Nortier Simanungkalit, Raja Mars dari Tapanuli

Oleh: Iswara N Raditya - 9 Maret 2018
Dibaca Normal 3 menit
Nortier Simanungkalit adalah pencipta lagu SKJ, mars Pemilu, hingga mars Palang Merah Amerika. Ratusan komposisi telah digubahnya.
tirto.id - “Musik-musik rock, hard rock, metal, yang hanya mementingkan unsur ritme saja adalah racun!” tukas Pak Kalit suatu kali.

“Melodi tidak ada, jadi tidak ada yang mengalir. Timbre juga tidak ada, hanya keyboard dan gitar. Warna string tidak ada,” tambah musisi bernama lengkap Nortier Simanungkalit ini, seperti dilansir Kompas (22/8/1999).

Pak Kalit sebenarnya tidak enek-enek amat dengan lagu cadas. Ia bahkan menganalogikan musik sejenis itu layaknya vitamin dan bisa menyehatkan, tentunya jika dikonsumsi dalam dosis yang tepat dan tidak berlebihan.

“Kalau hanya makan vitamin saja dan kebanyakan, ia menjadi racun,” kata Pak Kalit.

Jagoan Mars dan Himne

Saat diwawancarai majalah Gatra (16/4/2004), Nortier Simanungkalit kembali mengkritik selera musik kaum muda. Kali ini bukan rock yang kala itu memang sedikit meredup gaungnya di ranah permusikan tanah air, giliran dangdut yang menjadi sasarannya.

“Saya lihat, anak-anak muda sekarang cenderung ke dangdut. Maka, jadinya seperti engkau lihat sekarang ini, situasinya sangat buruk,” cibir Pak Kalit.


Generasi kekinian barangkali menyebut Nortier Simanungkalit sebagai musisi usang, musisi kuno, atau musisi zaman old. Ya, memang seperti itu. Dalam hal selera musik, ia orang yang konservatif.

Pak Kalit adalah seniman sekaligus akademisi, yang berkarya dengan pemikiran, tidak sekadar menghasilkan lagu tanpa perhitungan.

Bagi musisi kelahiran Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, tanggal 17 Desember 1929 ini, mars adalah induk dari semua lagu. Mars adalah komposisi musik dengan irama teratur dan kuat, ritmenya menggebu-gebu, penuh semangat, cepat, dan menghentak.

Dari lebih 200 lagu karya cipta Pak Kalit, beberapa di antaranya memang berjenis mars. Ia adalah pencipta mars sekaligus himne SEA Games 1979, atas permintaan mantan Wakil Presiden RI yang saat itu menjabat Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Indonesia memang menjadi tuan rumah pesta olahraga terbesar se-Asia Tenggara tersebut.


Pak Kalit mengaku sempat kesulitan meramu nada yang pas dan selaras dengan karakter Indonesia, terlebih yang meminta adalah Raja Yogyakarta. Lama berpikir keras, belum juga didapat ide yang dirasanya tepat. Hingga suatu hari, ketika Pak Kalit sedang naik bus kota, mendadak rumusan lagu itu muncul.

Sampai di rumah, Pak Kalit segera mengulik konsep awal itu. Cukup lama ia menggurat notasi, dari jam 2 siang dan baru selesai pukul 10 pagi keesokan harinya.

“Sampai pegal tangan saya. Lagunya khas Jawa. Laras pelog untuk mars, selendro buat himne,” ujarnya, seperti dikutip dari tokoh.id.

Dua pucuk tembang monumental pun tercipta untuk SEA Games 1979. Satu mars, satu lagi himne. Berbeda dengan mars, himne berjenis lagu puja-puji untuk memberi kesan agung atau rasa syukur. Maka, himne terkesan lebih sakral ketimbang mars yang memicu semangat.


Karya cipta Pak Kalit untuk SEA Games 1979 ternyata menuai apresiasi positif. Banyak instansi yang memintanya untuk dibuatkan mars dan himne, termasuk Departemen Perhubungan, maskapai penerbangan Merpati Nusantara, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dan lainnya. Ia juga pencipta himne Golkar, Partai Demokrasi Indonesia (PDI), dan masih banyak lagi.

Tak hanya di level nasional, Nortier Simanungkalit juga menciptakan lagu himne Palang Merah Amerika Serikat pada 1999 dan dianugerahi penghargaan berupa medali Special Recognition.

Dari SKJ sampai Pemilu

Setelah kekuasaan Soeharto tumbang pada 1998, Indonesia berbenah dan berusaha melakukan reformasi di segala sektor. Jelang Pemilihan Umum (Pemilu) 1999, Nortier Simanungkalit diminta mencipta lagu baru untuk menggantikan mars Pemilu yang sebelumnya sangat familiar terdengar selama rezim Orde Baru.

Lagu lama itu ditulis Mochtar Embut dan untuk pertama kalinya diperdengarkan dalam menyongsong Pemilu 1971. Liriknya masih terngiang-ngiang karena mars Pemilu ini senantiasa dikumandangkan, lewat RRI juga TVRI: Pemilihan umum telah memanggil kita / Seluruh rakyat menyambut gembira / Hak demokrasi Pancasila / Hikmah Indonesia merdeka dan seterusnya.


Pak Kalit menerima tantangan dari Lembaga Pemilihan Umum untuk membuat lagu Pemilu yang baru, yang lepas dari bayang-bayang masa lalu. “Tawaran itu saya terima, karena saya yakin pemilu merupakan jalan keluar terbaik dari semua problem kita sekarang,” ucapnya dalam Majalah Gamma (Volume 1, 1999), yang dikutip Historia.id.

“Dan yang paling pokok,” imbuh Nortier Simanungkalit menegaskan, “jangan ada lagi tipu-menipu seperti dulu.”

Tak hanya mars dan himne saja yang terlahir dari kepiawaian Pak Kalit merancang nada. Salah satu karya fenomenalnya yang masih lekat dalam ingatan generasi 1980 dan 1990-an adalah lagu Senam Kesegaran Jasmani (SKJ).

Ini semacam musik wajib untuk mengiringi senam di berbagai kalangan, termasuk anak-anak sekolah ketika mata pelajaran olahraga. Tak tanggung-tanggung, Pak Kalit mencipta lagu SKJ dari versi tahun 1984, 1988, 1992, dan 2000. Selain itu, ia juga menggubah lagu Senam Pagi Indonesia yang pertama kali diperkenalkan pada 1976.

Musisi Lintas Profesi

Nortier Simanungkalit bertahan di kampung halamannya, Tarutung, sejak kecil hingga remaja. Baru menjelang SMA, ia merantau ke Yogyakarta, kemudian kuliah di Fakultas Pedagogi Universitas Gajah Mada (UGM). Di kota pelajar inilah, minat Nortier terhadap musik semakin tinggi dan kemampuannya pun terasah.

Saat masa Revolusi, Nortier sempat pulang ke Sumatera Utara. Di sana, ia turut berjuang mengangkat senjata, melawan Belanda yang berambisi ingin berkuasa kembali.


infografik nortier simanungkalit


Dikutip dari tulisan Tigor Agustinus Simanjuntak yang pernah menjadi staf Nortier Simanungkalit, awalnya Nortier bergabung dengan Laskar Rakyat di Tarutung pada 1945. Beberapa bulan berselang, ia masuk Tentara Republik Indonesia (TRI), ditugaskan di Sibolga dan Batangtoru.

Selanjutnya, Nortier menjadi anggota Tentara Pelajar sebagai Komandan Pelajar Pembela Pancasila (P3S) pada 1947-1948. Ia bahkan masuk Staf TNI selama perang gerilya dan menjadi Komandan Tentara Pelajar Tapanuli hingga 1954.

Namun, ia tidak melanjutkan kariernya di ketentaraan dan memilih kembali ke Yogyakarta, tempat berkumpulnya para seniman. Bersama Umar Kayam, seperti dilaporkan Suara Pembaruan (30/11/1999), Nortier merintis pembentukan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UGM pada 1955. Ia juga mendirikan banyak kelompok paduan suara lainnya.

Sempat menjadi guru seni suara di sebuah SMA di Yogyakarta, juga dosen di Solo yang merupakan kota kelahiran istrinya, Nortier merambah karier ke bidang lain meski tetap tidak jauh-jauh dari musik. Pada 1966, ia diangkat menjadi Kepala Dinas untuk Sub Direktorat Musik di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang dijalaninya hingga 1979.

Sejak 1968, tanggung jawab Nortier bertambah dengan menjabat sebagai President of The Indonesian Music Committee (hingga 1979) serta anggota International Music Council UNESCO (hingga 1981). Dalam kapasitasnya itu, ia kerap menyampaikan ceramah tentang musik di berbagai forum di luar negeri.

Tidak terhitung berapa lagu yang pernah diciptakan Nortier. Tapi yang jelas, ia telah menggubah lebih dari 200 tembang, itu belum termasuk tidak kurang dari 300 aransemen untuk paduan suara, piano, dan orkestra. Seabrek penghargaan pun pernah diraihnya, baik penghargaan sebagai pejuang kemerdekaan maupun pejuang musik nasional.


Pak Kalit memang tidak terlalu cocok dengan musik rock dan semacamnya. Namun, jiwanya tetap saja muda, usianya panjang, dan mampu bertahan lama secara konsisten di jalur musik yang dipilihnya.

“Jelas, saya akan terus berkarya. Selama Tuhan masih kasih saya hidup, saya akan terus berkarya,” tegas Nortier Simanungkalit saat diwawancarai Lambertus Hurek pada 2007. Waktu itu, umur Nortier sudah memasuki 79.

Ya, Pak Kalit memang terus berkarya sampai ia tak sanggup lagi, hingga ajal menjemput. Sang Raja Mars dari Tarutung ini wafat pada 9 Maret 2012, tepat hari ini 6 tahun lalu, dalam usia 82. Ia meninggalkan warisan berharga: karya-karya yang abadi.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Musik)

Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Ivan Aulia Ahsan