan kita bersama. Tidak ada kepentingan apa pun yang dapat membenarkan hilangnya nyawa orang-orang yang tidak bersalah,” tulis PGI dalam unggahan di akun Instagram resminya @pgiofficial.or.id, Minggu (5/7/2026).
Eskalasi konflik bersenjata dalam beberapa hari terakhir tercatat telah merenggut nyawa berbagai pihak yang tidak bersalah. Para korban tewas tersebut mencakup pelayan Tuhan sekaligus gembala jemaat GKII Pendeta Elianus Agimbau, serta seorang ibu bernama Melkiana Duwitau yang tengah mengandung delapan bulan beserta bayi di dalam kandungannya.
Selain itu, terbaru konflik di Papua juga menewaskan seorang warga sipil bernama Okto Tigau, pilot pesawat sipil AMA PK-RCY Captain Nicholas F. Goselin, dan anggota TNI Praka Bayu Oktara.
Menanggapi rentetan peristiwa berdarah tersebut, PGI mengecam keras segala bentuk pembunuhan, penyiksaan, mutilasi, dan serangan bersenjata yang menimbulkan korban jiwa, termasuk penyerangan terhadap pesawat sipil dan warga tak bersenjata.
PGI menyatakan keprihatinan mendalam atas semakin pudarnya penghormatan terhadap martabat manusia yang diciptakan menurut gambar Allah dan memiliki nilai tak tergantikan.
Oleh sebab itu, PGI mendesak semua pihak yang bertikai untuk menahan diri dan menghentikan semua bentuk kekerasan dengan menjadikan keselamatan serta perlindungan warga sipil sebagai prioritas utama.
Lebih lanjut, PGI menilai pendekatan militeristik yang diterapkan selama ini terbukti tidak mampu menghadirkan solusi damai dan adil, melainkan justru melahirkan penderitaan panjang yang berulang bagi warga sipil di daerah konflik.
PGI mendesak agar seruan dialog damai yang telah disampaikan oleh gereja, tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat sipil selama ini dapat segera diwujudkan secara nyata dan bermartabat.
Terkait penegakan hukum dan akuntabilitas, PGI mendesak pemerintah untuk mengusut tuntas seluruh peristiwa ini melalui penyelidikan yang independen dan tidak memihak, serta menjatuhkan sanksi hukuman berat bagi para pelaku yang terbukti bersalah.
PGI juga meminta Panglima TNI dan Kapolri untuk segera menegakkan hukum dan memproses aparat TNI atau Polri yang patut diduga melanggar hukum atau hak asasi manusia secara profesional, transparan, dan akuntabel.
Sebagai penutup, PGI menyampaikan belasungkawa mendalam kepada seluruh keluarga korban dan mendoakan agar Tuhan Yesus Kristus, Sang Raja Damai, memberikan penghiburan serta menghadirkan damai sejahtera bagi Tanah Papua.
Mengutip ayat Alkitab dari Matius 5:9, "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."
PGI mengingatkan kembali bahwa damai untuk Papua bukan sekadar harapan, melainkan panggilan bersama demi mengakhiri lingkaran kekerasan.
Penulis: Hanang Septioyudho
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id





























