Khotbah Jumat

Naskah Khutbah Jumat: Makna Peringatan Maulid Nabi Bagi Umat Islam

Oleh: Dhita Koesno - 15 Oktober 2021
Dibaca Normal 3 menit
Contoh naskah khutbah Jumat hari ini tentang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan apa saja amalan yang bisa dilakukan.
tirto.id - Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


اَلْحَمْدُ للهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ،


Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Alhamdulilah pada kesempatan Jumat yang berbahagia ini, kita kembali dipertemukan insya Allah dalam keadaan sehat walafiat baik jasmani maupun rohani sehingga bisa berkumpul lagi dalam majelis khotbah Jumat.

Dalam khotbah Jumat yang penuh berkah kali ini, bertepatan dengan menyambut hari lahirnya junjungan kita Baginda Rasulullah Nabi Muhammad SAW, yang jatuh pada 12 Rabiul Awal 1443 atau Selasa, 19 Oktober 2021, maka tema khotbah Jumat yang akan disampaikan mengenai Maulid Nabi, perlukah kita merayakannya dan apa amalan sunah yang bagus kita kerjakan?

Maulid Nabi bukan hanya sebagai tradisi yang positif tapi juga aktivitas yang mengandung nilai ibadah. Saat datang maulid Nabi, ada beberapa amalan sunah yang bagus kita kerjakan. Lalu apa saja itu?

Naskah Khotbah Jumat


Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Merayakan Maulid Nabi telah menjadi tradisi yang berkembang di masyarakat Islam beberapa waktu setelah Nabi Muhammad wafat.

Dalam buku Moch Yunus berjudul "Peringatan Maulid Nabi" disebutkan, di seluruh dunia yang berpenduduk mayoritas Muslim umumnya akan memperingati Maulid nabi.

Namun menariknya di Arab Saudi, di mana satu-satunya negara dengan penduduk mayoritas Muslim, tidak menjadikan Maulid sebagai hari libur resmi.

Alasannya karena mayoritas muslim Arab Saudi menganut paham wahabi dominan termasuk salaf dan pemahaman taliban. Perayaan Maulid Nabi seperti ini dianggap bid’ah.

Sedangkan di Indonesia seperti yang kita tahu bahwa semangat masyarakat Indonesia untuk menyelenggarakan maulid, bisa dimaklumi.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Mengutip laman NU Online, di antara perkara yang dinilai baik oleh kaum muslimin dari masa ke masa dan disepakati sebagai sesuatu yang disyariatkan adalah merayakan Maulid Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Merayakan Maulid termasuk kebaikan yang diganjar pahala yang agung. Sebab dengan peringatan maulid, seseorang menampakkan suka cita dan kebahagiaan atas kelahiran Nabi yang mulia.

Peringatan maulid, meskipun tidak pernah dilakukan di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun ia termasuk bid’ah hasanah yang disepakati kebolehannya oleh para ulama.

Peringatan maulid pertama kali dilakukan di awal abad ke tujuh hijriah oleh raja al-Muzhaffar, seorang raja yang mujahid, berilmu dan bertakwa. Beliau adalah penguasa Irbil, salah satu wilayah di Irak.

Dalam peringatan maulid yang ia laksanakan, ia mengundang banyak para ulama di masanya. Mereka semua menganggap baik apa yang dilakukan oleh raja al-Muzhaffar. Mereka memujinya dan tidak mengingkarinya.

Para pecinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbahagia,

Para ulama sepeninggal raja al-Muzhaffar juga tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengingkari peringatan maulid.

Bahkan al-Hafizh Ibnu Dihyah dan lainnya menulis karangan khusus tentang maulid. Peringatan maulid juga dinilai bagus oleh al-Hafizh al-‘Iraqi, al-Hafizh Ibnu Hajar, al-Hafizh as-Suyuthi dan lainnya.

Hingga kemudian pada sekitar 200 tahun yang lalu, muncul sekelompok orang yang mengingkari peringatan maulid dengan keras.

Mereka mengingkari perkara yang dinilai baik oleh umat Islam dari masa ke masa selama berabad-abad lamanya.

Mereka menganggap bahwa peringatan maulid adalah bid’ah yang sesat.

Mereka berdalih dengan sebuah hadis yang mereka tempatkan tidak pada tempatnya, yaitu hadis كُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ (Setiap perkara baru yang tidak pernah dilakukan pada masa Nabi adalah bid’ah).

Hadis ini memang sahih. Akan tetapi maknanya tidaklah seperti yang mereka katakan.

Para ulama menjelaskan, makna hadis tersebut bahwa perkara yang dilakukan sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bid’ah yang buruk dan tercela kecuali perkara yang sesuai dengan syariat.

Amalan Sunah Maulid Nabi Muhammad


Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Apa yang biasanya dilakukan pada saat perayaan maulid? Yang dilakukan tiada lain adalah hal-hal yang disyariatkan dan dianjurkan untuk dikerjakan.

Yaitu membaca Al-Qur’an, seperti sabda Rasulullah SAW:

“Seorang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala” (HR. Muslim).

Kemudian berzikir, Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اذۡكُرُوۡا اللّٰهَ ذِكۡرًا كَثِيۡرًا

Yaaa aiyuhal laziina aamanuz kurul laaha zikran kasiira

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya," (QS. Al-Ahzab: 41)

Selanjutnya membaca salawat, melantunkan puji-pujian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menjelaskan sejarah hidup Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Sebagaiman baginda Muhammad SAW bersabda:

“Barang siapa di antara umatmu yang bershalawat kepadamu sekali, maka Allah menuliskan baginya sepuluh kebaikan, menghapuskan dari dirinya sepuluh keburukan, meninggikannya sebanyak sepuluh derajat, dan mengembalikan kepadanya sepuluh derajat pula'.” (HR Ahmad).

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Semua yang disebutkan itu adalah kebaikan-kebaikan yang dianjurkan dalam Al-Qur’an dan hadis.

Apakah hal-hal itu jika dikerjakan sendiri-sendiri adalah kebaikan, akan tetapi jika dikerjakan dalam satu rangkaian kegiatan yang diberi nama “Perayaan Maulid”, hukumnya menjadi haram dan bid’ah yang menjerumuskan ke neraka? Wallahu 'alam.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

al Hafizh as-Suyuthi ketika ditanya tentang peringatan maulid Nabi, beliau menjawab:

أَصْلُ عَمَلِ الْمَوِلِدِ الَّذِيْ هُوَ اجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنَ القُرْءَانِ وَرِوَايَةُ الأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِيْ مَبْدَإِ أَمْرِ النَّبِيِّ وَمَا وَقَعَ فِيْ مَوْلِدِهِ مِنَ الآيَاتِ، ثُمَّ يُمَدُّ لَهُمْ سِمَاطٌ يَأْكُلُوْنَهُ وَيَنْصَرِفُوْنَ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذلِكَ هُوَ مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِيِّ وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالاسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ ﷺ

Artinya: “Pada dasarnya peringatan maulid, berupa berkumpulnya orang, membaca Al-Qur`an, meriwayatkan hadis-hadis tentang permulaan sejarah Nabi dan tanda-tanda yang mengiringi kelahirannya, kemudian disajikan hidangan lalu dimakan dan bubar setelahnya tanpa ada tambahan-tambahan lain, adalah termasuk bid’ah hasanah (perkara yang baik, meskipun tidak pernah dilakukan pada masa Nabi) yang pelakunya akan memperoleh pahala, karena itu merupakan perbuatan mengagungkan Nabi dan menampakkan rasa gembira dan suka cita dengan kelahiran Nabi yang mulia” (Disebutkan dalam karya beliau, Husnul Maqshid fi ‘Amalil Maulid).

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Demikian khutbah singkat pada Jumat siang yang penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua. Aamiin allahumma aamiin.


Baca juga artikel terkait NASKAH KHUTBAH JUMAT atau tulisan menarik lainnya Dhita Koesno
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Dhita Koesno
Penyelia: Addi M Idhom
DarkLight