Menuju konten utama

Pemkot Yogya Gelar Vaksinasi Japanese Encephalitis September Ini

Vaksinasi virus Japanese Encephalitis akan dilakukan di 18 Puskesmas yang ada di Kota Yogyakarta dan dapat diakses secara gratis oleh masyarakat.

Pemkot Yogya Gelar Vaksinasi Japanese Encephalitis September Ini
Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani ketika memberikan keterangan kepada awak media di Balaikota Yogyakarta pada Selasa (27/2/2024). (tirto.id/Rizal Amril)

tirto.id - Pemerintah Kota Yogyakarta berencana untuk melakukan vaksinasi gratis virus Japanese Encephalitis untuk anak-anak pada 2024 ini. Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani, menyatakan bahwa program ini akan diperuntukkan bagi anak dengan rentang usia 9 bulan hingga 15 tahun di Kota Yogyakarta.

"Dan itu akan dilaksanakan mulai bulan September 2024," ujar Emma di Balaikota Yogyakarta pada Selasa (27/2/2024).

Emma menuturkan bahwa program vaksinasi tambahan virus Japanese Encephalitis ini akan dilakukan selama dua bulan, yakni pada bulan September dan Oktober 2024. Namun, khusus bagi balita berusia 10 bulan akan diberikan satu dosis vaksin pada November setelahnya.

Emma juga menuturkan bahwa, melalui pendataan yang dilakukan Dinas Kesehatan, program vaksinasi virus Japanese Encephalitis di Kota Yogyakarta akan diperuntukkan bagi 72.322 anak.

"Saat ini kami sudah melakukan pendataan untuk sasaran vaksinasi JE, yang ditargetkan 72.322 anak," ujarnya.

Rencananya, vaksinasi akan dilakukan di 18 Puskesmas yang ada di Kota Yogyakarta dan dapat diakses secara gratis oleh masyarakat.

Sebelumnya, vaksinasi virus Japanese Encephalitis telah dilakukan Pemerintah Indonesia sejak 2018 lalu. Wilayah pertama yang mendapatkan vaksinasi massal adalah Provinsi Bali dan diikuti oleh Kalimantan Barat pada 2023.

Emma menuturkan, pada tahun 2024 ini, Daerah Istimewa Yogyakarta mendapatkan jatah vaksinasi massal setelah ditemukannya 13 kasus infeksi virus Japanese Encephalitis di Provinsi DIY.

"Pada 2024, [vaksinasi] diperluas lagi di DIY karena memang di Provinsi DIY ada 13 kasus," ujarnya.

Japanese Encephalitis merupakan penyakit radang otak yang disebabkan oleh virus Japanese Encephalitis. Persebaran virus ini, jelas Emma, dilakukan melalui perantara nyamuk.

Berdasarkan catatan Layanan Kesehatan Inggris (NHS), penyakit ini ditemukan di beberapa kawasan Asia dan Pasifik seperti India, Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, dan Indonesia.

Lebih lanjut Emma menuturkan bahwa penyakit radang otak pada infeksi virus Japanese Encephalitis ditandai dengan beberapa gejala seperti demam tinggi, muntah-muntah, diare, dan kejang pada anak.

Akan tetapi, Emma juga menuturkan bahwa penyakit Japanese Encephalitis mungkin terjadi tanpa gejala sama sekali.

“Tanda dari gejala ini biasanya muncul pada empat sampai 14 hari setelah gigitan nyamuk, dengan gejala utama demam tinggi,” katanya.

Sejauh ini, Emma menuturkan bahwa belum ada obat bagi penyakit ini, “Namun dapat dicegah dengan pemberian imunisasi JE,” ujarnya.

Emma berharap bahwa program vaksinasi tambahan massal di Kota Yogyakarta nantinya dapat diakses oleh seluruh 72.322 anak berusia 9 bulan hingga 15 tahun yang tercatat dalam data Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta. “Targetnya 100 persen dapat terimunisasi ya,” tuturnya.

Baca juga artikel terkait VAKSINASI atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Kesehatan
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Maya Saputri