Penelitian: Fantasi Seksual Tingkatkan Kualitas Hubungan Pasangan

Oleh: Febriansyah - 26 Desember 2018
Dibaca Normal 2 menit
Tiga kategori fantasi seksual: seks berkelompok, BDSM (sadomasokisme) dan tipe petualang
tirto.id - Fantasi seksual adalah bagian dari kehidupan seksualitas seseoran. Tidak hanya laki-laki, perempuan juga mempunyai jenis fantasi seksualnya sendiri. Bahkan, setiap orang memiliki perbedaan dalam berfantasi.

Perbedaan jenis dan bentuk fantasi itu diakibatkan oleh kepribadian kita. Justin Lehmiller, Psikolog asal Kinsey Institite dalam bukunya Tell Me What You Want: The Science of Sexual Desire and How It Can Help You Improve Your Sex Life menjelaskan bahwa fantasi seksual dapat menjelaskan beberapa hal pribadi dari kita termasuk jenis kepribadian.

Ia meneliti lebih dari 4.000 orang Amerika yang berusia 18 hingga 87 tahun yang mencakup berbagai kategori seperti pekerjaan, identitas seksual dan gender, dan afiliasi politik dan agama.

Lehmiller menemukan ada berbagai macam bentuk fantasi, yang kemudian ia bagi dalam tiga kategori, yaitu seks berkelompok, BDSM (perbudakan, dominasi/penyerahan diri, sadomasokisme) dan tipe kebaruan atau petualangan.

Dalam tiga klasifikasi itu tipe perbudakan/sadomasokisme dan tipe petualangan seks di lokasi baru adalah fantasi yang paling populer.

Berdasarkan penelitian tersebut, terdapat perbedaan fantasi pria dan wanita. Perempuan lebih cenderung berfantasi tentang pengalaman sesama jenis dan BDSM, dibandingkan laki-laki.

Sementara laki-laki lebih cenderung memiliki fantasi yang lebih erotis seperti crossdressing atau menjurus pada fantasi dengan banyak pemikiran tabu.

“Demikian juga, wanita lebih menekankan pada di mana mereka berhubungan seks, sementara pria lebih fokus pada dengan siapa mereka berhubungan seks,” jelas Lehmiller

Mengapa kita sering memfantasikan kekasih kita sendiri?

"Hasil penelitian saya menunjukkan bahwa satu-satunya orang yang paling mungkin muncul dalam fantasi seksual Anda adalah - percaya atau tidak - kekasih Anda saat ini," kata Lehmiller.

Sebenarnya orang yang lebih sering difantasikan adalah kekasih kita saat ini. Hal ini, lanjut Lehmiller, dikarenakan fantasi seringkali dirancang untuk memenuhi kebutuhan emosional kita, seperti merasa dicintai, diinginkan, dan kompeten secara seksual.

Oleh karena itu berfantasi tentang pasangan lebih mampu memberi kita apa yang kita butuhkan pada saat itu.

Kepribadian Anda dapat menentukan fantasi Anda

"Secara keseluruhan, fantasi kita tampaknya mencerminkan siapa kita dan tampaknya dirancang untuk memenuhi kebutuhan psikologis kita yang unik," jelas Lehmiller dikutip CNN.

Dia menemukan, orang-orang berkepribadian ekstrovert lebih suka berfantasi tentang seks kelompok dan non-monogami. Ini masuk akal karena mereka suka bertemu orang baru.

"Orang introvert mungkin lebih terbuka dalam fantasi mereka, sementara orang yang gelisah mungkin lebih santai dan percaya diri," tambahnya

Orang yang kerap mengasihani dan mementingkan kesejahteraan orang lain cenderung kurang berfantasi tentang BDSM, perselingkuhan, dan seks tanpa emosi. Pola ini masuk akal karena mereka tidak ingin menyakiti siapa pun.

Mereka yang pada kehidupan sehari-hari lebih detail,saat berfantasi mereka akan lebih memperhatikan hal-hal seperti di mana fantasi terjadi. Fantasi yang melibatkan konten seks yang emosional dan mencoba hal-hal baru akan terjadi pada mereka yang pada kesehariannya belum mampu mengatasi stress.

Lehmiller juga mengatakan bahwa berfantasi memberi kita kesempatan untuk mengubah hal-hal yang mungkin tidak kita sukai tentang diri kita.

“Saat kita berfantasi kita seolah-olah menyeleksinya. Orang-orang sering mengubah usia, tubuh, penampilan genital, kepribadian, atau kombinasi keduanya," katanya.

Haruskah fantasi Anda diceritakan ke Pasangan Anda?

Dilansir CNN, penelitian menunjukkan Fantasizing dapat memacu hasrat dan gairah seksual dan berbagi fantasi dengan pasangan berarti kita merasa percaya diri dalam hubungan kita.

Tetapi harus dimulai dengan hati-hati dan pelan-pelan. Lehmiller mengatakan bahwa pertimbangkan apakah fantasi Anda sebenarnya adalah sesuatu yang ingin Anda alami.

"Saya menemukan bahwa kebanyakan orang yang bertindak berdasarkan fantasi mereka melaporkan bahwa pengalaman itu setidaknya sama baiknya dengan yang mereka harapkan dan mengatakan bahwa itu meningkatkan hubungan mereka. Itu bukan sesuatu yang remeh," katanya.

Ada beberapa hal yang bisa berdampak buruk saat kita ingin merealisasikan fantasi yang kita khayalkan. Jadi, kata Lehmiller, pastikan untuk mempertimbangkan berbagai dampak dan risiko sebelum mengambil langkah itu.


Baca juga artikel terkait SEKSUALITAS atau tulisan menarik lainnya Febriansyah
(tirto.id - Gaya Hidup)


Penulis: Febriansyah
Editor: Yulaika Ramadhani