Menuju konten utama

Perbatasan Gaza-Mesir Dibuka, Warga Palestina Bisa Menyeberang

Perbatasan Gaza-Mesir dibuka kembali kembali yang memungkinkan warga Palestina menyeberang. Namun, perbatasan ini masih dilarang untuk pengiriman bantuan.

Perbatasan Gaza-Mesir Dibuka, Warga Palestina Bisa Menyeberang
Warga Palestina berjalan menjauh dari kibbutz Kfar Azza, Israel, di dekat pagar Jalur Gaza pada Sabtu, 7 Oktober 2023. (Foto AP)

tirto.id - Setelah dua tahun ditutup Israel, perbatasan Gaza-Mesir kembali dibuka pada Senin (2/2/2026) pagi. Meskipun dibuka, namun hanya sejumlah kecil rakyat Palestina yang dimungkinkan keluar masuk melalui perbatasan tersebut.

Melansir CNN, pembukaan perbatasan ini merupakan bagian dari kesepakatan perdamaian Israel-Hamas yang dimediasi AS pada Oktober 2025 lalu. Kini, penyeberangan Rafah dioperasikan oleh Uni Eropa, Mesir, dan sejumlah pihak lain.

Pada hari pertama pembukaan, dilaporkan hanya 50 orang per hari yang diizinkan untuk menyeberangi kawasan perbatasan ini, seturut media afiliasi pemerintah Mesir Al Qahera News.

Semula, pembukaan akses perbatasan ini akan mengizinkan sebanyak 150 rakyat Palestina meninggalkan Gaza setiap harinya. Namun, hanya 50 orang yang diperkenankan masuk ke Gaza.

Penutupan kawasan perbatasan Gaza-Mesir sebelumnya menjadi kekhawatiran dunia di tengah banyaknya pasien dari berbagai rumah sakit Palestina yang memerlukan pengobatan intensif. Di tengah operasi genosida Israel di Gaza, para pasien tak memiliki akses ke perawatan yang dibutuhkan.

Salah satu pasien Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Gaza, Ibrahim Al-Batran, menjadi warga yang menunggu pembukaan kawasan perbatasan. Ia pasien penyakit ginjal dan hanya mendapatkan perawatan minimal selama Gaza diblokade Israel.

"Banyak orang telah meninggal saat menunggu perawatan, dan saya mungkin meninggal hari ini, besok, atau lusa selagi menunggu perawatan. Sampai sekarang, belum ada satu pun pasien yang diizinkan pergi," Turut Al-Batran, dikutip dari CNN.

Kementerian Kesehatan Palestina menyebut ada lebih dari 20.000 pasien di Gaza yang tengah menunggu izin mengakses perawatan di luar negeri. Sebanyak 440 kasus di antaranya dilaporkan merupakan pasien dengan penyakit yang mengancam jiwa.

Akibat pembatasan itu pula, hampir 1.300 pasien telah meninggal karena tak bisa mengakses perawatan yang dibutuhkan.

Bahkan sebelum diblokade Israel, kawasan perbatasan dilaporkan menjadi sarang pungli. Rakyat Palestina perlu merogoh biaya yang mahal untuk melewati perbatasan dan melalui proses birokrasi yang teramat panjang. Inilah yang membuat warga Palestina makin kesulitan di kawasan perang.

Ketika masih dibuka, rakyat Palestina melaporkan bahwa biaya untuk melewati perbatasan Gaza-Mesir dapat mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah setiap orang. Di tengah genosida yang melenyapkan mata pencaharian banyak warga sipil, biaya tersebut jadi makin tak terjangkau.

Perbatasan Gaza-Mesir sebelumnya diblokade Israel sejak Mei 2024 lalu. Israel terus memblokade kawasan itu meskipun eskalasi perang telah menurun sejak serangan Hamas pada Oktober 2023 lalu.

Israel terus menolak untuk membuka kawasan perbatasan sampai semua sandera yang masih hidup dan yang telah meninggal dikembalikan. Pekan lalu, sandera terakhir yang telah meninggal, Ran Gvili, telah dikembalikan ke Israel.

Ketua pemerintahan teknokrasi Gaza, Ali Shaath, menyebut bahwa pembukaan kembali kawasan perbatasan ini sebagai "jalur kehidupan dan harapan".

Akan tetapi, meskipun kawasan perbatasan dibuka untuk sebagian kecil rakyat Palestina, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tetap bersikeras melarang wilayah itu sebagai jalur pengiriman bantuan kemanusiaan atau barang komersial ke Gaza.

Baca juga artikel terkait INTERNASIONAL atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar