Museum MACAN: Antara Konservasi dan Edukasi Seni

Oleh: Joan Aurelia - 25 Maret 2018
Dibaca Normal 3 menit
Salah satu bentuk edukasinya adalah akan turun ke sekolah-sekolah negeri untuk mengenalkan karya seni.
tirto.id - Dua orang remaja wanita memasuki gerbang AKR Tower, gedung perkantoran di Jakarta Barat yang dibuka sekitar dua tahun lalu. Salah satu dari mereka mengenakan hot pants dengan atasan yang memperlihatkan bagian bahu. “Biasanya yang penampilannya begitu mau datang ke MACAN,” celetuk penjaga gedung yang bertugas menjaga pintu masuk. MACAN yang ia maksud bukan harimau, melainkan dari Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara, museum yang dibuka pada awal November 2017.

Kehadiran MACAN sudah mendapat perhatian dari media luar negeri jauh sebelum tempat itu resmi dibuka. The New York Times dan South China Morning Post pernah memberitakan museum yang didirikan oleh Haryanto Adikoesoemo, pengusaha dan pemilik PT. AKR Corporindo, perusahaan yang bergerak dalam bidang distribusi bahan dasar kimia dan petroleum. Woro-woro tentang MACAN juga tersebar di media sosial dan membuat publik penasaran.

Pendaftaran untuk masuk ke museum dibuka beberapa minggu sebelum ia diresmikan. Tiket laris terjual. Pengelola museum mesti membagi tamu dalam beberapa sesi kunjungan untuk mengantisipasi keramaian. Setiap sesi berlangsung dalam waktu dua jam. Tidak ada toleransi bagi tamu yang terlambat datang.

Pada hari pembukaan, seniman, art dealer, kolektor, dan pecinta seni mengunggah foto karya seni yang ada di museum ini, makin membuat MACAN menjadi topik perbincangan. Mulai saat itu sampai pameran selesai pada tanggal 18 Maret lalu, MACAN didatangi ratusan ribu tamu. Di hari kerja, tamu yang datang rata-rata berjumlah 500 orang. Di akhir pekan, jumlah tamu bisa mencapai 2.000-an.

Mereka datang untuk melihat eksibisi pertama bertajuk Art Turns World Turns. Pameran yang dikuratori oleh Agung Hujatnikajenong dan Charles Esche menampilkan 90 karya seniman Indonesia dan luar negeri. Sebagian besar berbentuk lukisan. Hasil kurasi mereka bisa membuat orang yang berjalan melihat setiap karya, seolah sedang membaca buku sejarah seni di Indonesia. Para kurator menyusun tema karya secara kronologis. Diawali dengan karya Raden Saleh dan diakhiri dengan karya yang lebih kiwari dari Damien Hirst serta Yukinori Yanagi.



Di antara karya awal dan akhir, muncul nama-nama seniman seperti S. Sudjojono, Ahmad Sadali, Srihadi Soedarsono, G.Sidharta, Trubus, Arahmaiani, Heri Dono, Basquiat, Andy Warhol, Ai Wei-Wei, dan Rothko.

Semua karya seni adalah milik Haryanto dan tidak dijual. Sampai hari ini ia memiliki 800-an karya seni yang terkumpul selama 25 tahun terakhir. “Ayah sudah jadi kolektor sebelum saya lahir,” kata Fenessa Adikoesoemo, anak Haryanto sekaligus Chairwoman Yayasan Museum MACAN. Sang ayah mempercayakan pengelolaan museum pada sang anak.

Kami berbincang beberapa hari lalu di kafe yang ada di lantai dasar gedung museum. Kafe jadi pilihan terbaik untuk mengobrol lantaran area museum sedang berantakan. Karya-karya seni yang tadinya ditampilkan dalam pameran sedang dikemas untuk disimpan kembali. Fenessa berkisah bahwa ayahnya telah lama punya keinginan untuk membuat museum. Hal itu baru bisa direalisasikan setelah Fenessa kembali dari studi di Australia.

“Kakak-kakak belum bisa fokus mengurus museum karena masih konsentrasi mengurus AKR,” katanya.

Fenessa punya minat di bidang seni sehingga ia bersedia mengelola museum. Sejak kecil, ia mengikuti sang ayah pergi ke galeri seni dan lelang seni. Saat sekolah dan kuliah di Melbourne, ia mengaku mengisi waktu luang dengan melihat karya seni. Namun ia tetap merasa wajib mempunyai bekal untuk mengelola museum.

Pembekalan diawali dengan kerja paruh waktu di Hirshhorn Museum, Washington (musum tempat Haryanto bertindak sebagai anggota Board of Director) dan Guggenheim Museum. Di dua tempat tersebut Fenessa memperoleh gambaran umum tentang cara mengelola museum. Mulai dari kurasi, konservasi, hingga tata letak museum.

Di MACAN, tugas utama Fenessa ialah mengelola manajemen museum dan mencari dana bagi keberlangsungan museum. Ini terasa pas, sebab latar belakang pendidikan Fenessa adalah bisnis. Untuk program pameran dikelola oleh Aaron Seto, kurator MACAN dan kepala tim edukasi. Tugas lain Fenessa ialah memastikan program edukasi dan konservasi karya terus berlangsung.

infografik museum macan


Edukasi dan Konservasi sebagai Inti MACAN

Di tengah steger-steger dan boks kayu yang tersebar di area museum, Susanne Erhrards duduk di sebuah kursi untuk beristirahat. Susanne ialah konservator karya seni. Hari itu ia bertugas mengecek karya yang hendak disimpan serta mengawasi proses pengemasan karya. Saya menghampirinya dan mengajaknya mengobrol. Ia lalu menceritakan momen mengontak tim seniman Yayoi Kusama untuk menanyakan bagaimana karya Infinity Room hendak ditampilkan dalam ruang pameran dan apakah ada ketentuan khusus.

Infinity Room ialah salah satu instalasi seni yang laris dikunjungi di MACAN. Instalasi ini berbentuk ruang gelap yang dihiasi cahaya bundar warna warni. Setiap orang punya waktu sekitar 20 detik untuk berada di dalam ruang instalasi. Di MACAN, setiap orang yang hendak masuk ke dalam instalasi harus melalui antrian panjang. Waktu 20 detik itu banyak digunakan untuk swafoto.

“Saya harus memastikan kepada setiap seniman bagaimana mereka ingin karyanya ditampilkan ke publik. Saya harus melapor apabila ada karya yang rusak dan menanyakan bagaimana mereka ingin karya mereka dibetulkan. Saya adalah bayang-bayang seniman dan karyanya. Dan hal tersulit ialah mengurus karya seni modern,” kata Susanne.

Kali ini ia akan tinggal selama tiga minggu untuk mengawasi proses pengemasan karya dan mengecek seluruh koleksi milik Haryanto. Sejak MACAN berdiri, setiap bulan Susanne datang ke museum untuk membuat laporan tentang kondisi karya seni. Sampai sekarang ia bekerja sebagai konservator lepas untuk MACAN dan ia bekerja seorang diri.


“Kami berencana membuat laboratorium konservasi di sini. Sekarang masih dalam proses melengkapi segala kebutuhannya,” kata Fenessa. Baginya konservasi karya seni ialah salah satu elemen terpenting tetapi belum banyak menjadi perhatian di Indonesia. Kurangnya tenaga ahli menjadi salah satu kendala konservasi karya.

Peraturan museum yang melarang pengunjung menyentuh atau memotret karya menggunakan flash jadi salah satu cara untuk mempermudah tugas konservator karena bisa mencegah kerusakan karya. Bagi Aprina Murwanti, kepala program edukasi MACAN, peraturan tersebut juga bagian dari edukasi seni. Program edukasi pada masyarakat juga akan diwujudkan dalam aktivitas kerjasama dengan sekolah negeri dalam bentuk kunjungan ke museum dan kunjungan pihak museum ke berbagai sekolah.

“Kami datang ke masyarakat atau komunitas atau asosiasi dan bertanya apa yang bisa kami sediakan untuk mereka. Kami pun punya program educators forum. Dalam forum itu kami mengumpulkan guru dan dosen seni dan bertanya kendala serta kerjasama yang bisa dilakukan. Praktik seni harus inklusif,” kata Aprina yang melengkapi pendapat Fenessa.

“Kami ingin menjadi institusi seni yang fokus ke pendidikan publik," ujar Fenessa.

Baca juga artikel terkait SENI RUPA atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Mild Report)

Reporter: Joan Aurelia
Penulis: Joan Aurelia
Editor: Nuran Wibisono