25 Mei 1958

Aksi Ismail Marzuki Menjaga Martabat Negeri

Oleh: Iswara N Raditya - 25 Mei 2017
Dibaca Normal 3 menit
Ismail Marzuki adalah seniman sekaligus pejuang yang namanya melegenda sebagai pencipta lagu-lagu bertema perjuangan yang mengabadi hingga kini.
tirto.id - Seorang pria setengah baya duduk tenang di dalam gerbong kereta yang melaju kian menjauh dari Jakarta. Seolah tak peduli dengan guncangan yang kadang terasa, tangannya tetap bekerja, menggerak-gerakkan pena. Sesekali ia terdiam, berpikir sejenak, kemudian menulis lagi.

Tiba di kota tujuan, tuntas juga pekerjaannya. Di secarik kertas putih yang sudah lusuh itu tertulis baris-baris lirik tembang yang diberinya judul: “Sepasang Mata Bola”.

Ya, “Sepasang Mata Bola”, lagu bernada kalem yang serasa punya efek magis. Inilah salah satu tembang yang paling mujarab untuk memantik semangat para pejuang dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ambisi Belanda yang ingin berkuasa kembali.

Bertempur Lewat Lagu

Ismail Marzuki merumuskan lirik “Sepasang Mata Bola” dalam suatu perjalanan pada 1946. Hal tersebut diungkapkan oleh Yusuf Ronodipuro yang bersama Ismail menumpang kereta dari Jakarta menuju ibukota RI kala itu, Yogyakarta (Alwi Shahab, Ismail Marzuki: Santri yang Melegenda Lewat Lagu Perjuangan, dalam Republika, 2016)

Nantinya, Yogyakarta menjadi ajang perang pejuang republik melawan Belanda, menjadi lokasi pertempuran heroik yang melegenda dengan nama Serangan Umum 1 Maret 1949. Coba simak sebait lirik “Sepasang Mata Bola” berikut ini:

Sepasang mata bola
Dari balik jendela
Datang dari Jakarta
Menuju medan perwira

Memang demikian adanya. Ismail Marzuki datang dari Jakarta menuju kota yang ternyata benar-benar menjadi medan perwira.

Tentang sosok musisi legendaris Indonesia lainnya, baca: Seniman-Pejuang WR Soepratman.

Meskipun dikenal sebagai seniman atau musisi, Ismail nyatanya nyaris selalu ada manakala terjadi pertempuran. Misalnya di Jakarta pada awal September 1945 saat NICA (Belanda) datang, juga ketika meletusnya peristiwa Bandung Lautan Api di medio Maret 1946.

Sikap perlawanan juga pernah ia tunjukkan sewaktu Belanda mengambil-alih Radio Republik Indonesia (RRI) di Jakarta dan menggantinya dengan nama Radio Omroep In Overgangstijd (ROIO) pada akhir 1946.

Ismail Marzuki yang memang kerap mengisi siaran musik di RRI dirayu agar mau bekerja di ROIO. Belanda menawarkan gaji besar, mobil, dan berbagai fasilitas lainnya. Namun, semuanya itu ia tolak dengan tegas (Ahmad Naroth, Bang Ma’ing Anak Betawi, 1982).

Daripada bekerjasama, terlebih lagi bekerja untuk kepentingan Belanda, Ismail memilih hengkang dari RRI yang telah berubah wujud menjadi ROIO itu. Begitulah cara yang ia lakukan untuk menjaga harga diri dan martabat negeri.

Ismail Marzuki kembali mengabdi untuk RRI setelah penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada pemerintah RI pada penghujung tahun 1949.

Misteri “Halo-halo Bandung”

Melalui lagu-lagu ciptaannya, Ismail Marzuki menggelorakan spirit para pejuang republik untuk terus berjuang mempertahankan martabat bangsa. Cukup banyak karya ciptanya yang mengangkat tema perjuangan dan nasionalisme selain “Sepasang Mata Bola”.

Sebutlah tembang “Gugur Bunga”, “Rayuan Pulau Kelapa”, “Bandung Selatan di Waktu Malam”, “Karangan Bunga dari Selatan, “Selamat Datang Pahlawan Muda”, “Indonesia Pusaka”, dan barangkali “Halo-halo Bandung”.

Namun, ada catatan khusus tentang “Halo-halo Bandung”. Siapa sebenarnya pencipta lagu ini memang masih menjadi misteri meskipun nama Ismail Marzuki-lah yang paling diyakini sebagai orang yang menggubah lagu tersebut.

Ada beberapa alasan mengapa banyak yang mempercayai bahwa lagu “Halo-halo Bandung” memang diciptakan oleh Ismail Marzuki.

Pertama, Ismail Marzuki adalah seorang komponis andal yang memang sudah menciptakan banyak lagu perjuangan. Lagipula, ia masih berusia produktif saat peristiwa Bandung Lautan Api terjadi pada 23-24 Maret 1946.

Kedua, ia pernah bermukim di Bandung. Bersama istrinya yang memang orang Bandung, ia menetap di Bandung selatan, tempat terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api (Christiawan Bayu Respati, Peran Ismail Marzuki dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia, 2016).

Ketiga, cukup banyak tembang ciptaan Ismail Marzuki yang menyinggung kota kembang, sebut saja “Bandung Selatan di Waktu Malam”, “Lenggang Bandung”, “Saputangan dari Bandung Selatan”, hingga lagu berbahasa Sunda, “Panon Hideung”.

(Baca juga: Kematian Misterius Jagoan dari Bojongsoang)

Namun, tidak sedikit pula yang menyangsikan Ismail Marzuki sebagai pencipta lagu “Halo-halo Bandung”. Salah satu bantahan terkuat adalah bahwa lagu-lagu karya Ismail lebih sering berirama lembut, teduh, menyejukkan, bahkan terkadang mengharukan semacam “Rayuan Pulau Kelapa”, “Sepasang Mata Bola”, “Juwita Malam”, “Indonesia Pusaka”, atau “Gugur Bunga” yang menyayat hati itu.

Sedangkan karakter “Halo-halo Bandung” sangat berbeda dengan karya Ismail lainnya. Lagu ini memacu gairah, menambah semangat, menghentak dengan ritme cepat. Ia kadung dikenal sebagai pencipta lagu yang penuh emosi dan bergaya romantik (Hardani, Ismail Marzuki: Komponis Lagu-lagu Perjuangan, 2006).

Infografik Ismail Marzuki

Putra Bangsa Kebanggaan Betawi

Ismail Marzuki adalah orang Betawi asli. Ia dilahirkan pada 11 Mei 1914 di Kampung Senen, Kwitang, yang kini termasuk wilayah Jakarta Pusat. Nama aslinya hanya Ismail saja sebetulnya yang kemudian ia tambahkan dengan nama ayahnya, Marzuki. Sejak itulah, nama Ismail Marzuki selalu melekat pada dirinya.

Oleh orang-orang di sekitar rumahnya, Ismail disapa dengan panggilan Mail atau Maing. Sedangkan oleh orang-orang Belanda yang kerap mendengar suara merdunya kala bernyanyi, Ismail dipanggil Benjamin atau Ben (Ninok Leksono, Seabad Ismail Marzuki, 2014).

Mail memang sudah menyukai kesenian sejak kecil. Itu berasal dari sang ayah yang memang sering memainkan rebana dan acapkali memainkan musik keroncong, juga gambus. Bakat Mail kian terasah setelah berinteraksi dengan Perkumpulan Kaum Betawi, organisasi masyarakat yang bergerak di bidang kebudayaan, termasuk musik.

Meskipun sempat pula aktif di gerakan Kepanduan (cikal-bakal Pramuka), namun jalan hidup Mail memang seolah ditakdirkan untuk menjadi seorang seniman. Tahun 1931 atau ketika berusia 17 tahun, Ismail bergabung dengan Lief Java, grup musik ternama yang sudah berdiri sejak tahun 1918 dengan nama awal Rukun Agawe Santoso.

(Baca juga: Dari Pramuka, Mereka Kini Jadi Legenda)

Semasa di Lief Java itulah Ismail Marzuki berhasil menciptakan lagu untuk pertamakalinya yang ia beri judul “O Sarinah”. Bersama Lief Java, nama Ismail sebagai musisi semakin dikenal. Ia kerap tampil dalam acara-acara yang dihelat orang-orang Belanda saat itu, juga sering mengisi siaran musik di radio.

Pergaulannya pun sangat luas. Tidak hanya dengan sesama orang Betawi atau orang pribumi saja, Ismail Marzuki punya banyak teman dan kolega dari kalangan bangsa Belanda juga kaum peranakan Cina maupun Arab yang tinggal di Hindia (Indonesia) kala itu.

Meskipun begitu, bukan berarti Ismail Marzuki rela negerinya dijajah. Hanya saja, situasi saat itu memang belum memungkinkan untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan karena pemerintahan kolonial Hindia Belanda masih sangat kuat berkuasa.

Ketika Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, ia turut bergabung dengan rekan-rekan pejuang meskipun bukan berasal dari kalangan militer. Ia memilih berjuang sesuai dengan kapasitasnya sebagai seniman, yakni menciptakan lagu bertema perjuangan dan mengabdikan diri untuk RRI yang dibentuk tak lama setelah Indonesia merdeka.

Sayang, umur Ismail Marzuki tidak terlalu panjang. Tanggal 25 Mei 1958, atau 59 tahun yang lalu, ia wafat pada usia 44 tahun karena penyakit yang menyerang paru-parunya. Taman Ismail Marzuki (TIM) pun didirikan untuk mengenang seniman-pejuang yang menghasilkan banyak karya monumental ini.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti