tirto.id - Netizen di media sosial (medsos) ramai mengabarkan jika suhu di Bandung, Jogja, dan Semarang hari ini terasa dingin daripada biasanya. Tentu saja ini menjadikan warganet bertanya-tanya tentang penyebab suhu dingin tersebut mengingat saat ini sedang musim kemarau yang harusnya panas.
Dari pantauan di laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), perkiraan suhu di beberapa tempat di Kota Bandung hari ini berkisar antara 21 hingga 29 derajat celcius.
Selain suhu yang terbilang dingin, BMKG juga memperkirakan hujan ringan akan terjadi di beberapa tempat seperti di Coblong, Cibeunying Kidul, Arcamanik, dan lainnya. Selain hujan ringan, beberapa kecamatan di Kota Bandung juga diperkirakan akan berawan hari ini.
Suhu di Jogja hari ini juga diperkirakan akan sejuk dan dingin dengan kisaran suhu antara 23 hingga 30 derajat celcius. Namun, BMKG memperkirakan di Jogja hanya akan berawan saja, tidak sampai terjadi hujan hari ini.
Kota Semarang juga diprediksi hanya akan berawan hari ini. Suhu di Kota Semarang berkisar antara 23 hingga 33 derajat celcius. Daerah yang diprediksi akan mengalami suhu lebih dingin hari ini adalah Mijen, Gunungpati, dan Banyumanik dengan prediksi suhu hari ini adalah 22 hingga 31 derajat celcius.
Penyebab Suhu Dingin di Bandung, Jogja dan Semarang
Penyebab suhu dingin yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia, seperti di Bandung, Jogja, dan Semarang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti Madden-Julian Oscillation (MJO). MJO adalah pergerakan sistem cuaca besar dari barat ke timur yang mengelilingi dunia tropis.
Saat MJO aktif di sekitar Indonesia, maka udara lembap akan lebih mudah naik dan membentuk awan hujan dalam jumlah besar.
Selain MJO, suhu dingin yang terjadi di beberapa tempat di Indonesia juga dipengaruhi oleh gelombang tropis seperti Gelombang Kelvin, Mixed Rossby-Gravity (gelombang campuran Rossby dan gravitasi), dan Low-Frequency (gelombang frekuensi rendah).
Gelombang-gelombang ini membantu membawa uap air dan mendukung pembentukan awan hujan.
Sirkulasi siklonik juga disebut berpengaruh terhadap suhu dingin ini. Pusaran angin besar di atmosfer yang kemungkinan terjadi di Indonesia, bisa memperkuat proses konveksi, yaitu proses naiknya udara hangat dan lembap ke atmosfer, yang akhirnya membentuk awan-awan hujan besar.
Mengantisipasi cuaca ekstrem, BMKG mengingatkan masyarakat untuk:
- Tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang bisa terjadi secara tiba-tiba, termasuk hujan deras yang disertai angin kencang dan sambaran petir.
- Hindari berada di area terbuka saat hujan disertai petir, serta jauhi pohon, bangunan tua, atau segala hal yang berisiko roboh saat angin kencang.
- Pada musim kemarau, cuaca panas terik masih mungkin terjadi. Oleh karena itu, disarankan untuk memakai tabir surya dan memastikan tubuh tetap terhidrasi.
- Perhatikan risiko kebakaran hutan dan lahan yang bisa berdampak pada kesehatan. Gunakan masker bila diperlukan dan sebisa mungkin hindari daerah yang dekat dengan sumber api.
- Bersiaplah menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, dan longsor, yang bisa muncul sewaktu-waktu.
- Pastikan selalu mendapatkan informasi cuaca terbaru melalui saluran resmi BMKG seperti situs web www.bmkg.go.id, media sosial @infobmkg, atau aplikasi infoBMKG.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































