Menuju konten utama

Pesan Mensos di Dialog dengan Ortu dan Calon Siswa SR Indramayu

Sekolah Rakyat Terintergrasi 40 Indramayu dibuka mulai tahun ini dengan total 100 siswa di jenjang SD dan SMP. Tahun depan, sekolah ini membuka SMA.

Pesan Mensos di Dialog dengan Ortu dan Calon Siswa SR Indramayu
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono berdialog dengan para calon siswa dan orang tua siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 40 Indramayu di Indramayu, Jawa Barat, Senin (29/9/2025). (FOTO/dok.Kemensos)

tirto.id - Menteri Sosial, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), bertemu dengan para orang tua dan calon siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 40 Indramayu di Balai Latihan Kerja (BLK) Indramayu, Jawa Barat, Senin (28/9/2025). Pertemuan ini berlangsung menjelang Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di sekolah tersebut.

Saat berdialog dengan mereka, Gus Ipul menyampaikan sejumlah pesan guna memotivasi calon siswa dan orang tua. Gus Ipul juga menerangkan rencana pengembangan SRT 40 Indramayu ke depan.

"Alhamdulillah Indramayu sudah mulai Sekolah Rakyat Terintegrasi. Tahun ini SD dan SMP, mudah-mudahan tahun depan ada SMA," ujar Gus Ipul.

Menurut Mensos, setiap jenjang pendidikan di SRT 40 Indramayu ditargetkan masing-masing menampung lebih dari 300 murid. Dengan begitu, sekolah ini ke depan dapat menampung hampir 1000 peserta didik untuk jenjang SD, SMP, dan SMA.

Dia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Indramayu telah menyiapkan lahan seluas 10 hektare untuk lokasi pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat. Gedung itu akan dibangun mulai tahun ini dan diharapkan dapat dipakai mulai 2026 dengan daya tampung 100 siswa per angkatan di setiap jenjang. "100 SD, 100 SMP, dan 100 SMA," kata dia.

Tahun ini, SRT 40 Indramayu akan menampung empat rombongan belajar dengan jumlah siswa sebanyak 100 orang. Sebanyak 50 siswa akan belajar di jenjang SD dan 50 lainnya di SMP.

Lebih lanjut, Gus Ipul menekankan bahwa Sekolah Rakyat dibuka khusus bagi anak-anak dari keluarga miskin yang belum bersekolah, tidak bersekolah, dan putus sekolah. "Sekolah Rakyat bisa beroperasi di tengah semester. Karena sedang disisir siapa anak yang tidak sekolah karena kekurangan biaya dan sebab lainnya," tambah dia.

Dia pun menegaskan tidak ada tes akademik untuk masuk Sekolah Rakyat, hanya ada seleksi administrasi untuk memastikan calon siswa berasal dari keluarga tak mampu. Selain itu, orang tua siswa Sekolah Rakyat juga bisa mengakses program pemberdayaan warga miskin.

"Orang tua siap-siap. Jangan cuma sekolahkan anak. Orang tua harus mau berubah, akan dilatih pendamping, punya usaha atau keterampilan agar usahanya meningkat," jelas Gus Ipul.

Dia berharap para orang tua siswa Sekolah Rakyat bisa mandiri setelah mendapatkan pemberdayaan paling lama 5 tahun. Setelah mandiri, mereka bisa terlepas dari ketergantungan pada bantuan sosial.

"Ini usaha presiden untuk mengentaskan kemiskinan secara terpadu. Tidak cukup anak sekolah tapi keluarga juga mandiri," lanjut Gus Ipul.

Untuk saat ini, lanjut dia, siswa yang akan masuk Sekolah Rakyat akan difasilitasi cek kesehatan gratis hingga talent mapping. "Anak-anak nanti dapat makan 3 kali sehari, snack 2 kali sehari. Enggak perlu jajan lagi. Sudah disiapkan semua di Sekolah Rakyat. Anak-anak dapat perlengkapan sekolah, seragam 8 set," ujar Gus Ipul.

Di pertemuan itu, Gus Ipul sempat mendengarkan cerita dari sejumlah calon murid Sekolah Rakyat dan orang tuanya. Salah satunya Narsila Anandia, calon siswi yang putus sekolah usai lulus SD. Narsila tak melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP karena terkendala biaya.

"[Setelah putus sekolah] Di rumah bantu mama dan antar adik sekolah. Cita-cita ingin jadi dokter," kata Narsila sembari mengusap air mata.

Ayah Narsila, Nurbuat, mengharapkan anaknya dapat memiliki masa depan yang lebih baik setelah masuk Sekolah Rakyat. "Harapan saya jadi anak solehah dan masa depan yang jelas," kata dia.

Calon siswa lainnya, Kurniawati mengaku sudah sebulan putus sekolah. Ayahnya, Dodo, hanya bekerja serabutan sebagai buruh lepas.

"Anaknya boleh sekolah di Sekolah Rakyat?" kata Gus Ipul bertanya kepada orang tua Kurniawati.

Dodo pun memperbolehkan anaknya masuk Sekolah Rakyat. Saat ditanya alasannya, ia mengatakan anaknya ingin melanjutkan sekolah. "Gimana lagi, maunya sekolah anaknya," ujar dia.

Selepas berdialog, Gus Ipul mengajak semua pihak untuk mewujudkan cita-cita para siswa melalui Sekolah Rakyat. Mensos berharap para siswa SR dapat melanjutkan pendidikannya hingga jenjang perguruan tinggi dan memperoleh pekerjaan yang layak.

"Raih cita-citanya, belajar sungguh-sungguh. Ini kesempatan yang diberikan pak presiden bekerja sama dengan Kemensos dan bupati Indramayu," ujar Gus Ipul.

Sementara itu, Bupati Indramayu, Lucky Hakim, menceritakan kisahnya yang juga lahir dari kalangan wong cilik. Saat masih kecil, ia diadopsi dan dibuatkan akta kelahiran baru. Lucky bahkan sempat tak tahu orang tua kandungnya.

"Sebelum orang tua angkat saya meninggal, dikasih tahu kalau bukan anak kandung. Saya baru tahu saya bukan anaknya," kata Lucky.

Setelah mencari orang tua kandungnya, ia bertemu dengan kakak dan adiknya. Menurut dia, ada perbedaan dirinya dengan saudaranya. "Bedanya badan mereka lebih pendek, mereka rada ganteng. Tapi saya paling ganteng, saya lebih tinggi, cara ngomong saya lebih percaya diri. Apa yang membedakan saya dan adik kandung saya? Asupan gizi dan pendidikan," ujar Lucky.

Menurut Lucky, sosoknya yang kini telah berpendidikan dan mapan merupakan buah dari pengorbanan orang tuanya. Dia pun berharap para siswa di Sekolah Rakyat dapat menjadi "Lucky Hakim" yang lebih baik lagi.

"Doakan anak-anaknya jadi orang sukses. Di Sekolah Rakyat dibina dan dibiayai. Insya Allah semua lebih baik, Indonesia makin maju, cerdas bareng- bareng, tumbuh setara," lanjut Lucky.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis