Orde Baru Ternyata Masih Ada

Oleh: Arlian Buana - 28 Juni 2016
Dibaca Normal 3 menit
Lebih dari 50 tahun sejak peristiwa G30-3, komunis masih dianggap sebagai hal yang mengancam negeri ini. Hal-hal yang berbau komunis masih diberangus. Termasuk buku-buku, diskusi-diskusi yang berbau kiri, tetap tak bisa leluasa beredar di negeri ini.
tirto.id - Pria itu tak punya tampang membahayakan negara. Raut mukanya condong lembut, beberapa teman perempuannya menggolongkannya sebagai komunis alias lekong muka manis. Beberapa orang mungkin akan segera bilang bahwa penampilan bisa menipu, bagaimana kesehariannya?

Telah lebih dari satu dasawarsa ia mengabdikan hidupnya di komunitas kolektif Ultimus. Bersama Ultimus, ia awalnya merintis toko buku, warung internet, memfasilitasi berbagai kegiatan mahasiswa di Bandung, bahkan menampung mahasiswa-mahasiswa yang kekurangan uang untuk biaya tempat tinggal. Dari usaha kecil-kecilan toko buku, ia kemudian mengembangkan penerbitan. Kembang-kempis juga nasibnya. Tapi ia bersetia di jalan itu.

Ia pria yang suka membuat lelucon. Kadang lucu, lebih sering garing. Tapi ia periang tanpa batas. Ia selalu bisa tertawa di situasi yang paling serius di antara teman-temannya sekalipun. Setidaknya ia berusaha melucu, lalu meneruskan dengan tawanya sendiri yang pecah duluan. Peduli setan apakah teman-temannya ikut tertawa atau tidak. Ia suka tertawa.

"Kalau kau dituduh berbau komunis, segeralah mandi," katanya suatu ketika. "Dan kalau sebagai jomblo kau dituduh tidak bahagia, segeralah ledakkan revolusi."

Barangkali itulah rahasianya menjadi awet muda. Di usianya yang pertengahan 30-an, ia masih seperti lelaki pertengahan 20-an. Bilven Rivaldo Gultom atau yang lebih dikenal sebagai Bilven Sandalista. Di bulan puasa seperti ini, ia tak bosan-bosan mengingatkan banyak orang di media sosial agar “berbuka dengan yang marxis-marxis.”

Bilven mendirikan Ultimus pada 2004. Komunitas ini dimaksudkannya untuk pengembangan pemikiran kritis di Bandung. Dan, ya, Bilven dan Ultimusnya memang sengaja menceburkan diri mengkaji pemikiran-pemikiran Karl Marx dan para pengikutnya.

Di tahun-tahun awalnya, Bilven menghidupkan toko buku Ultimus dengan beragam aktivitas komunitas. Tempat itu menjadi semacam lokus pertemuan mahasiswa-mahasiswa Bandung, dari sekadar ngopi dan ngobrol-ngobrol santai higga diskusi berat. Banyak acara digelar atas kerja sama Ultimus dengan komunitas-komunitas lain, di antaranya pertunjukan musik, pemutaran film, pameran foto, workshop jurnalistik, diskusi sastra, politik, filsafat, agama, HAM, sejarah, dan lain-lain.

Perkembangan kegiatan komunitas ini ternyata tidak serta-merta diikuti oleh berkembangnya toko buku Ultimus. Tahun-tahun itu pasokan buku-buku kritis menurun drastis. Penerbit-penerbit alternatif banyak berguguran. Penerbit yang masih bertahan pun produktivitasnya menurun tajam. Angin perbukuan Indonesia sedang kurang berpihak pada penerbit buku-buku pemikiran. Situasi ini membuat Bilven berpikir bahwa Ultimus tidak bisa lagi bertahan dengan format toko buku. Kalau ingin tetap menjaga keberlangsungan kegiatan komunitas, jaringan, dan tetap berjuang di dunia literasi, satu-satunya pilihannya ketika itu ialah merintis penerbitan

Bilven akhirnya berani mengambil risiko masuk ke bisnis perbukuan—yang sebenarnya tidak begitu menguntungkan. Pertimbangan lain yang meneguhkan keputusan itu: jika toko buku hanya memungkinkan penyebarluasan gagasan melalui kegiatan komunitas di Bandung saja, dengan penerbitan diharapkan persebarannya semakin meluas mengikuti buku-buku yang diterbitkan. Kegiatan jaringan dan komunitas pun diharapkan bisa lebih luas dengan menyelenggarakan acara diskusi atau peluncuran buku di berbagai kota, atau bahkan kerja sama pendistribusian buku.

Di jalur penerbitan pun, tak berbeda dengan toko bukunya, Bilven memilih belok kiri, mengambil jalan kiri dengan menerbitkan buku-buku kiri. Ada dua kategori naskah yang mereka cetak. Pertama, naskah yang berkaitan dengan literatur Marxisme: terjemahan dari karya-karya Karl Marx, Friederich Engels, Georgi Plekhanov, dan marxis lainnya. Atau teks-teks ilmiah di bidang ilmu tertentu yang ditulis dengan perspektif Marxisme. Kedua, naskah yang berkaitan dengan sejarah kelam Tragedi 1965: buku sejarah atau analisa ekonomi politik terkait Peristiwa 1965, memoar atau catatan harian para eks-tapol dan eksil, atau karya-karya klasik seniman Lekra.

"Masih banyak orang yang berangkat dari ketidaktahuan akan marxisme, yang berujung menjadi kebencian atau ketakutan,” kata Bilven. “Kami ingin mengalahkan ketakutan dan menghilangkan kebencian tak berdasar itu," katanya.

Pada 14 Desember 2006, Bilven dan Ultimus sempat membuat geger Bandung hingga diliput banyak televisi nasional. Hanya karena mereka yang hanya mengadakan diskusi bertajuk “Gerakan Marxis Internasional”. Oleh orang-orang yang mengusung bendera Persatuan Masyarakat Antikomunis atau Permak, Bilven dianggap mengganggu ketertiban masyarakat dan akan melakukan tindakan makar terhadap negara.

Malam itu hujan rintik-rintik di Lengkong Besar, Bandung, tempat toko ultimus Ultimus berada. Di depan Ultimus, sekelompok orang berseragam hitam-hitam lalu-lalang. Ada yang berdiri bergerombol, ada juga yang jongkok di pinggir jalan.

Diskusi berjalan dimoderatori Sadikin, salah seorang kru Ultimus dan ketua panitia acara. Pembicaranya Marhaen Soepratman, seorang aktivis serikat buruh yang saat itu masih kuliah di Kanada. Peserta diskusi tampak antusias. Tiba-tiba seseorang merampas mikrofon dari tangan Marhaen. Orang itu Adang Supriadi, Ketua Permak.

“Ajaran komunis sudah tidak relevan lagi dibicarakan! Orang tua saya dibunuh oleh PKI (Partai Komunis Indonesia)! Jadi, Saudara-saudara, acara semacam ini harus dihentikan!” kata Adang. Sorot matanya tajam memancarkan kemarahan.

Suasana semakin ricuh ketika puluhan anggota Permak merangsek masuk, menendang-nendang bangku, meneriaki para peserta diskusi. Peserta diskusi kalang-kabut, mereka kebingungan sekaligus ketakutan dan segera melarikan diri ke luar tempat diskusi.

Orang-orang Permak membekuk Sadikin dan Marhaen bersama sebelas orang lainnya. Mereka diamankan ke dalam mobil lalu dibawa ke markas Kepolisian Wilayah Kota Besar (Polwiltabes) Bandung. “Mereka dijerat dengan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1999 tentang makar dan kejahatan yang berhubungan dengan keamanan negara,” kata Arief Ramdhani, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polwiltabes Bandung.

Sejam kemudian polisi datang ke TKP, menyita barang-barang yang dianggap sebagai barang bukti: pengeras suara, buku-buku, dan beberapa kaos yang diproduksi Ultimus. “Mana yang namanya Bilven?” tanya seorang polisi.

Bilven melarikan diri. Kantor Ultimus disegel. Sementara orang-orang Permak yang memicu keributan justru tenang-tenang saja. Dianggap pahlawan malah.

“Saya tidak mengerti tuduhan mereka. Mungkin saya dituduh komunis karena saya miskin,” kata Bilven keesokan harinya kepada Mulyani Hasan, kontributor Majalah Pantau. “Berdasarkan informasi dari orang-orang terdekat saya, ada banyak orang tak dikenal mencari-cari saya. Saya belum merasa aman.” Sejak saat itu Bilven tinggal berpindah-pindah.

Hampir sepuluh tahun telah berlalu. Kenyataan yang harus dihadapi Bilven masih tak jauh berbeda. Gelombang pembubaran terhadap diskusi-diskusi kiri makin kerap terjadi. Bahkan penyitaan-penyitaan terhadap atribut-atribut kiri disponsori negara, dilakukan oleh aparat negara.

“Ternyata orde baru masih ada,” katanya.


Baca juga artikel terkait ORDE BARU atau tulisan menarik lainnya Arlian Buana
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Arlian Buana
Penulis: Arlian Buana
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Artikel Lanjutan
DarkLight