Menuju konten utama

Peneliti BRIN Dimas Fajar Prasetyo Bantah Terlibat Riset Palsu

Peneliti BRIN Dimas Fajar bantah keterlibatannya dalam sejumlah publikasi ilmiah yang mencantumkan nama dan afiliasi yang menyerupai identitas dirinya.

Peneliti BRIN Dimas Fajar Prasetyo Bantah Terlibat Riset Palsu
Kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional. Doc: brin.go.id
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dimas Fajar Prasetyo, membantah keterlibatannya dalam sejumlah publikasi ilmiah yang belakangan mencantumkan nama dan afiliasi yang disebut menyerupai identitas dirinya.

Hal ini menyusul kasus dugaan pemalsuan riset yang dipresentasikan di konferensi internasional tentang pneumonia atau International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark, pada 17-21 Mei 2026.

“Dengan ini saya mengklarifikasi dan menegaskan bahwa itu bukan saya dan tidak berkaitan dengan diri saya dalam bentuk apa pun,” ujar Dimas dalam keterangan tertulis, dikutip Minggu (31/5/2026).

Dalam pernyataannya, Dimas menegaskan bahwa dirinya tidak pernah membuat, terlibat, mengikuti kegiatan, maupun bekerja sama dengan penulis dalam penelitian yang menjadi sorotan tersebut.

Dia menjelaskan, bidang kepakaran yang selama ini ditekuni di BRIN adalah Offshore and Marine Systems Engineering. Menurut Dimas, rekam jejak akademik dan penelitian yang selama ini dijalankan berfokus pada bidang tersebut.

“Hal tersebut juga tercermin dari rekam jejak akademik, bidang studi, serta jalur riset yang saya tempuh hingga saat ini,” katanya.

Oleh karena itu, Dimas menilai pencantuman namanya dalam sejumlah penelitian yang berada di luar bidang keahliannya tidak sejalan dengan aktivitas akademik maupun profesional yang selama ini dijalani.

Dia menduga telah terjadi penggunaan nama dan afiliasi tanpa persetujuannya apabila benar identitas yang menyerupai dirinya dicantumkan dalam publikasi yang tidak pernah diketahuinya. Pencantuman itu disebutnya tindakan yang dapat dikategorikan sebagai indikasi pemalsuan identitas dalam karya ilmiah.

Terlebih, tindakan tersebut berpotensi merugikan nama baik dirinya maupun institusi tempatnya bekerja.

“Terkait dengan beberapa media sosial yang saat ini saya nonaktifkan, hal itu saya lakukan untuk meminimalisir kemungkinan penyalahgunaan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” katanya.

Dimas berharap tidak terjadi kesalahpahaman di tengah masyarakat. Dia juga mengingatkan pentingnya menjunjung sikap bijak dan tanggung jawab dalam kegiatan akademik maupun publikasi ilmiah.

Baca juga artikel terkait BRIN atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - Flash News
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Hendra Friana