STOP PRESS! Indonesia Berniat Beli Pesawat Amfibi dan Helikopter Rusia

Perang Tarif Uber Versus Grab di ASEAN, Siapa Juara?

Reporter: Wan Ulfa Nur Zuhra
01 Desember, 2016 dibaca normal 2 menit
Perang Tarif Uber Versus Grab di ASEAN, Siapa Juara?
Seorang warga mencari transportasi dengan aplikasi online di Jakarta, Kamis (17/3). Kementerian Komunikasi dan Informatika akan mendorong pemilik kendaraan dari aplikasi transportasi online agar bisa memenuhi perizinan sesuai dengan perundang-undangan. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa.
Uber dan Grab, penguasa pangsa pasar taksi online di Asia Tenggara atau ASEAN terus bersaing secara harga. Siapa yang paling murah dan paling kuat modalnya?
tirto.id - Azmil, pemuda berusia 26 tahun di Malaysia, memilih bergabung menjadi sopir Grab dibandingkan Uber. Alasan harga menjadi pertimbangannya.

“Uber, dia punya tarif murah sangat, Grab agak bagus sedikit,” katanya September lalu.

Apa yang disampaikan Azmil bukan karangan, faktanya pada September lalu, untuk jarak yang tak berbeda di Malaysia, dan pada waktu yang sama pada jam sibuk, ada selisih sekitar 30 ringgit. Uber lebih murah daripada Grab.

Di Indonesia, tarif dasar Uber juga lebih murah dari Grab. Para sopir dan pemilik rental menyadari itu, termasuk mereka yang memutuskan bergabung dengan Uber. Tetapi ternyata ada sopir yang punya pertimbangan lain. “Memang lebih murah Uber, tetapi orderan lebih sering,” ujar seorang sopir Uber.

Bagi para sopir yang menjadi mitra Uber atau Grab, tarif dasar murah tentu masalah, tetapi bagi para pengguna jasa, justru menjadi berkah. Tarif murah ini juga menjadi salah satu instrumen yang menjadi pertimbangan konsumen menggunakan jasa taksi online.

Di Asia Tenggara, Uber dan Grab beroperasi di Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Vietnam, dan Thailand. Tarif harga terendah di tiap negara ini berbeda-beda. Di beberapa negara, tarif Uber lebih murah dari Grab untuk jarak tertentu. Di negara lain, malah berlaku sebaliknya.

November lalu, Studi iPrice menggelar riset tentang tarif terendah Uber, Grab, dan taksi konvensional di enam negara tadi. Dibandingkan dua operator taksi online itu, tarif taksi konvensional memang jauh lebih mahal, terutama untuk jarak pendek sejauh 5 km.

Untuk jarak lebih panjang, yaitu 20 km, Grab masih lebih mahal dibandingkan dengan taksi konvensional di Malaysia dan Thailand. Selisihnya tak jauh, Di Malaysia Rp5 ribu, dan di Thailand Rp3 ribu.

Dari riset itu, Uber tampak lebih murah di sejumlah negara, apalagi dalam jarak yang lebih jauh. Pada jarak 5 km, Uber lebih murah dari Grab di tiga negara, Indonesia, Thailand, dan Vietnam. Grab juga lebih murah dari Uber di tiga negara, Malaysia, Singapura, dan Filipina.

Akan tetapi, ketika jarak tempuh lebih jauh, yakni 20 km, Uber lebih murah di empat negara, Indonesia, Malaysia, Thailand Vietnam. Sementara di Singapura dan Filipina, Grab tetap lebih murah.

Selisih harga antara Uber dan Grab bisa mencapai Rp25 ribu. Di Vietnam, menempuh jarak 20 km dengan Uber, tarifnya Rp103 ribu. Jika menggunakan Grab, tarifnya bisa mencapai Rp129 ribu.

Perang Tarif Uber Versus Grab di ASEAN, Siapa Juara?

Dari enam negara itu, Singapura menjadi negara dengan tarif termahal untuk Uber dan Grab. Untuk menempuh jarah 20 km di Indonesia, Uber hanya mengenakan tarif Rp62.500. Sementara di Singapura, tari dengan jarak yang sama mencapai Rp173 ribu.

Riset yang dilakukan tim Studi iPrice ini tidak memasukkan promo potongan harga alias diskon ataupun kenaikan harga di jam-jam tertentu. Ia hanya menghitung tarif dasar saja.

Di Jakarta, Indonesia, tarif dasar itu seringkali ditambah dengan berbagai promo. Saat ini, Uber sering memberi promo potongan 50 persen dengan maksimal potongan Rp25 ribu selama lima kali perjalanan. Grab juga memberi potongan Rp10 ribu tiap akhir pekan dan berbagai promo bagi pengguna pertama.

Tak cuma bersaing lewat harga, keduanya juga bersaing lewat layanan. Uber yang pada mulanya hanya menerima pembayaran lewat kartu kredit, kini menerima pembayaran tunai. Grab yang awalnya hanya menerima pembayaran tunai, kini bisa dibayar dengan kartu kredit atau GrabPay.

Grab, dengan pengalaman sekitar empat tahun di pasar Asia Tenggara telah disokong dana sebesar $750 juta dari Softbank, pada September 2016. Uber juga telah meninggalkan Cina dan dijual ke Didi pada Agustus 2016. Saat ini, ia fokus pada pasar Asia Tenggara dengan cara menambah sumber daya sebanyak dua kali lipat.

Menurut Andrew Prasatya, Content Marketing Executive iPrice, dana Uber memiliki dana lebih besar dibandingkan Grab. “Tahun 2016 ini, Uber mendapatkan dana sebesar $3,5 miliar, sedangkan Grab mendapatkan suntikan dana senilai $750 juta,” katanya kepada Tirto.id, Rabu (29/11).

Untuk memenangkan pertarungan menguasai pangsa pasar, keduanya tentu akan terus “membakar uang” lewat berbagai promosi dan diskon. “Uber dan Grab akan terus berkompetisi mati-matian untuk menguasai pangsa pasar sebesar-besarnya di Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam dan juga Filipina,” ujar Andrew.

Untuk saat ini, Uber bisa dikatakan unggul, dari sisi modal dan harga. Tetapi persaingan merebut pangsa pasar sebesar-besarnya masih menempuh jalan panjang. Persaingan tarif dan menarik modal belum berakhir.

(tirto.id : wan/msh)

Keyword