Mungkinkah Vaksin COVID-19 Tersedia dalam Waktu Tiga Bulan?

Peneliti vaksin di laboratorium Flinders University, Australia, Kamis (2/7/2020). ANTARA FOTO/AAP Image/David Mariuz via REUTERS/aww/cfo
Oleh: Aditya Widya Putri - 29 Juli 2020
Dibaca Normal 3 menit
Vaksin SARS dan MERS belum rampung hingga sekarang, vaksin rubella ditemukan dalam waktu lima tahun, sementara cacar menjadi pandemi selama 15 abad.
Seperti negara lain, Indonesia saat ini tengah dalam upaya menemukan vaksin COVID-19. Mungkin, saking inginnya Indonesia terbebas dari pandemi, Presiden Joko Widodo meminta riset vaksin diselesaikan dalam jangka waktu tiga bulan.

Permintaan itu jelas ditolak oleh Tim Riset Fakultas Kedokteran Unpad. Mungkin yang tidak Jokowi ketahui, pembuatan vaksin jauh lebih susah dibanding membikin masyarakat percaya pada teori konspirasi covid. Kita coba runut catatan sejarah penemuan vaksin dari pandemi yang telah lalu sebagai gambaran panjangnya jalan menemukan penawar penyakit.

Cerita terburuk dimulai dari penelitian tentang vaksin virus corona jenis lain, yakni SARS dan MERS. Kira-kira sudah 18 tahun setelah kasus SARS (2002) dan delapan tahun kasus MERS pertama (2012) ditemukan, hingga kini formula vaksin yang sempurna belum dirilis.

Padahal pengembangan vaksin SARS sudah sampai di uji coba manusia pada tahun 2004. Namun kemudian wabah terlanjur bisa dikendalikan. Perusahaan-perusahaan yang mulanya mensponsori studi mundur dan tak lagi tertarik mengembangkan vaksin.

Dari kacamata bisnis, investasi terhadap penelitian ini jadi tidak menguntungkan. Apalagi penyebaran SARS ketika itu hanya di Asia, sedikit di kawasan Toronto, dan Kanada. Kemudian MERS terbatas di Timur Tengah saja. Akhirnya dana penelitian dialihkan untuk jenis penyakit yang lebih darurat.

Artinya, jika menghitung dari kejadian pertama SARS di tahun 2002, butuh waktu dua tahun agar pengembangan vaksin ini mencapai tahap uji coba klinis. Mundur lagi ke belakang ketika epidemi rubella melanda Amerika Serikat pada periode 1964-1965.

Meski singkat, epidemi ini mencapai 12,5 juta kasus, membuat 20 ribu anak terlahir tuli, buta, dan cacat intelektual. Ada lebih dari dua ribu kematian neonatal dan lebih dari 11 ribu aborsi akibat infeksi rubela pada ibu hamil. Penyakit ini baru bisa dilemahkan dengan penemuan vaksin pertama, lima tahun setelah epidemi (1969).



Kita beralih ke salah satu pandemi terburuk dengan periode terpanjang dalam sejarah: cacar air. Sebelum abad ke-18 gambaran dunia terlalu kelam akibat serangan berbagai wabah penyakit. Kala itu penawar belum ditemukan, dan manusia sepenuhnya bergantung pada keajaiban sistem imun untuk melindungi diri dari penyakit. Infeksi virus ringan sangat mungkin membikin kematian bagi manusia.

Ciri-ciri yang merujuk kepada penyakit cacar sudah muncul sejak abad kedua Masehi di zaman Kekaisaran Romawi Kuno. Pasukan Romawi Kuno yang baru pulang dari perang di Timur menyebarkan penyakit ini ke seantero negeri dan mengakibatkan lima juta korban jiwa.

Wabah serupa merebak lagi pada tahun 251 dan 266 Masehi. Saat masa terburuknya, epidemi tersebut merenggut lima ribu nyawa masyarakat Romawi setiap hari. Di tahun 1790-an epidemi cacar sudah menyebar ke dunia. Di Inggris sebanyak 30 persen orang meninggal akibat penyakit menular ini, terutama anak-anak.

Mereka yang sembuh harus rela kehilangan penglihatan, atau memiliki bekas luka di seluruh badan. Kondisi Inggris saat itu lebih buruk dari hari ini, ketika dunia menghadapi COVID-19. Baru di tahun 1794 seorang dokter Inggris bernama Edward Jenner menemukan vaksin cacar. Penemuannya menjadi perintis vaksin di dunia kesehatan.


Di Balik Proses Pembuatan Vaksin

Dari catatan-catatan sejaran penemuan vaksin di atas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa butuh waktu lebih dari dua tahun, bahkan hingga berabad-abad bagi ilmuwan untuk menemukan formula vaksin yang benar-benar ampuh dan aman untuk melawan suatu penyakit.

Vaksin cacar air ditemukan empat tahun setelah Inggris dilanda epidemi. Berabad-abad sebelum itu orang hanya bisa berpasrah ketika terkena cacar. Sementara vaksin rubella selesai dirancang setelah lima tahun Amerika Serikat bertarung dengan epidemi.

Vaksin SARS dan MERS, belum juga selesai dibuat hingga sekarang. Peneliti menghabiskan waktu selama dua tahun, dan penelitian SARS baru mencapai tahap uji klinis. Jika saat ini vaksin COVID-19 diminta rampung dalam hitungan bulan, agaknya harapan itu mustahil dikabulkan.

Kenapa pembuatan vaksin butuh waktu lama?

Ada banyak tahapan yang harus dilalui sampai vaksin bisa dinyatakan aman untuk diedarkan. Setidaknya menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) peneliti harus melewati empat tahap pengujian. Jalan panjang pembuatan vaksin dimulai dari uji pra-klinis atau pengembangan awal. Calon vaksin diujikan ke hewan untuk melihat respons kekebalan.

Setelah melewati uji pra-klinis, vaksin baru bisa naik ke tahap tiga fase uji klinis pada manusia. Pengujian pada manusia hanya disetujui jika vaksin tidak memiliki efek berbahaya pada hewan coba. Uji klinis fase I masih diujikan dalam sampel kecil manusia, bertujuan untuk menentukan toleransi dan keamanan klinis.

Pada fase II sampel akan diambil dalam jumlah lebih besar untuk menentukan dosis yang optimal dan melihat keamanan klinis lebih detail. Kemudian uji klinis fase III di mana vaksin diuji coba dalam populasi besar terbatas memastikan keamanan klinis dan kemanjuran vaksin. Baru kemudian vaksin siap diedarkan dalam populasi umum.

Tiap fase bisa diselesaikan dalam hitungan bulan, hingga tahunan. Ambil contoh vaksin COVID-19 Sinovac Biotech Ltd.--vaksin kerjasama dengan PT Bio Farma Indonesia Indonesia. Mari bandingkan estimasi dan realisasi pengujian vaksin dalam laporan R&D Blueprint berjudul "Draft landscape of COVID-19 candidate vaccines."




Per 5 Mei 2020 lalu Sinovac mendaftarkan produk mereka masuk pada tahap uji coba 1-2. Saat itu mereka menargetkan uji coba dimulai pada 16 April 2020 pada 744 sampel berusia 18-59. Namun draft terbaru menyatakan mereka baru memulai studi fase 1-2 pada 20 Mei 2020 dengan hanya 422 partisipan.

Pada fase tersebut Sinovac menghabiskan waktu selama dua bulan untuk melakukan uji klinis (dijadwalkan selesai pada 20 Juli 2020 kemarin). Kandidat vaksin dengan tipe platform inactivated + alum ini dijadwalkan masuk tahap uji klinis fase ketiga pada Juli 2020.

Vaksin akan diujikan kepada 8.870 sampel orang berusia 18-59 tahun. Rencananya Indonesia akan menyumbang sampel sebanyak 1.620 orang. Tapi tak bisa dipastikan apakah rencana ini akan berjalan tepat waktu, karena hingga saat ini tak ada tanggal pasti kapan vaksin ini mulai diujikan pada fase ketiga, sementara sekarang sudah memasuki akhir bulan Juli.

Tahap ketiga pengujian vaksin Sinovac diperkirakan rampung pada Oktober tahun depan. Artinya, jika pun sesuai prediksi, fase ketiga uji coba vaksin Sinovac bakal memakan waktu lebih dari satu tahun lamanya.

Jadi buang jauh-jauh harapan tak berdasar bahwa Indonesia akan bebas COVID-19 dalam waktu tiga bulan ke depan. Kita masih harus berdamai dengan tetek bengek protokol kesehatan jika tak mau menambah angka kasus positif di Indonesia.

Baca juga artikel terkait VAKSIN CORONA atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Windu Jusuf
DarkLight